Fakultas
Indrawadi, S.Pi., Perkuat Literasi Nelayan sebagai Penjaga Lingkungan dan Penerus Kearifan Lokal Pesisir
Kepala Divisi Perpustakaan dan Layanan Literasi Universitas Bung Hatta, Indrawadi, S.Pi., memberikan pembekalan kepada pelaku usaha perikanan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Penguatan Kapasitas Pelaku Usaha Perikanan yang diselenggarakan oleh Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Muaro Anai, Padang Sarai, Kota Padang pada 28 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Indrawadi menyampaikan materi bertajuk “Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan”. Materi ini mengangkat pengalaman dan pengetahuan nelayan yang diwariskan secara turun-temurun, serta tercermin dalam berbagai praktik kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya kelautan. Pengetahuan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat pesisir telah lama menerapkan prinsip-prinsip konservasi dan keberlanjutan, bahkan sebelum konsep keberlanjutan diperkenalkan secara formal.
Kegiatan yang diikuti 30 peserta dari kalangan nelayan, di antaranya berasal dari Pasia Nan Tigo dan Padang Sarai, berlangsung secara interaktif. Diskusi menggali lebih dalam pengalaman nelayan dalam memanfaatkan sumber daya laut sebagai sumber mata pencaharian utama, sekaligus mengidentifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang dapat terus dipertahankan dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan pesisir.
Dalam diskusi tersebut terungkap, pekerjaan sebagai nelayan bukan sekadar aktivitas menangkap ikan. Di balik setiap hasil tangkapan, terdapat pergerakan ekonomi masyarakat, rantai pasok pangan, serta pengetahuan tentang laut yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nelayan juga memiliki pemahaman mengenai kondisi perairan, perubahan cuaca, musim penangkapan, dan karakteristik sumber daya laut yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Namun, kehidupan nelayan tidak terlepas dari berbagai tantangan, mulai dari cuaca yang tidak menentu, ketidakpastian hasil tangkapan, hingga meningkatnya tekanan terhadap keberlanjutan sumber daya laut. Praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, perubahan iklim, serta kerusakan ekosistem pesisir turut memperbesar risiko yang dihadapi masyarakat nelayan.
Indrawadi menekankan dalam konteks pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan, nelayan memiliki peran strategis. Aktivitas melaut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem laut. Oleh karena itu, penguatan literasi menjadi penting agar pengetahuan, pengalaman, dan kearifan lokal nelayan dapat terus dikembangkan sebagai landasan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
"Kearifan lokal masyarakat pesisir merupakan modal sosial dan ekologis yang sangat berharga. Pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa laut bukan sekadar sumber eksploitasi, melainkan ruang hidup yang harus dijaga keseimbangannya. Nelayan tidak hanya berperan sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai penjaga tradisi, nilai-nilai ekologis, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir," ungapnya.
Melalui pembekalan ini, diharapkan para nelayan semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan laut sekaligus memperkuat kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya kelautan secara bijaksana. Pengayaan literasi juga diharapkan mampu mendorong nelayan untuk mendokumentasikan, mempertahankan, dan mewariskan pengetahuan lokal kepada generasi muda agar nilai-nilai kearifan pesisir tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan literasi dan pembelajaran berbasis pengetahuan lokal untuk penguatan kapasitas nelayan dalam mendukung keberlanjutan mata pencaharian dan ekonomi masyarakat pesisir.