Fakultas
Dosen Teknik Sipil Universitas Bung Hatta Ikuti FIBRECONS 2026 di Malaysia
Dr. Eng. Yulcherlina, S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Bung Hatta, mengikuti kegiatan FIBRECONS 2026 (Fibre Reinforced Concrete Symposium 2026) yang diselenggarakan di Renaissance Hotel, Johor Bahru, Malaysia pada 20 Juli 2026.
FIBRECONS 2026 mengangkat tema “Low-Carbon Fibre Concrete: Shaping Tomorrow’s Future” yang berfokus pada pengembangan beton rendah karbon (low-carbon concrete) dan beton berserat (fibre-reinforced concrete) sebagai solusi untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih kuat, tahan lama, dan ramah lingkungan.
Dr. Eng. Yulcherlina menyampaikan keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan teknologi material konstruksi, khususnya terkait inovasi beton rendah karbon dan beton berserat.
Menurutnya, inovasi material konstruksi menjadi semakin penting karena pembangunan infrastruktur ke depan tidak hanya dituntut menghasilkan bangunan yang kuat dan tahan lama, tetapi juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan dan dampak lingkungan.
“Keikutsertaan dalam FIBRECONS 2026 memberikan kesempatan untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan teknologi material konstruksi, khususnya terkait pengembangan beton rendah karbon dan beton berserat. Inovasi ini menjadi sangat penting karena pembangunan infrastruktur ke depan tidak hanya dituntut menghasilkan bangunan yang kuat dan tahan lama, tetapi juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan dan dampak lingkungan,” ungkapnya.
Salah satu topik utama yang dibahas dalam symposium ini adalah pengembangan beton rendah karbon, yaitu material beton yang dirancang untuk menghasilkan emisi karbon dioksida (COâ‚‚) lebih rendah dibandingkan beton konvensional. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengurangan penggunaan semen Portland dengan bahan alternatif seperti fly ash dan slag, pemanfaatan material lokal, optimalisasi komposisi campuran beton, serta penerapan teknologi produksi yang lebih efisien energi.
Selain itu, kegiatan ini juga membahas perkembangan teknologi beton berserat (fibre-reinforced concrete), yakni beton yang ditambahkan serat untuk meningkatkan karakteristik mekanis, mengendalikan keretakan, dan memperbaiki ketangguhan material. Berbagai jenis serat, seperti serat baja, serat sintetis, serat karbon, dan serat alami, dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan konstruksi, pertimbangan teknis, serta dampak lingkungannya.
Dr. Eng. Yulcherlina menjelaskan pengembangan low-carbon fibre concrete merupakan salah satu pendekatan inovatif dalam industri konstruksi untuk mengurangi emisi karbon sekaligus meningkatkan kualitas dan ketahanan material beton. Pemanfaatan bahan alternatif sebagai pengganti sebagian semen serta penambahan serat pada campuran beton menjadi bagian dari upaya menciptakan material konstruksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Melalui forum ini, saya juga memperoleh kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman dengan akademisi serta praktisi industri konstruksi dari berbagai negara. Berbagai perkembangan teknologi dan hasil inovasi yang dibahas diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan penelitian, pengayaan materi pembelajaran, serta penerapan teknologi konstruksi berkelanjutan di lingkungan Universitas Bung Hatta,” tambahnya.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, laboratorium pengujian, dan perusahaan industri konstruksi dari sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Singapura, Jepang, dan Jerman.
Beberapa institusi dan perusahaan yang berpartisipasi meliputi Bekaert Singapore Pte Ltd, TESTING Bluhm & Feuerherdt GmbH dari Jerman, National University of Singapore, Denka Company Limited dari Jepang, Universiti Teknologi Malaysia, Singapore Institute of Technology, Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology (TAR UMT), serta Universitas Bung Hatta dari Indonesia.
Partisipasi ini juga sejalan dengan pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan pengetahuan mengenai inovasi material dan teknologi konstruksi.