23 Agustus 2019
Bunghatta.ac.id. Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Bung Hatta menjadi tuan rumah dalam iven Basuo Critical Context di Padang: Seminar dan Gelar Karya Studio 10 Kota di Indonesia (18-20/8/19)

Critical context merupakan kegiatan bersama yang menjadikan studio sebagai sebuah laboratorium perancangan yang bertujuan untuk menggali dan mengritisi keragaman konteks lokal.

Kegiatan ini menggunakan perancangan arsitektur sebagai media yang bertujuan untuk membuka peluang-peluang baru dalam memahami masalah-masalah arsitektur yang beragam yang bersifat lokalitas.

Kegiatan critical context sudah berlangsung selama 3 tahun, yang dimulai tahun 2017, tahun 2018 hingga tahun 2019 tahun ini program studi Arsitektur Universitas Bung Hatta menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan kegiatan seminar dan gelar karyanya.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Dr. Nengah Tela, ST., M.Sc dan Ka. Prodi Arsitektur, Ika Mutia, S.T., M. Sc.

Dalam perjalanannya, kegiatan critical context ini telah tumbuh menjadi kegiatan yang semakin dirasakan penting kehadirannya. Hal ini dibuktikan dengan penambahan unit (kota) yang pada tahap awal hanya diikuti oleh 4 kota (Padang, Semarang, Surabaya dan Bali), hingga tahun kedua yang mulai bertambah dengan masuknya Medan sebagai unit termuda pada saat itu serta sekarang setelah critical context sudah semakin meluas dengan bergabungnya 5 kota lain didalamnya (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Manado dan Ternate).

Untuk unit Padang sendiri, tahun ini, kegiatan diikuti oleh 7 orang mahasiswa, yaitu Juli Yanda Putra (Ars 16), Hendro Krisma (Ars 17), Dehan Maifadli (Ars 17), Rifki Aulia Rahman (Ars 17), Fahrur Rozi (Ars 17), Reski Rahmat Putra (Ars 18) dan Sewina Gusri (Ars 18), serta 2 orang unit master sebagai pembimbingnya, yaitu Dr. Al Busyra Fuadi, S.T., M. Sc., dan Ariyati, ST., M.T.

Tektonika dalam Arsitektur merupakan agenda bersama yang diusung tahun ini. Perumusan tema inipun telah melalui diskusi yang sangat intens lebih kurang sejak 6 bulan yang lalu hingga akhirnya tema ini terpilih dan akan dijabarkan melalui brief penugasan oleh masing-masing unit di tiap kotanya.

Untuk unit Padang sendiri, tema tektonika dalam arsitektur ini diterjemahkan ke dalam sebuah tema yang lebih spesifik yang dirasa sangat erat kaitannya dengan arsitektur tradisional Minangkabau, yaitu marakik. Marakik inilah yang akan dijabarkan selama 10 hari oleh mahasiswa yang mengikuti kegiatan critical context tahun ini melalui kacamata tektonik sebelum akhirnya semua unit akan bertemu di Padang untuk melaksanakan seminar dan gelar karya bersama critical context 3 tahun ini. (**Rio/Humas/albusyrafuadi)

Dilihat 535 ,Kali

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media