1 Maret 2019
Bunghatta.ac.id. Dalam rangka mempersiapkan lulusan yang kompetitif dan inovatif, perlu dipersiapkan kurikulum yang mengikuti kebutuhan dan tantangan zaman. Oleh sebab itu, Badan Penjaminan Mutu (BPM) Universitas Bung Hatta menggelar seminar kurikulum dengan tema, "Menyonsong Abad 21 dan Revolusi Industri", Jumat (1/3/19). Sebagai narasumbernya, diundang Prof. Intan Ahmad, Ph.D., Dirjen Belmawa Kemenristekdikti periode sebelumnya, Plt. Rektor Universitas Negeri Jakarta. Acara ini dihadiri oleh pimpinan universitas, Rektor, Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, dan Wakil Rektor III, BAU, dan BAAK. Di samping itu, hadir juga dekan dan direktur pascarsarjana Universitas Bung Hatta, pimpinan prodi, dan dosen yang ditunjuk sebagai task force.

"Revolusi Industri 4.0 merupakan transformasi industri dan inovasi. Oleh sebab itu, penting dirancang kurikulum di perguruan tinggi dengan mempertimbangkan kebutuhan zaman anak muda saat ini. Teknologi salah satu basisnya. Tidak hanya itu, keterampilan berbahasa Inggris juga penting,"sebut Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Azwar Ananda, M.A., ketika membuka kegiatan tersebut. Hal tersebut senada dengan yang disampaikan Kepala Badan Penjaminan Mutu (BPM) Universitas Bung Hatta, Dra. Zulfa Amrina, M. Pd., ketika menyampaikan laporannya.

"Menyiapkan tenaga kerja yang unggul Indonesia untuk pekerjaan masa depan disiasati dengan teknologi, robot misalnya. Saat ini, 75-375 juta tenaga kerja global beralih ke industri. Pasar kerja membutuhkan kombinasi berbagai skills yang berbeda dengan yang selama ini diberikan sistem pendidikan tinggi. Kualifikasi utama (skills) yang dibutuhkan employers : positive work habits, comunication, writing, mathematics, english, problem solving, team works, coriosity, creativity, grit, digital awareness, critical and contextual thinking, humanity,"sebut Prof. Intan Ahmad dalam paparannya.

"Kurikulum yang baik harus memberikan nilai yang ideal, yang objektif sehingga mereka bertanggung jawab atas kinerjanya selama di kelas dan praktik di labor ataupun di luar kelas. Yang terpenting bukan nilai lulusnya, melainkan kompetensi apa yang dapat dibawa mahasiswa untuk menghadapi tantangan zaman dan dunia kerja. Di dunia kerja, nilai bukan semata jadi barometer dasar diterimanya seseorang disebuah perusahaan, melainkan keterampilan yang dimiliki dan apa yang sudah pernah dilakukannya selama menjadi mahasiswa,"imbuh Prof. Intan Ahmad.

Berpikir enterpreneur dasarnya adalah sikap proaktif dan tidak menyalahkan lingkungan sehingga mengurangi komplain dan mencari jalan keluar dengan bertindak. Saat ini, 'literasi baru' terdiri atas tiga hal. Pertama, literasi data, yakni kemampuan untuk membaca, analisis, dan menggunakan informasi di dunia digital. Kedua, literasi teknologi, yakni memahami cara kerja mesin, aplikasi. Ketiga, literasi manusia yang terdiri atas humanities, leadership, teamwork, enterpreneurial, design.

Pendidikan tinggi yang ideal diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi dengan mendorong lulusan menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan (enterpreneur). Berpikir kritis, berpikir kreatif, komunikasi, kolaborasi adalah modal utama untuk mencapai hal itu. Tidak hanya kurikulum dan sasaran kurikulum (mahasiswa), dosen pun sebagai penggerak kurikulum harus mampu mengarahkan dua komponen ini menjadi efektif, efisien, inovatif dengan berbasis teknologi. Oleh sebab itu, sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, acara dilanjutkan dengan workshop kurikulum usai pemaparan dari narasumber. (Rio)

Dilihat 2325 ,Kali

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media