Indeks Artikel

Oleh Indrawadi | indrawadi@bunghatta.ac.id
Tanggal Publikasi: 31 Desember 2010

Rabu, 30 Setember 2009, paginya aku  pukul 17.15 WIB, saat itu saya baru saja selesai memasangkan pakaian jagoan kecilku. Tiba-tiba…rasanya bumi Ranah Minang berguncang hebat. Sekali rangkul dua jagoan kecilku, ku larikan keluar rumah. Sementara Bundanya berpekikan sambil menarik secara kasar putri sulungku yang menangis. Ia masih trauma dengan gempa besar 7.1 SR yang juga terjadi bulan Oktober 2007.Gempa dengan magnitude 7,9 SR membuat semuanya berubah secepat kilat. Dalam hitungan dua menit semua kemegahan luluh-lantak, ambruk.  Jeritan isak tangis dan minta tolong tak tersahuti. Segala infrastruktur hancur berantakan. Sistem komuniksai yang menjadi gantungan harapan pun senyap. Hampir semua orang memegang ponselya. Tombol redial dipencet ratusan kali, tetapi tidak ada nada sambung. Dicoba ke nomor yang lain, hasilnya sama saja. Walhasil tidak ada yang bisa saling bertelelponan dan bertukar kabar. Baik kepada keluarga yang berada di luar kota Padang maupun sesama anggota keluarga yang ada di Padang. Beruntung, saya baru saja 1 jam sebelum kejadian mengaktifkan kartu prabayar XL. Dicoba menelpon ke nomor lain yang ada di Padang, hasilnya sama saja...tidak bisa terhubung. Saat itu aku berpikir, mungkin saja belum akftif, karena harus menunggu dulu 1x24 jam. Dicoba lagi ke nomor teman di Indosiar, dan dibalik gagang handphone terdengar nada sambung.Beruntung hanya satu kali nada sambung, telpon di angkat teman,. Karena teman ini bekerja di stasiun televisi, saya yakin bahwa ia sudah tahu ada gempa besar di Padang dan telah mendapatkan data berapa kekuatannya dan dimana pusat kejadiannya.Tanpa basa-basi layaknya seperti menelpon biasa aku lansung bertanya ”Gempa besar di Padang, tolong carikan segera data-datanya, apakah berpotensi tsunami, kami dan keluarga tidak apa-apa”. Teman itu malah  menjawab ” Ah jangan lah bercanda” katanya. ” Tolong cari datanya di situs BMG atau di situs USGS atau dimanalah di internet, dan tolong kabarkan pada semua sanak keluarga dan teman-teman bahwa kami tidak apa-apa, dan tolong secepatnya, pulsa saya hampir habis, dan cepat hubungi lagi saya di nomor ini ” kata ku lagi.Kuberanikan masuk kedalam rumah, untuk mengambil handsfree untuk meng-aktifkan radio di ponsel, semua radio yang biasanya tertangkap senyap, diam membisu, selang beberapa saat tertangkap siaran yang terputus-putus melaporkan berbagai kerusakan, kebakaran,macet dan seribu kapanikan lainnya.Selang beberapa saat, terdengar nada panggil, ternyata dari teman yang di Indosiar, sama dengan saya tanpa basi-basi dia mengatakan ”Gempa Besar Nti, 7.9 SR, berpotensi Tsunami, usahakanlah mencari tempat yang tinggi, kini apa yang Nti butuhkan tolong sebut saja” katanya. ( Nti: sebutan akrab kami, artinya teman-red). ” Oke Nti, komplek kami dalam zona kuning, tolong isi pulsa XL ini, sepertinya Padang hancur, listrik padam, selain XL tidak bisa dihubungi, kabarkan ke semua orang agar memakai XL” kata ku.Di beberapa kawasan, sebenarnya masih bisa berhubungan telepon, tetapi karena tingginya traffic jalur jadi sibuk. Telpon rumah di beberapa tempat masih berfungsi, tetapi harus me-redial puluhan kali, jika tersambung pun terputus-putus.  Telkomsel betul-betul tidak berfungsi sama sekali, Indosat juga ngadat. Beruntung pengguna kartu XL  masih berfungsi baik, tapi masalahnya hanya bisa ke sesama XL. Melalui jaringan XL jugalah, saat itu aku bisa akses ke jejaring sosial Facebook, untuk melihat status teman-teman tentang info gempa Padang.
]
Setelah keluarga ku merasa aman, senja itu sambil mencari bensin untuk genset, aku mencoba menelusuri beberapa counter-counter pulsa sepanjang jalan menuju Pompa Bensin, ternyata disemua counter-counter tak bisa lagi mendapatkan kartu prabayar XL. Rupanya dari mulut ke mulut, warga sudah tahu bahwa kartu XL bisa nyambung truss dan tetap berfungsi, otomatis semuanya menyerbu counter pulsa untuk mencari kartu XL. Akibat semuanya menyerbu XL, walhasil akhirnya sempat juga ngadat, lantaran trafficnya amat tinggi. Namun XL dapat cukup jadi malaikat menolong.Tapi yang jelas saat hubungan komunikasi sangat diperlukan  XL  mampu meberikan layanan terbaiknya, meski tersendat-sendat, meski browsing sedikit lelet dari biasanya , tetapi sungguh, XL waktu itu menjadi pahlawan karena berhasil menjadi jalur evakuasi dan penghubung untuk berkomunikasi jarak jauh dari dan ke Padang. Pengalaman berharga itu membuktikan pentingnya telekomunikasi  yang handal kala bencana terjadi di tengah persaingan berbagai operator telepon seluler. Setiap 15 menit apapun informasi yang didapat,aku dihubungi teman yang di Indosiar tersebut untuk mengabarkan suasana di Padang ke seluruh penjuru tanah air, dia sangat memahami kalau aku yang menghubungi akan menguras batrai HP, sementara untuk isi ulang di pastikan akan kesulitan karena listrik padam.Jumat, 3 November 2010, pukul 10.00 WIB, kembali kota Padang di guncang gempa 4,2 SR. Kepanikan luar bisa melanda kota Padang, apalagi sebelumnya sering di rilis pemberitaan bakal terjadinya gempa yang lebih besar di Kota Padang.
Kembali sasat itu, XL terbukti tangguh. Pengguna XL tetap dapat melakukan panggilan dan SMS tanpa tertunda, sementara operator lain sepertinya kembali mengalami kejadian serupa September 2009,senyap dan padam.Paska beberapa detik gempa, warga kota Padang sempat berhamburan keluar mencari tempat yang luas. Kemacetan luar biasa terjadi di jalur-jalur evakuasi dan jalan-jalan utama, antrian panjang di SPBU di kota Padang. Namun setelah dirasa aman, warga kembali beraktifitas dan kerumah masing-masing. Beberapa couter-counter yang sempat aku tanyai, penjualan kartu perdana XL meningkat signifikan, sedangkan untuk stok voucher XL, masih cukup tersedia.Sekali lagi, XL terbukti nyambung truss saat bencana terjadi.
?>

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media