Berita Terbaru
Selasa, 06 Maret 2007
Universitas Bung Hatta
Istano Terkendala Material, Eko: Rangka Atap Ditukar Aluminium
Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) DPD Sumbar memperkirakan pembangunan kembali replika Istano Basa Pagaruyung akan menemukan kesulitan. Terutama dalam pengadaan sejumlah material, contohnya pengadaan ijuk, kayu, motif ukiran serta pengrajin ukiran itu sendiri.
Ketua IAI DPD Sumbar Dr Eko Alfares menegaskan itu kepada harian padang ekspres kemarin malam. aSecara umum kita belum bisa memberikan informasi lebih detail terhadap persoalan itu. Karena kita masih mempersiapkan bahan-bahan yang nantinya dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pembangunan nantinya,a ujar Eko.
Dalam pertemuan yang dilakukan Jumat malam bersama Ikatan Konstruksi Indonesia (Inkindo) Sumbar dan budayawan serta sastrawan, Eko mengatakan, ada usulan untuk mengatasi persoalan itu, dalam pembangunan nantinya akan mengadopsi teknologi pembangunan.
Misalnya, kalau selama ini rangka atap terbuat dari kayu, ke depan diusulkan materialnya berasal dari aluminium. Selain tahan bakar, bahan ini lebih ringan dan lebih mudah dalam pemasangan. Berbeda dengan kayu, selain langka di pasaran, bahan ini juga rawan terbakar.
aNamun, persoalannya kalau menggunakan rangka aluminium, kita belum bisa mengambil keputusan. Ini terkait dengan keutuhan dari nilai historis Istano Pagaruyung tersebut. Jadi kita masih membutuhkan masukan dari seluruh masyarakat,a kata dosen Universitas Bung Hatta ini.
Sesuai dengan kesepakatan dalam pertemuan dengan Gubernur Jumat pagi, pihaknya dengan Inkindo akan mengumpulkan dokumen-dokumen lama terkait site plan replika istano yang sudah terbakar. Nantinya, dokumen-dokumen itu dijadikan kajian untuk persiapan bahan persentasi di hadapan Gubernur, Jumat mendatang.
aSelama satu minggu ke depan kita akan terus mengumpulkan masukan-masukan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat luas. Bahkan, ada usulan untuk melaksanakan lokakarya di UBH dalam minggu ini. Kita berharap semua kalangan dapat berpartisipasi dalam persoalan ini,a jelas Eko.
Sejauh ini, baik IAI dan Inkindo belum membuat tim yang akan dilibatkan dalam pembuatan rencana tersebut. Karena, keputusannya akan langsung ditangani Gubernur Sumbar. Untuk sementara, pemegang mandat masih di tangan gubernur. IAI dan Inkindo hanya sebagai pelaksana teknis saja.
aKita menunggu kebijakan Gubernur selanjutnya, termasuk pembentukan tim panitia pembangunan. Apakah tim tersebut langsung dipimpin Bupati Tanahdatar atau Gubernur sendiri yang memimpin tim tersebut. Kemungkinan, pembentukan tim tersebut dilakukan dalam pertemuan selanjutnya, Jumat mendatang,a ulas dosen Arsitektur ini.
Terkait upaya yang telah dilakukannya, Eko bersama jajaran IAI dan Inkindo sudah turun ke lapangan untuk meninjau lokasi kebakaran Istano Pagaruyung, akhir pekan lalu. Dari observasinya, belum ditemukan kesepakatan apakah rangka yang masih ada dapat digunakan lagi atau tidak. Karena ada perbedaan pendapat dari tim yang turun ke lapangan. Untuk lebih memastikannya, contoh material, diuji kembali di labor.
Terkait anggarannya, Eko belum bisa memperkirakannya. Karena dalam pembangunan tersebut, ada material yang tidak memiliki standar yang pasti. Contohnya, pengadaan ijuk, motif ukiran dan barang-barang purbakala yang akan ditempatkan di Istano tersebut. Sumber : (afi/rdo-padangekspres.co.id)