Jumat, 08 April 2011
Universitas Bung Hatta
Mahasiswa UBH Siapkan 5 Robot Pintar
Untuk menghadapi kontes robot regional I yang akan diselenggarakan di Batam pada 18-19 Mei mendatang, tim Robot Universitas Bung Hatta (UBH) menyiapkan lima unit robot untuk mengikuti kejuaraan tersebut dan akan bersaing dengan 18 perguruan tinggi lainnya di Sumatra.
Pembina Tim Robot UBH, Dr. Ir. Saiful Jamaan, M. Eng, menyebutkan, kejuaraan yang akan diikuti itu adalah Kontes Robot Indonesia (KRI) yang bertemakan Arungan, yakni seni dari robot itu sendiri. "Kita mempersiapkan lima robot untuk bersaing pada setiap divisi dari kejuaraan tersebut. Sebab, pada kontes itu, hanya tiga perguruan tinggi yang lolos seleksi untuk mengikuti semua divisi. UBH menjadi salah satu tim yang lolos," ujar Syaiful, saat mendampingi mahasiswa binaannya memperagarakan aksi robot tersebut, di aula Kampus III Fakultas Teknologi Industri, Jumat (8/4).
Syaiful menambhakan, kontes robot yang akan dipertandingkan, setiap robot harus bisa menirukan setiap gerakana manusia dalam melakukan tradisi Arungan. Tradisi arungan sendiri merupakan budaya tradisional Thailand dalam membuat sesajen dari bunga.
aJika kita lolos, kita akan mengikuti kontes tingkat nasional, dan jika menang dalam lomba di Jogja, kita akan masuk kejuaraan internasional yang digelar di Thailand," tambah Syaiful.
Sementara itu, Ketua Tim Robot, Miftah Malay, menyebutkan, selain kejuaraan itu, UBH sudah sering mengikuti Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) dan Kontes Robot Seni Indonesia (KRSI).
Ia menambahkan Untuk KRCI tersebut, tim telah merakit tiga robot untuk mengikuti tiga divisi yang diperlombakan. "Di antaranya, divisi robot berkaki, kita siapkan robot lhaby_01, divisi beroda adalah robot ambuih_li V3 dan divisi battle robot sipak_bula. Sementara untuk KRSI, tema yang dipertandingkan adalah tari topeng. Kita pun telah menyelesaikan robot yang diberi nama rank_mantiak untuk ikut berlomba," jelas Miftah
Untuk pembuatan robot-robot tersebut, tim telah melakukan riset selama tiga tahun. Sedangkan untuk perakitannya, dimulai sejak November tahun lalu.
"Semua robot telah ditanami mikrokontroler sehingga memiliki tiga sensor, yakni sensor gambar, jarak dan suara. Dengan sensor tersebut, robot bisa diperintahkan melalui suara atau cahaya. Selain itu, sensor jarak membuat robot bisa menghindari dinding sehingga bisa berjalan tepat ke arah yang dituju," terang Miftah.
Biaya pembuatan robot itu, kata dia, terbilang cukup mahal. Lantaran, satu unit robot rata-rata menghabiskan biaya hingga Rp15 juta. Itu dikarenakan semua komponen robot tersebut merupakan barang impor luar negeri.
Selama mengikuti kejuaran kontes robot, UBH telah mengikuti lima kali kejuaraan. Satu di antaranya, yakni pada 2009, UBH berhasil meraih juara III untuk kategori best desain. "Karena pengalaman tersebut, kita ditunjuk menjadi tuan rumah KRI Regional Sumatra untuk tahun 2012 nanti," ujarnya lagi.