Berita Terbaru
Senin, 25 April 2005
Universitas Bung Hatta
Mudrajat Kuncoro : "Tonjolkan Pemikiran Ekonomi Bung Hatta"
Universitas Bung Hatta (UBH) sebagai sebuah universitas yang menyandang nama besar Proklamator RI Bung Hatta, seharusnya lebih mencerminkan pemikiran-pemikiran ekonomi Bung Hatta. Karena Bung Hatta sendiri dikenal sebagai pemikir ekonomi kerakyatan dengan konsep kooperatifnya.
"Selama ini kan yang diajarkan hanya konsep-konsep ekonomi barat melalui buku-buku terbitan barat. Untuk contoh kasus pun diambil dari kejadian-kejadian yang ada di barat. Padahal konsep barat itu ekonomi kapitalistik. Yang kuat lah yang akan menguasaia pasar," ujar Mudrajat Kuncoro, ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, yang menjadi pembicara dalam seminar yang dilaksanakan Fakultas Ekonomi (FE) UBH, Senin (25/4) di Aula Gedung B Kampus I UBH Ulakkarang Padang. Dia menyebutkan, selama ini Bung Hatta dikenal dengan konsep ekonomi kerakyatan, dan paling mengerti bagaimana cara menerapkan ekonomi Pancasila yang yang memiliki konmsep koperatif. Artinya, tidak ada persaingan saling mematikan, karena yang ada saling kerjasama.
"Yang besar bekerjasama dengan yang kecil. Bukannya persaingan saling mematikan seperti yang terjadi sekarang. Yang berlaku sekarang ini adalah konsep ekonomi barat," ungkap Kuncoro. Disebutkan, dengan momentum 24 tahun UBH, bisa dilakukan peninjauan ulang kurikulum maupun silabus pengajaran, sehingga UBH benar-benar mencerminkan Bung Hatta Nomics.
"Sekarang ini jujur saja, UBH belum sedikitpun mencerminkan pemikiran ekonomi Bung Hatta. Misalnya Universitas Muhammadiyah yang tampil dengan pemikiran-pemikirana Muhammadiyah, tapi kenapa UBH tidak bisa menampilkan pemikiran-pemikiran ekonomi Bung Hatta?" katanya mempertanyakan. Tapi menurutnya, UBH masih memiliki kesempatan untuk melakukan reorientasi, kurikulum, pembelajaran, sehingga tidak menjadi bias dan hanya berpatokan kepada buku teks saja, yang umumnya keluarana barat.
"Ini tantangan besar bagi UBH, bagaimana memasukkan pemikiran-pemikiran Bung Hatta ke dalam kurikulum pengajaran. Bukan berarti kita anti terhadap kapitalis, tapi setidaknya konsep kapitalis itu harus di Indonesiakan. Ini yang harus dilakukan, karena konsep ekonomi barat itu harus disesuaikan lagi dengan keadaan kita, kalau mau diterapkan," lanjutnya. Hanya saja, dia sangat menyayangkan para pejabat negeri ini yang cenderung bersikap pragmatis, dan menginginkan hasil yang cepat.
"Kalau mau cepat merubah ekonomi, konsep kapitalistik memang bisa. Tapi dengan mengorbankan yang kecil-kecil. Dan Bung Hatta tidak pernah berpikiran begitu," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Panitia seminar, Syafrizal Chan menjelaskan, banyak tantangan dunia pendidikan belakangan ini, misalnya pendidikan yang tepat guna dan bukan cuma abstrak. Dalam rangka itulah, materi ajar harus dikemas sebagus mungkin, karena konsep ekonomi barat tidak bisa diterima begitu saja, melainkan harus diseleksi.
Seminar bertajuk "Kiat Merancang Silabus dan SAP dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Pembelajaran" tersebut, dilaksanakan program studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) FE UBH, yang mendapatkan bantuan dana dari Program Hibah A-1 Dirjen Dikti. Menurut Syafrizal, IESP berhasil mendapatkan bantuan sebesar Rp 400 juta setelah bersaing dengan 400 lebih jurusan yang mengajukan proposal sama.
"Dengan kegiatan ini, diharapkan proses belajar mengajar akan semakin lebih baik, serta bisa meneladani cara-cara baik Bung Hatta. Tapi memang masih perlu penjabaran lebih jauh tentang pemikiran-pemikiran ekonomi Bung Hatta," kata Syafrizal.(nal)
[b]Sumber : Nal - wartawan Padang Ekspres[/b]