Gempa Sumatera 8.5 SR: Ahli Konstruksi UTM-Malaysia, Apresiasi Warga Padang Berita Terbaru
Kamis, 12 April 2012
Universitas Bung Hatta

Gempa Sumatera 8.5 SR: Ahli Konstruksi UTM-Malaysia, Apresiasi Warga Padang

Doktor Nur Hazzam, dari Universiti Teknologi Malaysia salah satu peserta The 3rd Internatioanl Conference on Contruction Industry yang di gelar Universitas Bung Hatta memberikan apresiasi tersendiri warga Padang terhadap respon warga ketika terjadi bencana gempa 8.5 SR yang melanda Sumetera Rabu,11/4 kemarin. Hal itu disampaikannya saat pisah sambut dengan panitia ICCI 3 di Kanpus I UBH Ulak Karang, Kamis,12/4. Ketika gempa terjadi, Nur Hazzam masih berada di hotel Pangeran Beach, sementara rombongan lainnya sejak pagi sudah meninggalkan hotel menuju Bukittinggi. Ia sengaja tidak ikut rombongan karena ingin menikmati Kota Padang. Menurutnya, ketika gempa terjadi, pengunjung hotel tidak terlalu panik, dan keluar gedung secara teratur ditambah penjelasan-penjelasan dari petugas hotel untuk tidak panik serta menunjukan jalur-jalur evakuasi, bahkan ketika ada peringatan gempa tersebut berpotensi tsunami, ia melihat tidak ada kepanikan yang luar biasa. "Saya mendengar bunyi sirine meraung-raung, dan berjalan ke luar hotel menuju jalan raya, dan melihat beberapa warga yg tinggal disekitar tepi pantai bergegas menuju ke arah Jl. Raden Saleh," ujar Nur Hazzam. Ia memperhatikan dengan seksama, tindakan beberapa masyarakat yang mulai bergerak menuju jalur-jalur evakuasi dan tidak terlihat kepanikan yang luar biasa. Pada awal hanya sedikit, tapi setelah terjadi gempa susulan dan ada perpanjangan peringatan tsunami maka orang-orang yang pergi evakuasi semakin banyak. Di jalanan masih terlihat tertib, mungkin saja terjadi kemacetan di beberapa tempat karena penumpukan arus kendaraan yang pergi secara tiba-tiba ke satu arah "Saya yang baru pertama kali ke Padang dan merasakan gempa, cukup takut juga dan mengikuti saja petunjuk-petunjuk yang disampaikan petugas hotel, saya juga melihat beberapa pemilik toko bergegas menutup tokonya, dan ketika ia mau membeli rokok, tidak dilayani pemilik warung, dengan alasan mau evakuasi karena mendengar bunyi sirine peringatan," tambah Nur Hazzam. Ia memberikan sedikit catatannya terhadap respon masyarakat terhadap bencana gempa di susul peringatan tsunami, menurutnya bunyi sirine beberapa saat setelah gempa terjadi, masyarakat tahu kalau ada sirine berarti akan ada tsunami, masyarakat juga sudah tahu jalur-jalur evakuasi ke tempat aman seperti gedung bertingkat, masjid, dan masyarakat melakukan evakuasi secara spontan. Menurutnya lagi, mungkin dibeberap ruas jalan dipastikan terjadi kemacetan, terutama jalur-jalur evakuasi yang telah ditetapkan. "Untuk itu pemerintah Padang, mau tidak mau harus segera membenahinya, karena secara spontan masyarakat Padang sepertinya telah mulai memahami langkah-langkah untuk menghadapi ketika bencana gempa disusul ancaman tsunami." "Kesimpulannya, mekanisme peringatan dini berupa informasi gempa, peringatan potensi tsunami, sirine, escape building, rute evakuasi, tempat aman sudah berjalan dengan baik, masyarakat sudah tahu, dan pengetahuan itu sudah diikuti dengan tindakan untuk terus berusaha mencari update informasi bencana dan kemudian dengan melakukan evakuasi ke tempat-tempat yang lebih aman," ujarnya lagi. (**Indrawadi-Humas UBH).