26 Januari 2019
Bunghatta.ac.id. Balairung Caraka Kampus 1 Universitas Bung Hatta beberapa waktu lalu dipenuhi oleh mahasiswa, dosen, dan pimpinan UBH, Kamis (24/1/19). Antusias peserta terlihat ketika mengikuti kuliah umum bersama Ir. Arcandra Tahar, Ph.D. Kuliah umum yang bertajuk "Kearifan Lokal dalam Pengembangan Energi Nagari" itu diselenggarakan oleh BEMM FTI UBH di bawah asuhan Yusrizal Bakar, S.T. M.T, Wakil Dekan FTI. Jefry, Gubernur BEMM FTI, bersyukur dan bertersanjung karena kesediaan Wamen ESDM berkenan hadir di UBH.

Rektor UBH, Prof. Dr. Azwar Ananda, M.A., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sumatra Barat memiliki kekayaan sumber energi terbarukan yang melimpah (air, panas bumi, matahari, gelombang laut, angin) yang mesti dikembangkan untuk memenuhi target pemerintah sejumlah 35.000 MW. Untuk itu, diperlukan sumber daya manusia dan sumber dana yang cukup.Perguruan tinggi yang berperan sebagai pencetak sumber daya manusia harus mampu menghasilkan lulusan yang kompeten.

Konsep membangun nagari berkearifan lokal, bermakna optimalisasi pengolahan potensin energi nagari oleh putra-putri terbaik nagari.

UBH merupakan PTS yang tentu membutuhkan sinergi dengan lembaga pemerintah dan swasta untuk bisa mencapai tujuannya. UBH terletak di tepi pantai dengan potesi energi surya, gelombang laut, dan angin sebagai sumber energi. Tentu, sangat diharapkan dukungan dari Kementrian ESDM terkait dengan hal itu, imbuhnya.

Dr. Hidayat, S.T. M.T, IPM, Dekan FTI UBH, dikesempatan terpisah mengungkapkan FTI akan mengembangkan Rooftop PLTS di atas gedung lantai 4 di Kampus III UBH seluas lebih kurang 800 m2 sehingga dapat menambah pasokan energi, setidaknya untuk kebutuhan sendiri. Demikian juga di Kampus II UBH yang memerlukan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS).

Kuliah umum bersama Ir. Arcandra Tahar, Ph.D dimoderatori oleh Iman Satria S.T. M.T, IPM, dosen Teknik Mesin FTI dan Sekum PII Sumbar. Bersama Iman, bergemuruh tepuk tangan dan pertanyaan bertubi-tubi dari peserta.

Menurut Arcandra pada kesempatan itu, Pengembangan Pusat Listrik Tenaga Geotermal sangat berpotensi di Sumbar. Namun, karena ketidakmengertian masyarakat, sedikit menimbulkan riak-riak.

Beliau menganalogikan dengan naik pesawat terbang yang memiliki tingkat bahaya tinggi. Apakah kita tidak akan naik pesawat, katanya.

Risiko merupakan perkalian kemungkinan dengan bahaya. Secara statistik, tingkat kecelakaan pesawat relatif rendah sehingga traffic pesawat tetap tinggi.

Demikian juga halnya dengan pengembangan PLT Geotermal yang tentu memiliki bahaya tinggi apabila tidak dilakukan secara profesional.

Namun, dengan profesionalitas yang tinggi, peluang terjadinya bahaya PLT Geotermal jadi rendah sehingga risiko juga rendah. Inilah yang kita maksud dengan kearifan lokal, ungkap wamen ESDM itu.

Kehadiran Gubernur Sumatera Barat Prof. Irwan Prayitno dengan ciri khas pantunnya dan Walikota Padang, Mahyeldi Ansarullah, SP., menunjukkan dukungan yang tinggi bagi UBH. Demikian juga dengan kehadiran GM PT Telkom, PT Telkomsel, PT Semen Padang, PT Kunango Jantan, BNI, Pertamina, IMA Chapter Padang, Direktur Politeknik Negeri Padang, Dekan FT Unand sehingga lebih bergengsinya kegiatan tersebut. (Rio)

*foto (Penyerahan plakat kepada Wamen ESDM oleh Rektor UBH)

Dilihat 2368 ,Kali

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media