Berita Terbaru
Sabtu, 01 Oktober 2005
Universitas Bung Hatta
Mahasiswa UBH Menolak Kenaikan BBM : Usung Pocong dan Keranda Mayat
Gelombang demonstrasi menolak kenaikan harga BBM terus terjadi di Kota Padang . Jumat kemarin, sekitar 500-an mahasiswa yang tergabung dalam Front Aksi BEM PTS Sumbar berunjukrasa ke Gedung DPRD Sumbar. Dalam aksi kali ini, massa mahasiswa membawa pocong dan keranda mayat.
[center]
[/center]
Aksi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Dengan mengangkat spanduk, di antaranya bertuliskan "pemerintah hisap darah rakyat, SBY gagal masyarakat jadi korban dan BBM naik membuat rakyat sedih", mahasiswa menggelar orasi dan meneriakan yel-yel menolak kenaikan harga BBM di halaman gedung dewan.
Menariknya lagi, mahasiswa juga menggelar opening art yang meggambarkan penderitaan rakyat karena kenaikan harga BBM.
Dalam aksi teaterikal itu mahasiswa membawa keranda mayat yang di atasnya ada bendera merah putih yang menyimbolkan matinya rakyat Indonesia karena penderitaan dan aksi pocong yang juga mengambarkan penderitaan.
Massa mahasiswa terdiri dari BEM Universitas Bung Hatta, Institut Teknologi Padang, STIE-AKBP, STBA Prayoga, Universitas Muhammadiyah Sumbar, AKPER Bunda dan HIPERKES Padang. Selesai berorasi, massa kemudian diterima Wakil Ketua DPRD Sumbar, Mahyeldi Ansharullah didampingi anggota Sultani, Rafdinal, Eldi Soetrisno dan Erwina Sikumbang.
Di hadapan anggota dewan, Koordinator aksi yang juga Presiden BEM Universitas Bung Hatta, Mabruri Tanjung membacakan pernyataan sikap yang intinya menolak kenaikan harga BBM.
Menanggapi Wakil Ketua DPRD Sumbar, Mahyeldi Ansharullah mahasiswa tersebut, menegaskan dukungan atas penolakan kenaikan harga BBM. Alasan pemerintah menaikan harga BBM karena kekurangan APBD dan kenaikan harga minyak dunia menurut Mahyeldi tidak bisa diterima. "Kalau APBN kurang harusnya pemerintah berhemat, bukan membebani rakyat, "tegas Mahyeldi yang disambut yel-yel massa mahasiswa.
Menyangkut pernyataan sikap mahasiswa, Mahyeldi menegaskan akan menyampaikannya ke pemerintah pusat. "Kita di DPRD mendukung penolakan kenaikan harga BBM," ujar Mahyeldi.
Setelah mendengarkan sikap DPRD Sumbar, massa mahasiswa tampak lega. Mereka menyanyikan yel-yel mengutuk pemerintah pusat dan menyebut aksi penolakan terhadap kenaikan harga BBM sebagai bentuk perlawanan Sumbar atas pemerintah pusat. Sekitar pukul 11.15 WIB massa kemudian membubarkan diri dan menuju kampus masing-masing.
[/center]
Aksi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Dengan mengangkat spanduk, di antaranya bertuliskan "pemerintah hisap darah rakyat, SBY gagal masyarakat jadi korban dan BBM naik membuat rakyat sedih", mahasiswa menggelar orasi dan meneriakan yel-yel menolak kenaikan harga BBM di halaman gedung dewan.
Menariknya lagi, mahasiswa juga menggelar opening art yang meggambarkan penderitaan rakyat karena kenaikan harga BBM.
Dalam aksi teaterikal itu mahasiswa membawa keranda mayat yang di atasnya ada bendera merah putih yang menyimbolkan matinya rakyat Indonesia karena penderitaan dan aksi pocong yang juga mengambarkan penderitaan.
Massa mahasiswa terdiri dari BEM Universitas Bung Hatta, Institut Teknologi Padang, STIE-AKBP, STBA Prayoga, Universitas Muhammadiyah Sumbar, AKPER Bunda dan HIPERKES Padang. Selesai berorasi, massa kemudian diterima Wakil Ketua DPRD Sumbar, Mahyeldi Ansharullah didampingi anggota Sultani, Rafdinal, Eldi Soetrisno dan Erwina Sikumbang.
Di hadapan anggota dewan, Koordinator aksi yang juga Presiden BEM Universitas Bung Hatta, Mabruri Tanjung membacakan pernyataan sikap yang intinya menolak kenaikan harga BBM.
Menanggapi Wakil Ketua DPRD Sumbar, Mahyeldi Ansharullah mahasiswa tersebut, menegaskan dukungan atas penolakan kenaikan harga BBM. Alasan pemerintah menaikan harga BBM karena kekurangan APBD dan kenaikan harga minyak dunia menurut Mahyeldi tidak bisa diterima. "Kalau APBN kurang harusnya pemerintah berhemat, bukan membebani rakyat, "tegas Mahyeldi yang disambut yel-yel massa mahasiswa.
Menyangkut pernyataan sikap mahasiswa, Mahyeldi menegaskan akan menyampaikannya ke pemerintah pusat. "Kita di DPRD mendukung penolakan kenaikan harga BBM," ujar Mahyeldi.
Setelah mendengarkan sikap DPRD Sumbar, massa mahasiswa tampak lega. Mereka menyanyikan yel-yel mengutuk pemerintah pusat dan menyebut aksi penolakan terhadap kenaikan harga BBM sebagai bentuk perlawanan Sumbar atas pemerintah pusat. Sekitar pukul 11.15 WIB massa kemudian membubarkan diri dan menuju kampus masing-masing.