Berita Terbaru
Jumat, 24 Juni 2005
Universitas Bung Hatta
Padang Masih Terendam
Padang punya cerita. Saat gencarnya isu wilayah rawan tsunami diperdebatkan ternyata masih ada sejumlah pemukiman yang berada di bawah peil pasang air laut. Entah siapa yang salah keluh Ir. Yaddi Sumitra M.T dosen Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta Padang.
Kontas jelas Yaddi, kebijakan tata ruang Kota Padang mestinya ditindaklanjuti dengan pengawasan dan pelaksanaan di lapangan. Naif rasanya dokumen tata ruang kota ibarat skenario tanpa akting pemain. Ataupun kalau ada akting, banyak yang lari dari topik cerita.
Meski sulit disebut satu persatu seluruh fakta dilapangan cukup jadi alasan kurang konsistennya pemerintah dalam menegakkan aturan yang salah satunya terkait tata ruang. Akibatnya yang akan jadi sasaran dirugikan jelas rakyat selaku komunitas yang memakai ruang dalam berbagai aktifitasnya.
Peristiwa tsunami di Aceh setidaknya jadi pelajaran bagi Padang bagimana harus mensiasati tata ruangnya. Tidak hanya ruang sebagai penampung aktifitas tapi juga pencerminan identitas. Kota yang beridentitas sembraut cerminan pemerintah yang juga sembraut. Sembraut tak hanya dalam tata autran tapi dalam mengeluarkan kebijakan.
Sebagai contoh, saat sekarang masih ada pemukiman penduduk yang berada di bawah peil pasang air laut. Terbukti saat air laut pasang wilayah tersebut berendam. Hal itu terdapat disejumlah rumah di kawasan Ulak Karang tak berapa jauh dari kampus Universitas Bung Hatta Padang serta di sebagian wilayah perumahan parupuk raya yang sejarahnya dari daerah rawa.
Fakta itu menunjukan bahwa dalam memberikan izin pembangunan pemerintah tak selektif. Dampaknya jelas akan menimbulkan kerugian terhadap masyarakat yang memang betul-betul ‘buta’ dengan analisis bencana. ***
[dikirim oleh [b]Hendri[/b]]