Berita Terbaru
Kamis, 14 April 2011
Universitas Bung Hatta
Lustrum VI UBH:Ekonom UI Prof.Dr. Sri Edi Swasono akan Orasi Ilmiah
Ekonom yang banyak berkecimpung di dunia koperasi dan ekonomi kerakyatan yang juga Menantu Pertama proklamator Bung Hatta, Prof.Dr. Sri Edi Swasono, direncanakan akan menyampaikan makalah dalam orasi ilmiah dalam rangkaian dies natalis Universitas Bung Hatta (UBH) ke 30 pada hari Rabu, 20 April nanti di aula Balairung Caraka Gedung B UBH.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Sri Edi Swasono menyampaikan Orasi Ilmiah yang mengusung tema tentang aAktualisasi sikap dan pemikiran Bung Hatta dalam Membangun Universitas Bung Hattaa.
Dalam orasi tersebut diharapkan beliau akan menyampaikan mengenai perlunya pengembangan karakter bagi anak bangsa, tentang pemahaman yang dangkal terhadap pendidikan internasional, yang selama ini membawa kita melupakan pendidikan karakter bangsa sendiri. Pengembangan karakter bagi anak-anak bangsa sejak dini hingga di perguruan tinggi sangat diperlukan, terutama dalam kaitannya dengan upaya pembentukan rasa cinta Tanah Air, memelihara kebersamaan dan semangat kekeluargaan.
Rektor UBH Prof.Dr.Hafrijal Syandri,MS mengatakan, pihak UBH mengundang Menantu Bung Hatta itu untuk memberikan orasi ilmiah, karena Beliau adalah orang yang produktif. Banyak karya, pengalaman, serta penghargaan yang dihasilkan dari kerja kerasnya.aSelain itu, tentu beliau lebih memahami pimikiran Bung Hatta, karena mempunyai ikatan emosionala, ujar Hafrijal.
Sementara itu, ketua pelaksana Lustrum VI, Antoni, S.E., M.E, Ph.D mengatakan, usai acara peringatan puncak di aula Balairung Caraka, di rencanakan siang harinya, akan dilanjutkan dengan penyerahan kunci rumah Mak Timah di Aia Pacah kawasan pembangunan kampus II. Rumah Mak Timah (80th) telah selesai di bedah oleh Tim dari UBH.
Ia menambahkan, sebelumnya rumah Timah tidak layak huni, dan ia sangat sulit dalam menjalani hidupnya sehari-hari. aSehari-hari ia menempati rumah tersebut dengan 2 orang cucunya Kumbang (40) tahun yang sehari-harinya sebagai pengembala kambing dan buruh serabutan dalam keadaan cacat pisik pulaa, ujar Anton mengakhiri.(**Indrawadi)