Guru SD Pessel Dilatih BAM Berita Terbaru
Minggu, 06 Februari 2005
Universitas Bung Hatta

Guru SD Pessel Dilatih BAM

Sekitar 340 orang guru-guru SD di Kabupaten Pasisia Salatan diberi pelatihan Budaya Alam Minangkabau (BAM). Pelatihan ini sendiri dimaksudkan untuk lebih mengembangkan berbagai adat dan budaya Minang bagi para guru, untuk kemudian diajarkan kepada para murid di sekolahnya masing-masing. Pelatihan BAM ini sendiri, dilaksanakan Pemkab Pasisia Salatan bekerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Bung Hatta (UBH) dan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar. Menurut Dekan FKIP UBH Syamsul Huda di ruang sidang FKIP UBH, Rabu (11/8), pelatihan ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk ikut memperbaiki kondisi moralitas generasi muda Sumbar, dari serbuan arus globalisasi, yang membuat generasi muda Minang seperti kehilangan jati diri Minangkabaunya. “Dari hasil observasi kita di beberapa daerah, terlihat kalau guru BAM di daerah terkendala dalam memberikan materi ajar yang akan diberikan kepada murid. BAM ini mulai kita garap sebagai upaya memperbaiki tatanan nilai generasi muda, sehingga nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau tidak semakin luntur,” ujar Syamsul, didampingi Ketua LKAAM Sumbar Kamardi Rais Dt P Simulie, Sekretaris LKAAM M Sayuti Dt R Panghulu, serta Pembantu Dekan I FKIP UBH Susi Herawati dan ketua-ketua jurusan di FKIP UBH. Syamsul mengakui, persoalan ini merupakan persoalan berat, namun dengan niat tulus dan dikerjakan bersama-sama, dia meyakini pekerjaan ini bisa diselesaikan. Menurut Syamsul, program ini sendiri dimulai dari Pasisia Salatan disebabkan karena Pemkab Pasisia Salatan yang paling siap dalam hal pendanaan. Syamsul menjelaskan, sejak awal pihak FKIP UBH dan LKAAM sudah menghubungi pemkab dan pemko yang ada di Sumbar, namun mereka menyatakan belum siap untuk melaksanakan program ini. Program bagi guru-guru SD Pasisia Salatan ini sendiri direncanakan akan dilaksanakan sampai 8 angkatan, dan masing-masing angkatan diikuti oleh 40 orang guru. Sementara itu, Ketua LKAAM Sumbar Kamardi Rais Dt P Simulie mengatakan, kalau dulu muatan lokal terhadap Budaya Alam Minangkabau ini tidak diberikan di sekolah, karena sudah dimulai sejak di rumah dan di surau. Namun kini, para orang tua sepertinya sudah lupa untuk mengajarkan BAM kepada anak-anaknya, begitu juga dengan surau yang bisa dikatakan sudah tidak ada lagi. “Sekarang pengajaran BAM ini dimasukkan dalam muatan lokal di sekolah-sekolah. Tapi dalam perjalanan, justru guru-gurunya yang mengalami kesulitan, karena mengajarkan BAM itu memang tidak mudah,” katanya. Ninik mamak sendiri, walaupun jumlahnya cukup banyak dan banyak pula yang masih mengerti dengan BAM, namun mereka menjadi bingung ketika harus diminta mengajar kepada murid. Karena tidak punya latar belakang sebagai guru, ninik mamak ini tidak mengerti harus mulai dari mana dan apa yang harus diajarkan. Pihak LKAAM sendiri, dikatakan Kamardi Rais sudah menyuarakan pengajaran BAM ini sejak 1980 lalu. Dan untuk mendukung pengajaran BAM, LKAAM sudah menyebarkan sekitar 16 ribu buku, yang isinya tentang BAM, seperti etika bertutur sapa dalam Minangkabau dan sebagainya. Sekarang ini, katanya, baru Pemkab Pasisia Salatan yang memberikan sambutan positif, bahkan membuat perjanjian kerjasama dengan FKIP UBH untuk melahirkan guru-guru dalam bidang adat. “Kita mengharapkan agar pemkab dan pemko lain di Sumbar juga mau merespon pendidikan BAM ini, sehingga kelestarian adat dan budaya Minangkabau itu bisa tetap terjaga, dan tidak tergusur oleh globalisasi yang menghancurkan tatanan yang ada,” ujarnya. Sedangkan Sekretaris LKAAM, M Sayuti Dt R Panghulu menjelaskan, saat ini di sekolah-sekolah, 30 persen materi pelajarannya berisi muatan lokal. Bahkan Sekda Pasisia Salatan seperti dikatakan Sayuti, telah mengembangkan wacana untuk menjadikan BAM sebagai salah satu mata pelajaran penentu di sekolah, dan tidak lagi menjadi mata pelajaran sampingan. (Nanang)