Indeks Artikel

Oleh Indrawadi,S.Pi | indrawadi@bung-hatta.info
Tanggal Publikasi: 9 Pebruari 2010

Kesalahkaprahan persepsi terhadap praktisi humas kemudian semakin”melembaga” dengan kenyataan bahwa para praktisi humas dalam kiprahnya memang lebih banyak menangani kegiatan atau penugasan yang lebih bersifat public relations-like activities atau public relations technician, dan para praktisi humas sendiri juga ternyata cenderung berperan tidak lebih sekedar yang lebih bersifat technical provider atau sebagai “tukang” yang hanya sekedar melaksanakan pembuatan produk-produk komunikasi berdasarkan perintah, keputusan atau kebijakan yang dibuat oleh pihak lain. 

Karena tugas klasik keseharian public relation (humas) inilah maka apabila citra suatu perusahaan suram dimata stakeholder, secara lurus telunjuk diarahkan kepada humas (public relation). Meski citra merosot karena hasil produk dibawah standar, kebocoaran dibagian keuangan, pembangunan fisik yang tidak sesuai, bagian pemasaran yang tidak mau menerima pengaduan konsumen, kurang pekanya pimpinan terhadap masyarakat sekitar, praktek KKN, inefesiensi, tidak menerapkan prinsip-prinsip best practies di semua level dan lain-lainnya. Semua hal tersebut notabene secara langsung dan fungsionil berada di luar kegiatan kehumasan. Tetapi dalam setiap kasus dan krisis yang berdampak kepada penurunan citra korporat, semua getahnya tumpah ke tubuh public relation.

Citra korporat merupakan aset yang paling utama dan tak ternilai harganya bagi suatu perusahaan. Oleh karena itu segala upaya, daya dan biaya digunakan untuk menjaga serta menumbuhkembangkannya. Upaya pemupukan citra bukanlah mudah dan bersifat simsalabim. Hal tersebut berlangsung terus menerus dan konsisten dari waktu ke waktu sepanjang lintasan perjalanan suatu perusahaan. Berbicara tentang komunikasi dalam suatu organisasi, memang humas selaku champion-nya. Namun secanggih apapun strategi dan wahana komunikasi yang dilancarkan humas tetap tidak akan berpengaruh pada upaya penumbuhan citra korporat, bila isi yang dikomunikasikan tersebut berbau anyir dan busuk. humas hanya mampu mengemas, memberi bedak dan mempercantik wajah luarnya saja. Maka secantik apapun polesan dan dandanan yang dibuat oleh sang juru rias tetap tidak akan mendongkrak citra, bila anggota badan lain bermasalah. Humas tidak punya kemapuan untuk menggarap dan keharuman anggota badan lainnya. PR hanya mampu dalam melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan mengkondisikan serta mengemas dan menggarap komunikasi(Ridwan,2004).
 

Karena citra berdiri di atas pilar-pilar reputasi, sementara reputasi sendiri tersusun lewat upaya pengejawantahan nilai-nilai yang terkandung dal visi, misi dan kultur korporat maka timbul pertanyaan “disisi mana public relation  berperan”?. Mitos public relation selaku front liner, bumper ataupun etalase perusahaan yang sibuk dengan tugas-tugas membuat pers realis, kliping, photo-memphoto, sibuk dengan wartawan, urusan spanduk, menerbitkan bulletin/tabloid/brosur/publikasi internal lainnya, mengembangkan propaganda (untuk menutupi kekurangan dan kelemahan dimata publik) di zaman sekarang sudah tidak cukup lagi. 

Dalam paradigama baru, public relation harus tampil sebagai alat manajemen strategis dengan 2 tugas utama yakni : (1) Membuka ruang (agar kondusif)  untuk meningkatkan investasi dan perluasan usaha. (2) Membuka pasar (agar kondusif) untuk peningkatan dan perluasan penjualan produk/jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Untuk itu digunakan berbagai strategi dan metode komunikasi, baik yang bersifat frontal (kreatif dan intervensi) maupun yang bersifat gerilya (persuasif dan edukatif).

Peran dan fungsi humas di atas akan dapat terwujud jika public realtion officer memiliki kekuasaan dalam 2 hal penting, yaitu mempunyai akses langsung kepada top management dan mempunyai status serta tingkatan yang sama dengan kepala departemen yang lainnya. Oleh karenanya status dan posisi humas minimal sejajar dengan departemen atau bagian lain yang ada, bahkan secara ideal posisi humas letaknya pada ”leher” institusi yang mempunyai akses langsung dan menjadi adviser top manager. Untuk itulah kini saatnya perguruan tinggi dapat merubah orientasi pemikirannya tentang perang dan fungsi humas sesuai dengan perkembangan, visi-misi dan tingkat kompetitif perguruan tinggi.

Indrawadi,S.Pi
Ka.Humas Universitas Bung Hatta Padang
?>

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media