Kamis, 27 Oktober 2011
Universitas Bung Hatta
Bank Belum Serius Garap Sektor Kelautan dan Perikanan
Ketua Program Studi Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Pesisir,Perairan dan Kelautan (PSP2K) Universitas Bung Hatta Dr. Ir.Junaidi,MS mengatakan, kurangnya pemahaman pihak bank terhadap sektor industri kelautan dan perikanan menjadi salah satu penyebab minimnya kucuran pinjaman modal untuk pengembangan di sektor perikanan laut, di ruangan kerjanya Kampus Pascasarjana UBH, Kamis,(27/10).
Menurutnya lagi, banyak faktor yang menyebabkan rendahnya penyerapan kucuran kredit dari sektor kelautan dan perikanan. Dilihat dari aspek pembiayaan usaha, dari sudut analisis perbankan, bank menilai kredibilitas usahan dibidang ini sangat rendah. Kalaupun bisa, prosedur pengajuan pinjaman sangat rumit. Bank pun kerap meminta jaminan tambahan (agunan) yang menyulitkan. "Sektor kelautan dan perikanan sulit memenuhi agunan yang dipersyaratkan bank, karena aset berharga yang dimiliki pengusaha perikanan hanya berupa kapal yang belum bisa diterima sebagai agunana, ujar Junaidi.
Ia juga mengatakan, kalangan perbankan tidak mampu melihat prospek sektor kelautan dan perikanan sesungguhnya. Usaha perikanan terutama sektor kelautan tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman memadai, memiliki biaya tinggi dan keuntungan yang rendah.
aHarus diakui, ada gap berupa komunikasi antara pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan, perbankan kurang familiar dengan sektor ini, di sisi lain pelaku usaha juga tidak mengerti akses dan persyaratan perbankana, tukuk Junaidi.
Junaidi menambahkan, sektor industri kelautan dan perikanan memiliki peluang pasar yang sangat besar, menyusul terjadinya perubahan pola konsumsi masyarakat dunia dari daging ke ikan.
Namun walaupun demikian ternyata belum cukup menarik bagi dunia perbankan untuk mengucurkan kreditnya ke sektor tersebut. aKalangan perbankan masih menganggap sektor kelautan dan perikanan sebagai industri yang kurang prospektif untuk dikembangkana, tutup Junaidi mengakhiri.(**Indrawadi/Humas Univ.Bung Hatta)