Berita Terbaru
Kamis, 05 Maret 2009
Universitas Bung Hatta
FTI-UBH, Perkanalkan Cold Storage Sederhana
Bermula dari makin banyaknya pedagang keliling ES Tontong yang sehari-hari berkeliling dengan becak dayung atau motor, namun kualitas maupun dari ES jajanan itu tidak turun, membuat Ir. Hendri Nasution,M.Sc , Staf pengajar Teknik Mesin Fak.Teknologi Industri UBH, mengarahkan mahasiswanya untuk merancang dan membuat peti es layaknya pedagang Es tontong sebagai tempat penyimpanan ikan (Cold Storage).
Menurutnya, salah satu persoalan yang dihadapi nelayan tradisionil terhadap hasil tangkapannya adalah tempat penyimpanan hasil tangkapan itu sendiri. Nelayan tidak mampu membeli cold storage yang harganya cukup mahal, berkisar Rp 5 s/7 juta rupiah, karena cold storage yang tersedia dipasaran masih import, sehingga harganya tidak terjangkau.
Nelayan tradisinil bisanya pergi melaut sekitar 10-12 jam, dengan membawa tempat penyimpan hasil tangkapan seadanya, sehingga mutu dan kesegaran ikan menjadi turun, akibatnya hasil tangkapan itu kalah bersaing dipasaran dan dihargai murah.
Kini, nelayan-nelayan kecil mendapat harapan baru dari karya Al fadly Mahasiswa Jurusan Mesin Teknik Elektro UBH, untuk mempertahan kan mutu dan kesegaran ikan hasil tangkapan dari melaut, sehingga harga ikan tersebut tetap tinggi dan menghasilkan keuntungan.
Coldt Storage rancangan Al Fadly yang dipamerkan FTI-FAIR II UBH tersebut, terbuat dari fiberglass dan resin Type SHCP PL-07, se ukuran peti es walls, dengan berat tidak lebih dari 4 Kg itu mampu mempertahankan mutu dan kesegaran ikan kualitas ekspor maksimal 20 Kg selama 3 hari. Bahkan alat tersebut telah lulus uji Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan ( LPPMHP) Padang, serta lolos memenuhi syarat SNI.01-2345-1991.
Ir.Hendri Nasution, selaku dosen pembimbing menjelaskan, alat karya mahasiswa tersebut tidak menggunakan energi apapun, melainkan hanya garam dan es. Karena menurutnya, yang penting dari cold storage adalah perencanaan isolasi, untuk menjaga keadaan cold storage tetap dingin dan tidak adanya interfensi dari temperature lingkungan.
Es sebagai media pendingin cold storage harus sebanding dengan jumlah per-berat ikan yang didinginkan, sehingga mutu serta kesegarannya tetap terjaga. Es tersebut jangan tercampur atau digabungkan dengan ikan melainkan ditempatkan secara terpisah. Dengan perlakuan demikian, ikan dalam cold storage dapat tahan dalam beberapa hari dengan mutu dan kesegarannya tetap sama.
Hendri berharap, cold storage karya mahasiswa itu setidaknya dapat meringankan beban nelayan-nelayan kecil dan para penampung ikan untuk meningkatkan penghasilan, karena alat tersebut masih prototype, biaya dibutuhkan untuk pembuatannya menghabiskan biaya sekitar Rp. 1 juta, namun jika diproduksi secara massal tentu akan jauh lebih murah, dan terjangkau oleh nelayan. aSekarang alat sudah dirancang dan dibuat, serta telah lulus Syarat SNI, selanjutnya tinggal pihak2 terkait seperti Dinas Perikanan dan Kelautan atau dinas-dinas lainnya yang menindak lanjutia kata Ucok panggilan sehari Hendri Nasution mengakhiri.