Bayi Penyu Hasil Penangkaran Dilepas ke Laut Berita Terbaru
Selasa, 25 April 2006
Universitas Bung Hatta

Bayi Penyu Hasil Penangkaran Dilepas ke Laut

Sebanyak 75 ekor anak penyu atau tukik hasil penangkaran, Minggu, 23 April 2006 dilepas kembali ke laut. Tukik-tukik yang baru berusia 38 hari itu, merupakan hasil penangkaran yang dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta Padang. Tukik-tukik yang merupakan jenis penyu hijau, dan bila dewasa bisa mencapai berat lebih dari 100 kilogram, dilepas di pantai di belakang kampus Universitas Bung Hatta yang terletak di kawasan Ulak Karang, Padang. Tukik-tukik itu berasal dari sekitar 200 butir telur yang diambil para mahasiswa Fakultas Perikanan di Pulau Garabah Ketek, Kabupaten Pasisia, dan kemudian ditetaskan dengan menggunakan tabung inkubasi. Sayangnya, walaupun tingkat penetasan tergolong tinggi, mencapai 90,8%, namun dalam penanganan, tukik-tukik tersebut banyak yang mati. Di Sumatra Barat sendiri, hanya ditemui 3 jenis penyu, yaitu penyu Balimbiang, penyu Sisik, dan penyu Hijau. Ketiga jenis penyu ini tergolong langka, karena tingkat konsumsi oleh manusia yang cukup tinggi, baik telur maupun daging. Dari hasil penelitian yang dilakukan Universitas Bung Hatta, diketahui sekitar 22 ribu butir telur penyu diperdagangkan setiap 10 harinya di berbagai kawasan di Sumatra Barat. Padahal, penyu-penyu baru bisa bertelur setelah mencapai usia produktif 20 sampai 30 tahun. Walaupun setiap kali bertelur penyu bisa menghasilkan telur antara 80 sampai 180 butir, namun tidak seluruhnya menetas. Selain itu, dari sekitar 1000 tukik yang baru menetas dan menuju ke laut, biasanya tak sampai 5 ekor tukik saja yang berkembang menjadi penyu dewasa. Sedangkan yang lainnya, mati akibat berbagai hal, terutama akibat tingginya jumlah predator yang memakan tukik-tukik tersebut. Karena itulah, para mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Bung Hatta mencoba untuk melakukan penangkaran dan menetaskan telur-telur penyu dari Pulau Garabah Ketek. Karena pengambilan telur itu, merupakan salah satu cara menyelamatkan telur-telur penyu dari perdagangan telur penyu oleh manusia. Proses penetasan itu sendiri dilakukan di kompleks Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Bung Hatta Padang. (Sumber: http://www.ranah-minang.com/berita/944/