Pasca Keberadaan Kampus II UBH: Ramai dan Sempit, Jalan Maransi Mesti Diperlebar Berita Terbaru
Rabu, 26 Oktober 2011
Universitas Bung Hatta

Pasca Keberadaan Kampus II UBH: Ramai dan Sempit, Jalan Maransi Mesti Diperlebar

Kawasan Aia Pacah awalnya merupakan daerah yang lengang menghiasi berbagai pemberitaan di berbagai media masa dengan tag line Padang Pinggir Kota (Papiko), saat ini secara perlahan benar-benar akan berubah menjadi kota. Angkutan kota yang bisanya lengang dan enggan mengantarkan penumpangnya hingga ke Aia Pacah meskipun trayeknya ada kesana, kembali bergairah dan ramai. Perubahan itu terlihat jelas, pasca telah digunakannya Kampus II Universitas Bung Hatta sebagai tempat perkuliahan bagi mahasiswa baru, tidak kurang sekitar 6000-an mahasiswa Universitas Bung Hatta setiap harinya kuliah di kampus baru yang letaknya persis di depan bekas terminal Bingkuang Aia Pacah. Keramaian daerah tersebut terlihat jelas, ketika Universitas Bung Hatta juga melaksanakan prosesi Wisuda ke 55 di Gelanggang Olah Raga dan Kesenian Kampus II UBH, bersamaan pula dengan pelaksanaan wisuda Universitas Baiturahhmah yang keberadaannya telah lebih dahulu di daerah itu. Konsekwensi dari perubahan tersebut, tidak terlepas dari akan dipindahkannya pusat pemerintahan Kota Padang di bekas Terminal Bingkuang Aia Pacah, namun hendaknya harus di iringi dengan segera infrastruktur menuju ke pusat pelayanan masyarakat tersebut. Saat ini otomatis hanya ada dua jalur alternantif menuju pusat pemerintahan tersebut, melalui jalur By Pass dan dari, atau melalui Jalur Siteba a" Durian Ratus a" Parak Rumbio - By Pass. Namun saat ini, jalur yang paling ramai di lewati adalah Siteba a" Kurao Pagang - Jalan Maransi - By Pass. Jalan selebar 2.5 meter tersebut saat ini sangat ramai dan sempit. Beberapa buah jembatan sepanjang tersebut telah lebar, meski jalannya cukup mulus tapi sangat sempat dan rawan kecelakaan. Zuhafni, salah seorang warga Jalan Maransi, saat dimintai pendapatnya mengatakan, pasca keberadaan kampus Universitas Bung Hatta, jalan tersebut sangat ramai, tiap hari bahkan sampai malam, belum lagi truk-truk proyek yang lalu lalang. aTiap hari ada saja terdengar terjadi kecelakaan, sepeda motor jatuh, mobil bergeser dan juga kemacetana ujar Zuhafni. Menurutnya lagi, sebenarnya sudah bagus dengan aspal holmik. Tapi jalannya masih sempit. Jadi harus dilebarkan. Sebab saat berpapasan dengan mobil akan kesulitan. aKami setuju dan bangga, daerah kami menjadi pusat pendidikan dan pemerintahan, tapi masalah infrastruktur, terutama jalan harus dibenahi dan di perlebar, selain itu jalan Maransi ini kan juga sebagai jalur evakuasi dari ancaman bencana tsunamia ucap Zuhafni dengan tegas.(**Indrawadi-Humas Universitas Bung Hatta)