Mengumbar Kualitas Dalam Menjaring Mahasiswa Baru Berita Terbaru
Minggu, 06 Februari 2005
Universitas Bung Hatta

Mengumbar Kualitas Dalam Menjaring Mahasiswa Baru

Bagi calon mahasiswa baru, 12 Agustus nanti merupakan saat penting, apakah mereka diterima melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri pilihannya atau tidak. Sedangkan bagi lembaga pendidikan tinggi swasta, saat itu merupakan saat terbaik untuk menjaring mahasiswa baru. Berbagai cara dan trik promosi dilakukan untuk menebar daya pikat. Mulai dari kualitas, fasilitas pendidikan sampai jenjang pendidikan dosen-dosen pengajar. Yang pasti, lembaga-lembaga pendidikan tinggi swasta itu, baik universitas, akademi, sekolah tinggi maupun isntitut, saling mengumbar keunggulan masing-masing. Mereka mengklaim diri sebagai yang terbaik. Tujuannya hanya satu, menjaring mahasiswa baru sebanyak-banyaknya. Tidak diterima melanjutkan pendidikan di universitas negeri memang menyakitkan. Namun itu bukan berarti jenjang pendidikan sudah tamat. Kalau tak berminat melanjutkan ke jenjang pendidikan swasta S1, lembaga pendidikan lain yang menawarkan program diploma yang banyak menjamur bisa menjadi pilihan. Selain itu, program ekstensi yang dibuka perguruan tinggi negeri juga bisa menjadi alternatif. Begitu banyak pilihan. “Belum tahu, [i]da[/i], mau kuliah atau tidak lihat nanti saja,” jawab seorang remaja lulusan sebuah SLTA di Padang, ketika ditanyakan apa rencananya bila ternyata tidak diterima di universitas negeri yang dipilihnya. Dia mengaku, dalam ujian seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) lalu, menetapkan universitas negeri ternama di Jakarta dan Bandung sebagai pilihan untuk melanjutkan pendidikannya. Bagi universitas-universitas swasta, penerimaan mahasiswa baru kali ini bisa dikatakan ujian kemapanan, kredibilitas dan nama baik. Karena seperti diketahui, dalam penerimaan tahun lalu, beberapa universitas swasta terkenal di Padang mengalami penurunan jumlah mahasiswa baru dalam jumlah yang cukup signifikan. Walaupun tidak terlalu kentara, namun penurunan itu cukup membuat petinggi-petinggi di universitas bersangkutan kalang kabut. Karena itulah, lembaga-lembaga pendidikan swasta saat ini, dalam penerimaan mahasiswa baru kali ini saling mengklaim diri sebagai yang terbaik dan paling bermutu. Era globalisasi ini memang era persaingan mutu atau kualitas. Perguruan tinggi saat ini mau tidak mau harus berbasis pada mutu, sehingga bisa menghasilkan lulusan yang bermutu pula, dan cepat diserap lapangan kerja yang sangat terbatas di negeri ini. Universitas Bung Hatta (UBH) misalnya, walaupun menganggap penurunan jumlah mahasiswa baru itu sebagai hal biasa, namun pada tahun ini UBH menerapkan promosi yang lebih gencar. Selain itu, keunggulan di berbagai bidang juga diapungkan untuk menambah daya tarik. Namun aroma pesimis tetap tampak, salah satunya dengan menargetkan jumlah mahasiswa baru yang hanya 2.200 orang. Padahal, UBH memiliki kapasitas tampung mahasiswa baru sebanyak 2.500 orang. Aroma yang sama juga terlontar dari Rektor Universitas Eka Sakti (Unes), Andi Mustari Pide, yang ditemui beberapa waktu lalu. Walaupun tidak bersedia menyebutkan berapa jumlah penurunan mahasiswa baru di universitas yang dipimpinnya, namun dia mengakui saat ini terjadi tren penurunan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi swasta. Namun begitu, Andi tetap mengaku optimis bisa menggaet mahasiswa baru dalam jumlah besar, walaupun dia lagi-lagi tidak bersedia menyebutkan berapa target mahasiswa baru yang akan diterimanya tahun ini. Lembaga-lembaga pendidikan tinggi ini memang tidak sendiri dalam menjaring mahasiswa baru. Karena universitas-universitas negeri pun, walaupun telah menerima mahasiswa baru melalui SPMB, tetap saja masih menjaring mahasiswa baru melalui program ekstensinya masing-masing. Dibukanya program ekstensi ini, memang membuat persaingan di tingkat lembaga pendidikan tinggi swasta semakin ketat. Apalagi, program ekstensi universitas negeri sampai saat ini masih dianggap berbiaya murah, karena mereka mendompleng nama universitas negeri yang menjadi induk. Padahal sebenarnya, program ekstensi ini tidak ada bedanya dengan kuliah di lembaga pendidikan tinggi swasta. Selain bersaing dengan program ekstensi, lembaga pendidikan tinggi swasta ini masih harus bersaing ketat lagi dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi swasta yang menawarkan program pendidikan jangka pendek, seperti satu tahun, dua tahun atau tiga tahun. Selain itu, masih ada lagi lembaga-lembaga kursus pasca SLTA yang mengusung berbagai pendidikan keterampilan, dan tak jarang mengklaim mampu menempatkan lulusannya langsung bekerja usai kursus. Kiat seperti ini terbukti cukup efektif, karena sampai saat ini, sangat jarang lembaga-lembaga kursus singkat yang kekurangan mahasiswa setiap tahunnya. Bagi lulusan SLTA sendiri, lembaga-lembaga kursus ini memiliki daya tarik karena dianggap bisa memecahkan persoalan lapangan kerja setelah masa kuliah selesai. Seperti dikatakan salah seorang lulusan sebuah SLTA di Kota Bukittinggi, yang memilih untuk hijrah ke Padang guna melanjutkan pendidikan. Walaupun di Bukittinggi cukup banyak lembaga kursus pasca SLTA yang menawarkan berbagai program unggulan, namun dia tetap memilih Padang dengan asumsi, sebagai ibu kota provinsi, Padang menjanjikan lebih banyak peluang dibandingkan tetap berdiam di kota berhawa sejuk itu. Pilihan pun sudah ditetapkannya. Bila ternyata tidak lulus SPMB, dia akan melanjutkan pendidikan di lembaga kursus singkat, yang menawarkan program keahlian komputer dan bahasa Inggris. Tujuannya cukup jelas, ingin cepat mendapatkan kerja setelah kursus kelar. “Kalau kuliah di universitas swasta itu biayanya mahal. Setelah lulus pun, belum ada jaminan bisa cepat dapat kerja,” ujarnya saat ditemui beberapa hari lalu. Biaya mahal memang selalu identik dengan universitas swasta. Tapi apa hendak dikata, saat ini pendidikan sepertinya memang ditujukan hanya untuk orang-orang berduit saja. Jangankan untuk masuk perguruan tinggi, untuk masuk [i]play group[/i] pra taman kanak-kanak saja, saat ini orang tua harus rela mengeluarkan uang jutaan rupiah. “Apalagi universitas, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan selama kuliah?” tutur gadis berparas cantik ini. Soal mahalnya biaya pendidikan ini, secara gamblang diakui Andi Mustari Pide. Katanya, untuk mendapatkan pendidikan bermutu tinggi, mau tidak mau harus mengeluarkan uang dalam jumlah lumayan. Dia mencontohkan, untuk bisa mendapatkan staf pengajar berkualitas dan berpendidikan S2 atau S3, Unes harus menyekolahkan dosen-dosennya ke jenjang yang lebih tinggi. Belum lagi untuk melengkapi sarana dan prasarana serta berbagai fasilitas belajar mengajar seperti laboratorium, peralatan praktikum serta menyediakan gedung-gedung perkuliahan yang representatif. Hanya saja, mahasiswa yang telah membayar mahasl tersebut akan mendapatkan kembali uangnya dalam bentuk pendidikan bermutu, yang diberikan universitas melalui segala macam fasilitas yang tersedia. Berbeda dengan Andi, Pembantu Rektor I Universitas Bung Hatta (UBH) Nasfryzal Carlo, membantah UBH sebagai universitas mahal. Namun begitu, dia tidak menampik kalau di luaran UBH dicap sebagian masyarakat sebagai universitas mahal tempat kuliah anak orang kaya saja. “Mungkin itu terjadi karena orang sering melihat mobil-mobil mewah keluaran terbaru keluar masuk ke kampus ini. Kita kan tidak bisa melarang mahasiswa atau tamu yang datang ke sini harus menggunakan mobil keluaran tahun berapa dan mereknya apa. Jadi tidak benar kalau UBH ini universitas mahal,” ucapnya. Ditambahkan Carlo, UBH sendiri memiliki banyak mahasiswa yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Ini dibuktikan dengan beberapa program beasiswa yang ada di universitas tersebut, yang diperuntukkan bagi mahasiswa kurang mampu namun berprestasi. Kini, gerbang penerimaan mahasiswa baru sudah terbuka lebar. Lembaga-lembaga pendidikan tinggi swasta pun sudah saling menebar jaring pesona, dengan mengumbar keunggulan masing-masing guna meraih simpati calon mahasiswa baru. Berbagai trik promosi dilakukan dengan gencar. Namun persaingan yang semakin tajam tetap saja menjadi ganjalan. Hanya saja, mereka semua tetap mengaku sangat optimis bisa merebut mahasiswa baru dalam jumlah banyak. Tapi satu yang pasti, pilihan ada di tangan mahasiswa baru. Apakah universitas-universitas yang mengaku bergengsi itu akan tetap menjadi pilihan para lulusan SLTA, atau akan terus mengalami tren penurunan seperti tahun lalu? Kita tunggu saja. (Nanang)