BEMM-F Suskes Selenggarakan Webinar Nasional
15 Juli 2020
Bunghatta.ac.id. Tanpa kita sadari, pandemi Covid-19 membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap kehidupan yang dijalani, tanpa terkecuali dalam bidang komunikasi. Komunikasi adalah faktor yang sangat mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya. Terkait hal tersebut, komunikasi lintas/antar budaya menjadi hal yang cukup krusial untuk kita amati.

Dalam rangka menambah dan memperdalam wawasan terhadap seni berkomunikasi dalam perspektif lintas budaya pada masa new normal ini, Badan Eksekutif Masyarakat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta menyelenggarakan kegiatan Webinar Series FIB melalui Zoom dengan tema "Seni Komunikasi dalam Pandangan Lintas Budaya di Era New Normal".

Kegiatan ini dilangsungkan secara nasional, Selasa (14/7/20) dengan menghadirkan tiga narasumber dari perspektif budaya dari negara yang berbeda, yaitu Indonesia, Inggris dan Jepang. Para peserta berasal dari berbagai penjuru wilayah di Indonesia, seperti Padang, Bali, Makassar, Malang, Palembang, Yogyakarta, Bandung, dan daerah lainya.

Seni komunikasi dari perspektif Indonesia dikemukakan oleh Dr. Endut Ahadiat, M. Hum. Sementara itu, dari perspektif Inggris, disampaikan oleh Dr. Yusrita Yanti, S.S, M.Hum. Kemudian, dari perspektif Jepang, dikemukakan oleh Prof. Dr. Dra. Diana Kartika. Kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube dan Facebook Diorama Proklamator Universitas Bung Hatta, sebagai bentuk kerja sama Lembaga Badan Eksekutif Masyarakat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Diorama Proklamator Universitas Bung Hatta.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta, Dr. Elfiondri, M.Hum., serta dimoderatori oleh Dedi Irawan, mahasiswa berprestasi Universitas Bung Hatta 2020, dan dipandu oleh staf ahli Departemen Wirausaha Kreatif BEMMF-IB Universitas Bung Hatta, Ade Ramayani.

"Kita tidak bisa melihat nilai sesuatu itu benar atau salah hanya dari persepektif satu budaya saja. Bisa jadi suatu hal benar dilihat dari satu perspektif budaya, namun bertentangan dengan perspektif budaya yang lain. Untuk itu, kita perlu untuk belajar melihat sesuatu dari berbagai perspektif budaya,"kata Dr. Elfiondri, M.Hum.

Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Dra. Diana Kartika, berdasarkan perspektif budaya Jepang. Beliau menjelaskan bahwasanya seni berkomunikasi secara umum sama dengan kesantunan. Tidak hanya itu, seni komunikasi yang dipraktikkan oleh seseorang secara tidak langsung juga menjadi cerminan psikologis orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, meskipun komunikasi kita di era new normal pada umumnya dilakukan secara virtual, 'prinsip saling menyelamatkan muka' antara kedua pihak yang berkomunikasi tidak boleh diabaikan. Kita tetap harus memperhatikan tampilan diri secara virtual (busana dan background) serta tempo saat berbicara, tidak boleh terlalu cepat atau pun terlalu lambat. Dalam budaya Jepang sendiri, etika berkomunikasi secara verbal terkait langsung dengan struktur bahasa. Mulai dari cara kita merespon lawan bicara, memberi salam, hingga budaya memberi hadiah. Elemen non-verbal juga tidak kalah penting, meliputi gerak tubuh, kontak mata dan ekspresi wajah.

Pemateri kedua, Dr. Yusrita Yanti, S.S, M.Hum., menyampaikan bahwa saat berkomunikasi antar budaya berarti kita mempelajari situasi orang-orang dari berbagai latar belakang budaya berinteraksi. Selain bahasa, komunikasi antarbudaya juga berfokus pada atribut sosial, pola pikir, dan budaya berbagai kelompok orang. Ini juga melibatkan memahami perbedaan budaya, bahasa dan adat istiadat orang-orang dari negara lain. Sebagai contoh, budaya Minang dan Inggris, tentu ada perbedaan dan ada persamaan. Salah satu yang paling populer adalah teori empat Maxim oleh Grice, yang meliputi quantity (say enough not too much), quality (truthful), relevance, dan manner (the way you say). Era new normal ini merupakan tantangan baru buat kita semua hingga mengubah pola pikir (mind-set) semua orang dalam berkomunikasi, baik orang tua, guru/dosen, dan masyarakat. Perubahan pola/strategi ini sudah terpatri dalam budaya masing-masing. Untuk itu, kita tetap harus mengutamakan sikap proaktif/tidak reaktif, melakukan prinsip kerja sama komunikasi secara virtual dengan berbagai macam media sosial, serta melatih diri untuk siap dengan konsep 'merdeka belajar'.

Terakhir dari perspektif Indonesia, disampaikan oleh Dr. Endut Ahadiat, M. Hum. Beliau menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 membuat ruang-ruang pertemuan secara fisik menjadi terbatas dan dibatasi. Selanjutnya, pertemuan secara virtual lewat berbagai aplikasi media ekektronik menjadi pilihan sehingga lalu lintas komunikasi melalui aplikasi seperti Zoom, Video Call, Facebook, dan WhatsApp Group menjadi kian padat. Hal ini terjadi karena kebutuhan bersosialisasi dan komunikasi antar sesama, sama pentingnya dengan kebutuhan makan dan minum. Semua orang bebas bicara dengan siapa saja secara lintas bangsa, suku, agama, dan budaya. Lewat komunikasi virtual, perbedaan-perbedaan fisik, ras, agama, suku, Ideologi, faham, dan seterusnya kian hari semakin terkikis. Bahkan, tata krama dan etik komunikasi bukan lagi berdasarkan perbedaan kelas atau strata sosial, melainkan atas dasar konten (isi) pembicaraan dan tulisan. Ini tentu menjadi sebuah terowongan kehidupan baru yang memberi jalan pada tiap manusia untuk menemukan sambungan atau saluran hidup bagi pikiran dan hatinya sendiri secara bebas. Menjadi 'musim panen' banyak buah dari pohon ilmu bagi yang haus akannya. Siapapun bisa menggali pengetahuan dan sumber inspirasi yang bisa diperoleh secara gratis dan murah.

Penyelenggaraan acara ini diharapkan mampu membawa pemahaman yang mendalam terhadap seni berkomunikasi berdasarkan perspektif lintas budaya pada masa new normal yang sedang kita hadapi. Dengan begitu, kita mampu untuk tetap aktif berkarya dan berproduktivitas serta terus membawa kemajuan bagi bangsa dan negara tercinta, Indonesia. (*Elsa Ariska, BEMMF-IB/Red, Humas)

Dilihat 879 ,Kali

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media