Fakultas
Dosen dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta, Edukasi Siswa SLB Karya Padang Tentang Pencegahan Kekerasan Seksual Melalui Media Pop-Up Book
Tim dosen dan mahasiswa Universitas Bung Hatta melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SLB Karya Padang pada Kamis, 21 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di ruang kelas SLB Karya Padang tersebut mengusung tema “Peningkatan Pemahaman Anak Penyandang Disabilitas tentang Kekerasan Seksual melalui Media Pop-Up Book”.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat, sekaligus implementasi pembelajaran pada Mata Kuliah Politik Kriminal yang diampu oleh Dr. Uning Pratimaratri, S.H., M.Hum., serta Mata Kuliah Hukum Pidana yang diampu oleh Dr. Deaf Wahyuni Ramadhani, S.H., M.H.
Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman anak penyandang disabilitas mengenai perlindungan diri dari kekerasan seksual melalui media pembelajaran yang interaktif dan mudah dipahami.
Tim pelaksana kegiatan terdiri atas dosen dan mahasiswa lintas fakultas Universitas Bung Hatta. Para dosen yang terlibat yakni Dr. Uning Pratimaratri, S.H., M.Hum., Dr. Deaf Wahyuni Ramadhani, S.H., M.H., Dr. Listiana Sri Mulatsih, S.E., M.M., Dr. Syofiani, M.Pd., serta Dra. Pebriyenni, M.Si. Sementara mahasiswa yang turut berpartisipasi yaitu Sabrina Hunafa, Amelia Setiawan, Muhammad Zikra, Mochamad Refchie Budiarso, Adiva Rasti, dan Detika Rahman.
Koordinator pelaksana, Sabrina Hunafa, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak, termasuk anak penyandang disabilitas yang tergolong kelompok rentan karena keterbatasan komunikasi dan pemahaman mengenai batas tubuh pribadi.
“Tujuan kegiatan ini adalah memberikan edukasi kepada anak-anak tentang bentuk kekerasan seksual sekaligus membangun keberanian mereka untuk melindungi diri dan melapor apabila mengalami tindakan yang tidak pantas,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, materi disampaikan menggunakan media pop-up book interaktif yang dirancang khusus dengan gambar tiga dimensi, elemen bergerak, dan bahasa sederhana agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik berkebutuhan khusus. Media tersebut digunakan untuk mengenalkan bagian tubuh pribadi (private body parts), perbedaan sentuhan aman dan tidak aman, serta langkah perlindungan diri melalui prinsip “Stop–Run–Tell”.
Selain edukasi melalui pop-up book, siswa-siswi SLB Karya Padang juga diajak menonton film edukatif Kisah Si Geni yang mengangkat tema perlindungan anak dari kejahatan seksual. Pada kesempatan itu, Dr. Deaf Wahyuni Ramadhani, S.H., M.H., turut memberikan motivasi dan pemahaman sederhana mengenai pentingnya menjaga batas tubuh dan mengenali perilaku yang tidak pantas di lingkungan sekitar.
“Perilaku seperti catcalling juga termasuk tindakan yang tidak baik karena dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman. Anak-anak perlu memahami sejak dini bahwa tubuh mereka harus dihormati dan dilindungi,” jelasnya.
Kepala Sekolah SLB Karya Padang, Sulastri, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Universitas Bung Hatta atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap kerja sama edukasi seperti ini dapat terus berlanjut karena memberikan manfaat besar bagi peserta didik maupun tenaga pendidik di sekolah.
“Kami sangat senang dan berterima kasih atas perhatian yang diberikan. Edukasi seperti ini sangat penting bagi anak-anak kami agar mereka memiliki pemahaman dan keberanian dalam melindungi diri,” ungkapnya.
SLB Karya Padang sendiri memiliki 28 peserta didik berkebutuhan khusus yang berasal dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Peserta didik di sekolah tersebut terdiri atas berbagai kategori kebutuhan khusus, seperti tunagrahita, tunarungu, tunawicara, dan autisme, sehingga memerlukan pendekatan pembelajaran yang adaptif, komunikatif, dan mudah dipahami.
Melalui kegiatan ini, tim PkM Universitas Bung Hatta berharap media pembelajaran berbasis pop-up book dapat menjadi sarana edukasi yang efektif, menyenangkan, dan berkelanjutan dalam meningkatkan kesadaran anak penyandang disabilitas terhadap pentingnya perlindungan diri dari kekerasan seksual. (DWR