Berita Terbaru
Kamis, 28 Juli 2005
Universitas Bung Hatta
Konferensi Asosiasi Lingusitik Tipology ke 6
Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa harus tetap dilestarikan dan dikembangkan, karena bahasa merupakan cerminan budaya bangsa. Pengaruh budaya asing dan arus globalisasi, menyebabkan orang Indonesia lebih suka memakai istilah asing ketimbang bahasa Indonesia.
Bahasa asing seperti bahasa Inggris memang penting untuk dipelajari, tapi bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah harus terus dipelajari dan dikembangkan," ujar Pembantu Rektor II Universitas Bung Hatta (UBH) Drs. Maihendri, M.S didampingi Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UBH kepada koran ini usai pembukaan Simposium Internasional Ilmu Bahasa Melayu/Indonesia ke-9 yang diselenggarakan di Hotel Nuansa Maninjau sejak 27 s/d 29 Juli 2005.
Ia melihat, kurangnya minat orang Indonesia mempelajari bahasa sendiri karena merasa bahasa Indonesia sudah merupakan bahasa sehari hari, sehingga mereka merasa tak perlu mempelajari bahasa Indonesia, termasuk juga bahasa daerah. Padahal bahasa Indonesia yang mereka pakai belum memenuhi kaidah-kadiah bahasa yang benar. Banyak siswa SLTP/SLTA yang tidak lulus dalam ujian nasional pada mata pelajaran bahasa Indonesia salah satu sebab adalah karena kurangnya minat mereka untuk mempelajari bahasa Indonesia secara benar.
Simposium keenam yang digelar atas kerjasama Max Plank Institute for Evolutionary Anthropology Jerman dengan FIB UBH ini menghadirkan sedikitnya 30 orang pakar bahasa dunia yang memaparkan hasil penelitian para linguis dari berbagai negara di dunia tentang bahasa Melayu/Indonesia.
Dengan digelarnya simposium dan konferensi bahasa ini, diharapkan bisa mengetuk dan membangunkan orang Indonesia yang terlena karena arus globalisasi. Mempelajari bahasa asing tidak salah, tapi jangan mengabaikan bahasa dan budaya sendiri. "Orang asing saja mau belajar dan mendalami bahasa Indonesia, kenapa kita sebagai bangsa Indonesia mengabaikannya?" ujar Yusrita.
Menurutnya, orang Jerman, Jepang dan sejumlah negara lainnya, kalau mau datang ke Indonesia, entah itu sebagai turis, atau mengikuti berbagai program lainnya, mereka sebelumnya harus melalui tes bahasa Indonesia, mereka baru boleh datang ke Indonesia kalau sudah pandai berbahasa Indonesia.
Sementara di Indonesia orang lebih suka mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa Indonesia sendiri, dan akibatnya banyak perguruan tinggi yang memiliki jurusan Sastra Indonesia kekurangan mahasiswa karena kurangnya minat tamatan SLTA untuk mempelajari bahasa Indonesia.
Dicontohkannya, salah satu sebab banyaknya siswa peserta Ujian Nasional yang tidak lulus dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, karena kurangnya pengetahuan mereka tentang bahasa Indonesia itu sendiri.
Disisi lain, Yusrita menjelaskan, Sebelum penyelenggaraan Simposium Ilmu Bahasa Melayu di Nuansa Maninjau ini, juga telah dilaksanakan Konferensi Internasional Asosiasi Tipologi Linguistik dunia di hotel Bumiminang sejak 21 s/d 25 Juli lalu, dengan menghadirkan 100 pemakalah hasil penelitian para linguis dari berbagai dunia seperti, Inggris, Jerman, Paris, Moscow, Amerika, Rusia, Australia, Jepang, Malaysia, India serta sejumlah negara lainnya.
Selain pemaparan hasil hasil penelitian bidang tipologi bahasa, pertemuan ilmiah ini juga diselingi dengan acara temu ramah yang memperkenalkan daerah wisata kota Padang, Bukittinggi, Maninjau serta menyaksikan penampilan kebudayaan Minangkabau dalam bentuk seni tari Minang, pencak silat, randai/ saluang dan kesenian tradisional Tupai Janjang serta sejumlah kesenian tradisional lainnya.
Konferensi ini hendaknya menjadi cambuk bagi linguis Indonesia untuk mengadakan pemetaan struktur bahasa yang ada di Indonesia yang kaya dengan bahasa daerah. Langkah ini penting dilakukan, untuk mengetahui bahasa bahasa daerah mana saja yang terancam punah dan bahasa mana yang sudah berkembang