Detail Berita

FPIK UBH Turut Andil Perkuat Jejaring Konservasi Penyu
FPIK UBH Turut Andil Perkuat Jejaring Konservasi Penyu

Rabu, 12 Desember 2018

Aksi konservasi menetapkan tujuh kawasan Konservasi Sumatera Barat. Empat kawasan konservasi, berfokus pada konservasi penyu. Dalam mengembangkan dan mendukung kehadiran jejaring agar sesama anggota jejaring bisa berkembang dan maju untuk menyelamatkan biota dan kawasan yang dilindungi secara bersama-sama, disusunlah visi pembangunan berkelanjutan.

Jejaring kawasan konservasi ini akan membuat standar SOP dalam menilai keberadaan ekosistem terumbu karang (coral reef) dan populasi penyu (sea turtle) di Sumatera Barat.

Jejaring akan diperkuat dan saling memperkuat dan mengisi di antara kawasan konservasi penyu dan terumbu karang dengan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) TWP Pieh yang telah memiliki SOP dengan pendekatan "pure conservation".

Dari distribusi kawasan konservasi yang dikelola dengan pendekatan ekowisata konservasi, terlihat bahwa kawasan pantai barat Sumatera Barat dapat menjadi model konservasi biota dan kawasan yang "ideal" serta keikutsertaan dan partisipasi aktif masyarakat, baik yang berada di dalam kawasan maupun yang berada dekat dengan kawasan konservasi.

Peran perguruan tinggi, dalam hal ini Universitas Bung Hatta (UBH), turut andil dengan pengalaman penelitian terumbu karang yang sudah berjalan sejak 1998 untuk wilayah pantai barat Sumatera Barat. Kegiatan penelitian Terumbu Karang akan terus dilakukan yang dimotori oleh Dosen FPIK Universitas Bung Hatta, Dr. Suparno, M.Si dengan melibatkan para alumni (Sanari) dan mahasiswa. Sementara itu, Harfiandri Damanhuri terus bergiat pada penelitian tentang penyu, habitat, dan ekosistem terkait serta pengembangan kawasan ekowisata konservasi yang sudah dirintisnya sejak 1999 lalu.

Tentunya, jejaring ini tidak bisa tidak bekerja sama karena sangat terkait dengan posisi kawasan terumbu karang dan pola migrasi biota penyu serta ekosistem terkait lainnya yang tidak dapat dipisahkan secara ekoregion.

Dalam pertemuan yang konstruktif, semua stakeholders yang terkait dengan penyu dan terumbu karang hadir dan antusias menyampaikan saran-saran dan masukan. Hal baru yang muncul pada pertemuan semua kawasan konservasi adalah "new paradigm" (paradigma baru) tentang perubahan nama dan fungsi pusat penangkaran penyu menjadi "Pusat Rehabilitasi Penyu" yang didukung oleh tenaga medis seorang dokter hewan dan fasilitas pendukung lainnya.

Dirancang dan diharapkan melalui jejaring, ke depan, semua pusat penangkaran secara bertahap akan berubah menjadi "Pusat Rehabilitasi Penyu". Tidak ada lagi pemeliharaan tukik penyu ataupun penyu dewasa, kecuali yang sakit, yang cacat yang dikarantina karena tertangkap atau luka dengan "logbook" yang terdokumentasi dengan baik.

Tentu perubahan ini melalui proses dan akan diperkuat dengan mengaktifkan fungsi pengawasan dan penindakan, melalui FKKP yang sudah di-SK-an oleh Gubernur Sumatera Barat pada 2015.

Pertemuan dilaksankan di Pusat Penangkaran Penyu Pantai Air Manis, UPTD KPSDKP yang difasilitasi oleh PSDKP DKP Sumbar, yang dipimpin oleh Ir. Doni Rahma Saputra, M.Si.