Indeks Artikel

Oleh Hendrizal SIP MPd |
Tanggal Publikasi: 13 Oktober 2017

Sangat sering orang-orang yang mampir atau pas menengok ke ruangan tamu saya, langsung bertanya kepada saya, ‘Mas jualan buku ya?’

Saya jawab, ‘Nggak. Saya tidak pernah jualan buku. Ini cuma buku-buku saya pribadi untuk saya baca-baca saja kok.’ Mereka pun jadi heran melihat tumpukan buku di ruangan tamu saya.

Orang-orang yang dimaksud tadi ada yang tetangga, saudara atau kerabat, tukang becak, tukang jualan keliling, tukang beli barang bekas, karyawan, atau bahkan mahasiswa. Hal itu terjadi baik saat saya dahulu bermukim di Yogyakarta ataupun kini di Padang.

Agaknya, di negeri kita ini terasa aneh saat melihat orang yang ‘cukup’ memiliki buku-buku. Padahal, bagi saya dan teman-teman sesama penulis atau kolomnis seperti Agus Wibowo, Muh Muslih, atau manusia ‘rakus buku’ seperti Nur Rasyidi, Mas Syafi’i di Gunungpring Magelang, memiliki buku-buku yang berjibun adalah hal biasa saja. Biasa saja!

Apakah karena saya kaya raya sehingga sanggup membeli ‘cukup’ buku-buku itu? Wallahu’alam bisawab. Yang jelas: sampai kini, saya adalah seorang ‘kontraktor’ sejati. Maksudnya, sampai sekarang pun saya masih berstatus sebagai tukang kontrak rumah sederhana ‘seperti kandang sapi’, sekadar untuk tempat berteduh. Artinya, rumah saja saya belum punya. Hanya itulah baru daya ekonomi saya.

Berjibunnya buku itu adalah untuk mengisi kognisi atau kepala saya. Saya menganut prinsip kendi. Jika air mau dituangkan dari kendi, maka kendinya harus diisi terlebih dahulu. Nah, kalau saya mau menuangkan pemikiran atau gagasan dari kepala saya di saat menulis artikel, atau saat mengajar, atau saat diskusi, maka kepala saya tentu harus diisi terlebih dahulu. Jika tidak diisi, apa yang mau dituangkan?

Sebetulnya, saya tidak sendirian seperti ini, ada teman-teman saya seperti disebutkan di atas. Bahkan, ada seorang tukang becak di Semarang, Jawa Tengah, yang memiliki buku berjibun di rumahnya. Sekali lagi: tukang becak. Kayakah dia? Wong dia itu tukang becak kok! Hanya saja, dia itu ‘butuh’ membaca.

Ya, ‘kebutuhan’ membaca. Itu kata kuncinya. Kalau siang hari, dia itu berprofesi sebagai tukang becak. Jika malam hari, dia itu nyambi sebagai dalang wayang kulit. Memainkan wayang, apalagi saat-saat tengah malam di mana para penonton sedang menahan kantuk yang berat, maka dia memainkan cerita wayang dengan dibumbui berita-berita atau isu-isu aktual, terutama saat momen cerita goro-goro.

Dengan trik bercerita seperti itu, diharapkannya pertunjukan wayangnya tidak membosankan. Berita-berita atau isu-isu aktual alias kontemporer tersebut diperolehnya dari membaca berbagai koran, majalah dan buku. Ya, dari membaca!

Honor dari mendalang, sebagian dia sisihkan untuk membeli berbagai koran, majalah dan buku lagi. Begitu seterusnya. Sehingga koran, majalah dan buku berjibun di rumahnya.

Kisah tentang tukang becak itu, saya ketahui dari hasil penelitian salah seorang dosen FIB UGM Yogya. Kisah itu tentu sangat kontras dengan kehidupan orang kaya yang ‘miskin’ buku.

Apalagi bagi para mahasiswa, guru atau dosen yang ‘miskin’ buku, tentu lebih parah lagi.
Nah, belakangan ini sedang tren digalakkan dunia literasi, termasuk di daerah Sumatera Barat ini. Bagus. Bahkan sangat bagus untuk mendorong muncul dan maraknya kembali minat membaca dan menulis. Ya, asalkan jangan kegiatan formalitas sajalah!

Penulis merupakan Dosen PPKn Universitas Bung Hatta Padang dan mahasiswa Program Studi S3/Doktor Ilmu Pendidikan UNP.
?>

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media