Indeks Artikel

Oleh Hafrijal Syandri |
Tanggal Publikasi: 17 Oktober 2011

Danau Maninjau bagi masyarakat lokal yang bermukim di Kampung dan di rantau mempunyai peranan penting bagi menopang kehidupannya dari sektor perikanan karamba jaring apung (KJA).

Sejak tahun 1992 dengan jumlah KJA dua belas unit hingga kini perkembangannya tidak terbendung sampai mencapai 13.000 unit, walaupun sejak lima tahun terakhir musibah demi musibah kematian ikan mas dan ikan nila tidak bisa dielakkan akibat danau yang elok dan berkemilau ini tidak lagi mau bersahabat dengan alamnya.

Usaha perikanan KJA tidak bisa dipungkiri memang memberikan secercah harapan untuk menghidupi dan meningkatkan kesejahteraan puluhan ribu penduduk yang bermukim di kecamatan Tanjung Raya dan sekitarnya dari kesulitan perekonomian dan ancaman longsor dari tebing-tebing terjal pada daerah tangkapan air yang dipicu oleh gempa 30 September 2009 yang lalu.

Dipihak lain, sektor wisata danau terpaksa kita rela mengorbankannya karena kemilaunya telah pudar, akibat berbagai aktifitas yang berlangsung di perairan danau, termasuk aktifitas KJA, meskipun dua tahun terakhir terus digalakkan dengan Tour de Singkarak yang menjadi primadona pariwisata Sumatera Barat, disisi lain tingkat hunian hotel dan rumah tinggal di sekitar kawasan Danau Maninjau juga ikut menurun drastis jika dibandingkan dengan lima belas tahun silam.

Penulis pada tahun 2005 pernah mengadakan penelitian di Danau Maninjau tentang usaha perikanan keramba jaring apung, dengan jumlah KJA 4.000 petak saja dibutuhkan benih ikan mas dan nila sebanyak 1.200 ton per tahun dengan nilai Rp 9.600.000.000, selanjutnya untuk membesarkan ikan peliharaan sampai ukuran panen selama kurang lebih empat bulan selama satu tahun dibutuhkan pakan pelet dengan berbagai merek dagang sebanyak 32.700 ton/tahun dengan nilai Rp 124.260.000.000, dan dihasilkan ikan siap untuk dipanen sebanyak 21.212,5 ton dengan nilai jual Rp 211.125.000.000,-. Jumlah dana yang sangat besar beredar di kawasan danau yang dipenuhi dengan lagenda Bujang Sambilan dan mungkin lebih besar dari pendapatan asli daerah sebuah kabupaten di Sumatera Barat.

Sejak akhir tahun 2008 musibah kematian ikan KJA silih berganti, walaupun pemerintah dan perguruan tinggi menyatakan bahwa danau yang tersohor ke seluruh penjuru dunia ini tidak lagi bisa untuk mendukung usaha perikanan KJA, namun masyarakat lokal tidak jera dan putus asa dengan musibah yang telah bertubi-tubi datangnya dan tetap melanjutkan usahanya di sektor perikanan KJA karena masyarakat belum mempunyai mata pencaharian alternatif lain.

Jalan terbaik untuk sementara waktu yang harus dilakukan adalah mewaspadai turunnya curah hujan yang sangat tinggi pada rentang Nopember 2011 hingga Februari 2012 . Curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan terjadinya perbedaan suhu air yang mencolok antara permukaan dengan dasar perairan sehingga sewaktu-waktu bisa mengakibatkan umbalan (istilah setempat tubo) yaitu pembalikan masa air dari dasar danau ke permukaan yang mengandung senyawa phospor dan nitrit yang berasal dari sisa pakan, kotoran ikan dan bangkai ikan dengan jumlah cukup besar mengendap di dasar danau saat ini yang dapat menimbulkan kematian masal ikan di dalam KJA.

Penulis menghimbau kepada masyarakat petani ikan KJA, istrahatlah untuk sementara waktu menebar benih ikan dan segeralah memanen ikan yang sedang dipelihara di dalam KJA sebelum curah hujan turun dengan deras sehingga kerugian milyaran rupiah bisa dihindarkan. Pitatah Minangkabau menyatakan alam takambang manjadi guru, semoga kita dapat belajar dari musibah yang telah terjadi.
?>

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media