Sabtu, 10 Desember 2011
Universitas Bung Hatta
Pelajaran Matematika Tulang Punggung Pendidikan Karakter
Matematika yang selama ini hanya dimaknai sebagai mata pelajaran biasa di sekolah, sebenarnya bisa jadi sarana membangun karakter siswa, kata Prof.Jozua Sabandar,MA,Ph.D dari Universitas Pendidikan Indonesia-Bandung saat menyampaikan makalahnya dihadapan 300-an peserta seminar sehari aPendidikan Karakter dalam Pembelajaran Matematikaa, yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta Sabtu,10/12 di Aula Balairung Caraka, Gedung B Kampus I UBH Ulak Karang.
Ia juga mengatakan, dalam pembelajaran matematika sebenarnya mengandung nilai-nilai pendidikan karakter, yakni konsistensi, taat asas, disiplin, keseimbangan, kreatif, dan inovatif.
Kata dia selama ini pembelajaran matematika selalu dilakukan dengan metode konservatif yang akhirnya hanya menghasilkan seorang yang memiliki kemampuan perakit ilmu, bukan pengembang ilmu, padahal, ada muatan pendidikan karakter, misalnya prinsip aritmatika yang dapat digunakan untuk pembelajaran toleransi, sehingga siswa tidak sekadar diajarkan tentang teori-teori matematika.
"Ada pula nilai kooperatif yang bisa diajarkan melalui matematika. Namun, hal ini tentunya memerlukan kesadaran guru terhadap hakekat matematika dan kemampuannya mengajarkan pada siswa," ujarnya lagi.
Sementara itu, Prof..Dr. Fachri Ahmad,MSc yang juga menjadi pembicara mengatakan, pendidikan karakter adalah upaya mendidik peserta didik dalam amembiasakan dirinyaa untuk berpikir, bersikap dan berprilaku yang positif, sesuai dengan nilai-nilai yang tumbuh daricitra lingkungannya, seprti budaya, agama maupun nasionalisme.
aKepribadian itu merupakan sesuatu yang dapat berubah dan dapat tumbuh, oleh sebab itu kepribadian lebih ditentukan oleh apa yang dilakukan dankerjakan, bukan oleh apa yang dikatakan atau diyakini, dan segyogianya pikiran, sikap kadang tidak sejalan pada diri seseorang yang berkepribadian kukuha, ujar Fachri.
Ia menambahkan, yang perlu diarifi adalah, bahwa manusia itu selalu defisien yang tidak lengkap dalam kepibadiannya, oleh sebab itu semua nilai-nilai yang terkadung patut ditumbuh kembangkan bagi setiap individu.
Pemakalah ketiga Rita Desfitri, Dosen FKIP UBH dengan makalahnya aPembelajaran Matematika Sebagai Tulang Punggung Untuk Pendidikan Karaktera menyebutkan bahwa, pembelajaran matematika tidak hanya cukup mementingkan rasio, dimana siswa hanya sebagai pemakai ilmu.
aPenilaian sebaiknya tidak hanya mengukur pencapaian siswa dalam pengetahuan dan ketrampilan matematika, tetapi juga pada pengembangan karakternyaa, imbuh Rita.
Ia menambahkan, pembelajaran matematika memfasilitasi proses belajar siswa untuk mnguasai berbagai kompetensi matematis. Di balik itu, siswa bukan saja dapat menguasai berbagai kompetensi matematis namun juga dapat mengembangkan dan mewujudkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Hal ini memberi pengertian bahwa pembelajaran matematika dapat turut membangun budaya dan karakter bangsa. (**Indrawadi-Humas UBH).