Selasa, 26 April 2011
Universitas Bung Hatta
Antisipasi Cuci Otak.UBH Perbanyak Kegiatan Ekstrakurikuler
Universitas Bung Hatta (UBH) jauh-jauh hari telah berupaya melakukan antisipasi untuk mencegah kasus cuci otak oleh orang-orang yang diduga kalangan yang tidak bertanggung jawab. Sejak tahun akademik 2008/2009 mahasiswa baru dibekali dengan program Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dengan kegiatan Character Building dan ISQ dengan mendatangkan tim dari kalangan professional. Selain itu, selama kegiatan PKKMB, mahasiswa juga di bekali dengan materi-materi kewarganegaraan, ke Bung Hatta-an dan out bound.
Hal itu diungkapkan Rektor UBH, Prof.Dr.Hafrijal Syandri,MS, diruangan kerjanya, Selasa,26/4. Saat dimintai pendapatnya soal kasus pencucian otak yang marak kahir-akhir ini dikalangan mahasiswa di Pulau Jawa.
Ia mengatakan, upaya-upaya yang dilakukan pihak UBH adalah dengan memperbanyak kegiatan kemahasiswaan melalui unit-unit kegiatan kemahasiswaan seperti diving, KSR-PMI, Kesenian, Pramuka, olah raga, Mapala maupun radio kampus dan penerbitan Koran Kampus. Selain itu, juga ada unit Forum Studi Islam Nurjannah, semua unit-unit itu di bina oleh dosen-dosen.
aDengan semakin banyak kegiatan ekstra kulikuler, kita berharap, selain untuk pengembangan diri, mahasiswa juga akan sibuk dan bisa terhindar dari hal-hal yang merugikan masa depannya, dan membuka komunikasi serta dialog seluas-luasnya dengan mahasiswa. a ujar Hafrijal.
Ditempat terpisah, Wakil Rektor I UBH, Dr.Eko Alvarez,MSAA, saat membuka workshop kurikulum Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil, kembali menegaskan perlunya redesain kurikuler, karena keaadaan masyarakat sudah berubah dengan cepat, tetapi tak diikuti dengan perkembangan kurikulum.
Senada dengan Rektor UBH, Eko mengatakan mata kuliah Agama, Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia harus menjadi mata kuliah dasar. aMata kuliah tersebut sangat penting, untuk pengembangan karakter dan moral, apalagi sekarang ini, lagi marak kasus pencucian otak seperti yang terjadi di beberapa perguruan tinggi di Jawaa ujar Eko.
Ia menanmbahkan, workshop kurikulum itu sendiri di gelar seiring dengan perkembangan jaman yang semakin menuntut keterbukaan dan dihadapkan pada persaingan global dan penyelenggaraan otonomi daerah. Program otonomi daerah dan pemekaran daerah membawa konsekuensi terhadap tersedianya tenaga teknis yang handal dalam melakukan perencanaan pembangunan daerah khususnya dibidang perencanaan wilayah dan kota.
aDi dalam perkembangannya, perencanaan wilayah dan kota telah mengalami evolusi dengan berbagai dinamika persoalannyaa ujar Eko mengakhiri.(**indrawadi)