20 Desember 2019
Bunghatta.ac.id. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Bung Hatta, sukses menyelenggarakan pementasan teater dengan naskah Rancak di Labuah yang diangkat dari kaba karangan Dt. Panduko Alam.

Pementasan teater ini merupakan luaran matakuliah Apresiasi Drama Indonesia, di bawah bimbingan Dra. Syofiani, M. Pd. Pementasan teater ini dilaksanakan secara langsung di Pusat Belajar Mahasiswa, gedung B3 Kampus 2 Aiapacah, Padang (20/12).

Kaba Rancak di Labuah karya Dt. Panduko Alam sarat dengan muatan lokalitas, yang salah satunya adalah pola asuh ibu di Minangkabau. Pola asuh orangtua, terutama ibu di Minangkabau, dipandang sebagai suatu respon positif yang di dalamnya terkandung nilai-nilai ideal yang direpresentasikan dalam hal berbahasa (tradisi lisan) sehingga menimbulkan kesan, nilai rasa, sikap dan cara pandang yang ditanamkan oleh orangtua terhadap anaknya dengan berlandaskan kearifan lokal.

Dalam kaba Rancak di Labuah, diceritakan tentang seorang anak yang dibesarkan oleh seorang ibu yang kehadirannya tanpa didampingi oleh seorang suami. Rancak di Labuah adalah seorang pemuda yang tinggal di Dusun Taluk dengan ibunya yang bernama Siti Juhari dan adiknya yang bernama Siti Budiman. Sebagai figur seorang bundo kanduang, Siti Jauhari merupakan
perempuan yang rajin berguru dan sering belajar dari para tetua. Ia menjadi seorang yang cendikia; tahu sifat mulia dalam adat.

Buyuang Geleng digelari Rancak di Labuah karena perangainya yang cenderung mengutamakan penampilan semata. Kesehariannya, ia tidak pernah mempedulikan kesukaran hidup keluarganya. Sepanjang hari, ia selalu memperturutkan keinginan nafsunya. Jika orang
lain pergi bekerja ke ladang, ia hanya bermain tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi ibu dan adiknya.

Pada suatu ketika menjelang lebaran, Buyuang Geleng atau Rancak di Labuah meminjam uang kepada seorang pemilik modal di kampungnya untuk membeli pakaian yang indah dengan jaminan sawah ibunya. Ketika pinjaman itu jatuh tempo, ia tidak dapat memenuhi janjinya karena ia tidak mempunyai uang. Ia panik, lalu datang untuk mengadukan nasibnya. Menanggapi persoalan itu, dengan jalan kiasan atau perbandingan serta kearifannya sebagai seorang ibu, Siti Juhari memberi nasihat-nasihat kepada Rancak di Labuah agar memperbaiki sikap dan perilakunya. Berkat cara yang demikian, Rancak di Labuah ingin menuruti nasihat ibunya; bertaubat kepada Allah Swt., serta berjanji akan
mengubah perangainya.

Singkat cerita, Rancak di Labuah mulai mempraktikkan nasihat-nasihat yang disampaikan oleh ibunya. Ia rajin bekerja di sawah ataupun di ladang sehingga menjadi orang yang sukses. Segala ajaran yang mengandung kearifan setempat dilaksanakannya. Cara penyampaian ibu dalam mendidik dan menasihati anaknya yang demikian merupakan bagian dari pola asuh demokratis dalam kaba Rancak di Labuah.

Cara penyampaian nasihat-nasihat yang disampaikan Ibu dalam cerita dapat diidentifikasi dari pendayagunaan gaya bahasa lokalitas Minangkabau yang dikemas dan direpresentasi oleh tokoh. (**Rio/Humas)

Dilihat 841 ,Kali

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media