Melatih Kreatifitas Dengan Origami Berita Terbaru
Sabtu, 24 September 2011
Universitas Bung Hatta

Melatih Kreatifitas Dengan Origami

Seni melipat kertas lebih dikenal dengan Origami adalah seni yang berasal dari Jepang. Seni melipat kertas tersebut menghasilkan kreatifitas yang lucu dan unik yang menyerupai bentuk-bentuk hewan, membuat siapapun dari usia anak-anak, remaja, sampai dengan dewasa menyukai permainan origami yang berasal dari negara Sakura tersebut. Bertempat di Aula Balairung Caraka Universitas Bung Hatta (Sabtu,24/9) Maya Hirai dari Sanggar Origami Indonesia ( SOI ) bekerjasama dengan Jurusan Sastra Jepang UBH dan dukung penuh oleh Sinar Dunia menggelar workshop dan langsung mengajarkan seni & teknik melipat kertas khas negara Sakura itu. Tak kurang 200-an peserta dari pelajar SMA,Guru Taman Kanak-Kanak dan Mahasiswa mengikuti acara tersebut dengan antusias. "Origami adalah kegiatan atau permainan melipat kertas yang bermanfaat untuk melatih otak dan motorik halus anak yang akhirnya dapat melatih dan mengasah kreatifitas anak. Selain itu, permainan ini akan menghilangkan ketergantungan anak-anak kepada jenis-jenis permainan moderen yang mengandung unsur kekerasan,a jelas Maya Hirai, Maya berharap origami dapat diterima oleh masyarakat Indonesia serta dapat menambah bekal & wawasan baru bagi para guru-guru TK,mahasiswa dan aktivis pendidikan sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran yang murah, menyenangkan, dan kreatif. Sementara itu, Rektor Universitas Bung Hatta yang di wakili Direktur LPPM Dr.Elfiondri,SS,M.Hum dalam sambutannya mengatakan, hasil sebuah origami merupakan suatu hasil kerja tangan yang sangat teliti dan halus, seni origami itu sendiri dipercayai bermula sejak kertas diperkenalkan pada abad pertama di zaman Tiongkok kuno pada tahun 105 Masehi oleh TsaTMai Lun. aDan kehadiran Maya Hirai, Direktur Origami Indonesia, salah seorang instruktur origami bersertifikat dari Nippon Origami Association (NOA), merupakan kebanggan tersendiri bagi UBH dan untuk perkembangan seni origami itu sendiri bagi dunia pendidikana ujar Elfiondri.(*Indrawadi-Humas UBH)