11 Mei 2019
Bunghatta.ac.id. Era digitalisasi atau yang juga dikenal sebagai era revolusi industri 4.0 semakin memasuki lini kehidupan kita. Berbagai kemajuan teknologi mengisi dan mengganti aktivitas sehari-hari. Ia menggabungkan dunia digital dengan dunia fisik serta hampir mempengaruhi semua disiplin ilmu industri dan ekonomi.

Sebetulnya, pembicaraan tentang revolusi industri 4.0 bukan lagi barang baru. Beberapa tahun belakangan, hal itu sudah menjadi topik yang banyak diperbincangkan. Sebagian memandangnya sebagai sebuah ancaman karena dampak disrupsi yang ditimbulkannya, sebagian lagi melihat sebagai keterbukaan peluang yang luas karena ciri utama revolusi ini adalah tentang kehadiran inovasi.

Terlepas dari itu semua, mau tidak mau, dunia sedang mengalami perubahan. Peradaban manusia sedang mengalami pergeseran yang sangat pesat. Segalanya diusahakan menjadi instan dan otomatis melalui mesin-mesin yang diberi kecerdasan buatan.

Revolusi ini juga ikut memunculkan banyak peluang pekerjaan baru yang tidak pernah ada sebelumnya, seperti content creator, content writer, social media strategies, SEO specialis, cyber security, digital public relations, maupun software/application developer, kerja-kerja yang berorientasi pada dunia digital dengan tuntutan kreativitas dan inovasi yang mumpuni dari stakeholders yang terlibat.

Seiring dengan kemunculan pekerjaan baru ini, akan ada pekerjaan yang diprediksi akan hilang atau tergantikan, misalnya teller bank, agen travel, percetakan, dan akuntan. Sementara itu, tidak lama lagi kita juga akan menghadapi bonus demografi yakni terjadinya ledakan jumlah penduduk usia produktif.

Menghadapi dinamika ini tentu bukan hal yang mudah. Bila salah menanganinya, bisa saja ia berubah menjadi bom waktu dan masalah yang tidak bisa dibilang kecil. Kondisi ini menuntut kehadiran semua pihak untuk bergandeng tangan dan mengambil peran masing-masing dalam upaya mempersiapkan diri. Perlu mengambil peran dan bagian yang signifikan untuk mengubah kondisi yang ada agar bangsa kita tidak menjadi “korban” semata tapi juga menjadi pelaku dan penggerak utama.

Pemerintah dengan baik sudah merumuskan berbagai usaha dan strategi yang kemudian dirangkum dalam blueprint yang diberi nama Making Indonesia 4.0.Blueprint ini digadang-gadang menjadi peta arah tuju dunia industri Indonesia dalam membangun sistem yang inovatif dan berkelanjutan.

Dilansir dari siaran pers Kementerian Perindustrian disebutkan bahwa pemerintah menerapkan beberapa langkah guna mendorong terjadinya perubahan besar dalam menghadapi revolusi industri 4.0, diantaranya mendorong angkatan kerja memahami Internet of Things dan integrasinya dalam banyak hal; mendorong penggunaan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cyber security, Cloud, dan Augmented Reality, serta menstimulasi penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang dihasilkan dari beberapa technopark yang dibangun di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Bandung (Bandung Techno Park), Denpasar (TohpaTI Center), Semarang (Incubator Business Center Semarang), Makassar (Makassar Techno Park - Rumah Software Indonesia, dan Batam (Pusat Desain Ponsel).

Banyak kota di daerah sudah mengusung tema Smart City sebagai tujuan, kota dengan berbagai kemudahan dan kecanggihan yang didukung oleh inovasi teknologi dan internet, termasuk pula di Sumatera Barat, sebut saja misalnya Kota Padang dan Padang Pariaman.

Kendati demikian, bila kita bicara tentang revolusi industri, sejatinya kita tidak hanya bicara tentang tools dan pembangunan fisik, tapi juga aspek lain yang lebih urgen, yakni kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) kita, semua institusi perlu melakukan peningkatan kapasitas SDM untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Berdasarkan laporan The Future of Jobs Report, World Economic Forum (WEF), terdapat lima keterampilan krusial yang harus ada pada SDM dalam era industri 4.0 dalam waktu hingga 2020. Keterampilan tersebut jika diurutkan, yaitu complex problem solving, social skill, process skill, system skill, dan cognitive abilities.

Namun, setelah tahun 2020, diperkirakan kemampuan kognitif menjadi keterampilan yang paling dibutuhkan, diikuti system skills, complex problem solving, content skills, dan process skills. Hal tersebut juga menunjukan bahwa untuk menghadapi era industri 4.0, dibutuhkan SDM yang memiliki kemampuan kognitif yang fleksibel, logika berpikir yang baik, sensitif terhadap masalah, kemampuan matematika, dan visualisasi.

Institusi pendidikan tinggi tidak boleh ketinggalan dalam mempersiapkan bangsa ini benar-benar siap dengan internet dan teknologi. Kampus-kampus harus memainkan peran sebagai lembaga yang mampu melahirkan lulusan terampil dalam aspek literasi teknologi, literasi data, dan literasi manusia.

Reorientasi kurikulum wajib dilakukan. Ia harus mengacu pada pembelajaran dalam teknologi informasi, internet of things, big data, dan komputerisasi, serta entrepreneurship dan internship.

Seperti yang belum lama ini dilakukan oleh Universitas Bung Hatta, Universitas swasta terbaik dan terbesar di Sumatera Barat, Riau dan Jambi ini melalui Fakultas Teknologi Industri (FTI) mampu merespon perkembangan zaman dengan melahirkan program studi yang banyak dinanti, yaitu Teknologi Rekayasa Komputer dan Jaringan (TRKJ).

Prodi ini merupakan D4 swasta yang pertama dan satu-satunya di Sumbar, Jambi dan Riau, lahirnya prodi D4 yang setara dengan Strata 1 (S1) ini menandakan FTI progresif menangkap kebutuhan milenials hari ini dan masa depan, dengan tidak hanya melakukan proses pendidikan di internal kampus tetapi juga direncanakan akan melakukan berbagai kolaborasi dengan kampus-kampus terpilih diluar negeri melalui program internship dan sertifikasi. Hal ini guna memantapkan wawasan dan kompetensi lulusan yang tidak hanya lokal tapi juga internasional.

Seriusnya FTI Universitas Bung Hatta untuk mendukung peningkatan kompetensi SDM juga dapat dilihat dari komposisi tenaga pengajar Prodi TRKJ yang beragam, mulai dari akademisi lulusan universitas internasional hingga praktisi IT yang sudah malang melintang di sektor-sektor utama revolusi industri 4.0. Dukungan dari PT. Telkom Indonesia dan PT. Telekomsel serta beberapa BUMN lainnya, menjadikan Prodi TRKJ Universitas Bung Hatta menghasilkan lulusan siap kerja.

Semangat stakeholders seperti FTI Universitas Bung Hatta ini tentu perlu didukung dan diikuti oleh institusi-institusi lain, agar hadirnya revolusi industri 4.0 yang juga bersamaan dengan bonus demografi Indonesia tidak menjadi ancaman untuk kemajuan bangsa dan negara. (Red, Zul)

Dilihat 4067 ,Kali

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media