Indeks Artikel

Oleh Ir. Hendri Warman, MSCE, IPM |
Tanggal Publikasi: 28 April 2011

Jalan Sicincin - Malalak merupakan jalur transportasi alternative selain jalur yang ada sekarang yaitu lewat Lembah Anai untuk menuju kota Bukittinggi dari Kota Padang. Kalau kita lewat jalur Sicincin - Malalak ini dengan segala keterbatasannya, maka perlu ekstra hati-hati karena masih banyak lereng tanah atau talud yang masih labil. Jenis tanah pada umumnya pasir lepas berlempung dan sebagian ada batuan sangat rentan sekali terjadi gerakan tanah akibat beban luar, sehingga dapat terjadi kelongsoran. Memang saat ini sering terjadi longsor didaerah tersebut apabila sudah diguyur oleh hujan, bahkan akhir-akhir sudah merenggut korban jiwa. Oleh karena itu perlu dilakukan penggulangan dengan segera, kalau tidak segera bertindak, maka bencana yang lebih besar pasti akan terjadi dan dalam hal ini tentunya pemerintah daerah dan kota/kabupaten harus segera melakukan antisipasi terhadap bencana yang akan datang.

Longsor adalah : Suatu proses perpindahan massa tanah atau batuan dengan arah miring dari kedudukan semula, sehingga terpisah dari massa yang mantap, karena pengaruh gravitasi; dengan jenis gerakan berbentuk rotasi dan translasi.

Secara umum faktor pendorong yang dapat menyebabkan terjadinya longsor pada lereng tanah/ batuan adalah:
a. curah hujan yang tinggi;
b. lereng yang terjal;
c. lapisan tanah yang kurang padat dan tebal;
d. jenis batuan (litologi) yang kurang kuat;
e. jenis tanaman dan pola tanam yang tidak mendukung penguatan lereng;
f. getaran yang kuat (peralatan berat, mesin pabrik, kendaraan bermotor);
g. susutnya muka air danau/bendungan;
h. beban tambahan seperti konstruksi bangunan dan kendaraan angkutan;
i. terjadinya pengikisan tanah atau erosi;
j. adanya material timbunan pada tebing;
k. bekas longsoran lama yang tidak segera ditangani;
l. adanya bidang diskontinuitas;
m. penggundulan hutan; dan/atau
n. daerah pembuangan sampah.

Kriteria (makro) dalam penetapan kawasan rawan bencana longsor sebagai berikut:
a. kondisi kemiringan lereng dari 15% hingga 70%;
b. tingkat curah hujan rata-rata tinggi (di atas 2500 mm per tahun);
c. kondisi tanah, lereng tersusun oleh tanah penutup tebal (lebih dari 2 meter);
d. struktur batuan tersusun dengan bidang diskontinuitas atau struktur retakan;
e. daerah yang dilalui struktur patahan (sesar);
f. adanya gerakan tanah; dan/atau
g. jenis tutupan lahan/vegetasi (jenis tumbuhan, bentuk tajuk, dan sifat perakaran)

Pola dari kelongsoran yang sering terjadi pada lereng tanah dapat dilihat pada gambar berikut ini:


Gambar Pola Longsor

Lereng tanah/batuan ini terdiri dari lereng alami dan lereng buatan manusia. Kemiringan lereng sangat mempengaruhi terjadinya potensi longsor pada suatu kawasan. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa Tipologi Zona Berpotensi Longsor Berdasarkan Hasil Kajian Hidrogeomorfologi (Sumber : Permen No.22/PRT/M/2007 tentang : Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor)

Zona Tipe A

Zona berpotensi longsor pada daerah lereng gunung, lereng pegunungan,lereng bukit, lereng perbukitan, dan tebing sungai dengan kemiringan lereng lebih dari 40%, dengan ketinggian di atas 2000 meter di atas permukaan laut.

Zona Tipe B

Zona berpotensi longsor pada daerah kaki gunung, kaki pegunungan, kaki bukit, kaki perbukitan, dan tebing sungai dengan kemiringan lereng berkisar antara 21% sampai dengan 40%, dengan ketinggian 500 meter sampai dengan 2000 meter di atas permukaan laut.

Zona Tipe C

Zona berpotensi longsor pada daerah dataran tinggi, dataran rendah, dataran, tebing sungai, atau lembah sungai dengan kemiringan lereng berkisar antara 0% sampai dengan 20%, dengan ketinggian 0 sampai dengan 500 meter di atas permukaan laut.

Bagaimana cara penanggulangan longsor?

Untuk kondisi daerah geografi pada jalan Sicincin - Malalak yang merupakan daerah perbukitan atau ketinggian yang rentan terhadap kelongsoran, sehingga persyaratan kenyamanan untuk sebuah jalan tidaklah terpenuhi. Ada beberapa alternative yang harus dilakukan agar kelongsoran (Landslide) dapat dihindari antara lain seperti:

  1. Mengendalikan aliran air permukaan untuk daerah ketinggian baik dengan horizontal drain ataupun dengan vertical drain.
  2. Menyempurnakan drainase badan jalan sepanjang Sicincin - Malalak
  3. Melakukan penanaman pohon kembali/ reboisasi untuk daerah yang resapan yang terganggu.
  4. Melakukan perkuatan lereng ( Soil Reinforcement ) seperti Gabion Wall, Crib Wall, Soil Nailing dimana, bidang permukaan miring dengan Shotcrete facing
  5. Melakukan analisis kemantapan lereng kembali baik saat tanpa drainase ataupun saat dipengaruhi oleh drainase.

    Semoga dengan kajian kelongsoran secara detil dan menyeluruh oleh pemerintah serta pola penanggulangan yang tepat yang akurat akan dapat menghindari bencana yang lebih besar dan korban nyawa sia-sia. Amien.
?>

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media