Terumbu karang dan Magrove, efektif redam tsunami Berita Terbaru
Minggu, 01 Mei 2005
Universitas Bung Hatta

Terumbu karang dan Magrove, efektif redam tsunami

Luas kawasan terumbu karang di Sumatera Barat diperkirakan mencapai 25.984 ha, selain memiliki fungsi ekologis yang sangat besar sebagai tempat hidup ikan yang bernilai sangat tinggi, terumbu karang seperti halnya pohon bakau juga efektif dalam meredam gelombang tsunami. Hal tersebut diungkapkan oleh Ir. H. Yempita Efendi, MS, seorang peneliti terumbu karang dari Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, pada “Haluan” kemarin. Menurutnya evaluasi pasca tsunami memperlihatkan beberapa negara yang memiliki hutan mangrove dan terumbu karang relatif terhindar dari dashyatnya terjangan tsunami. Oleh karena itu, beberapa negara ingin menghijaukan pantai dan melarang bangunan di pinggir pantai. Keberadaan hutan mangrove dan terumbu karang terbukti memberikan dampak kerusakan yang minimal. “Kelompok konservasi World Wide Fund for Nature (WWF) mengatakan negara-negara yang memelihara mangrove mengalami tingkat kematian dan kerusakan lebih rendah dari terjangan tsunami dan topan. Itu terjadi karena negara-negara tersebut sangat disiplin melindungi hutan mangrove dan terumbu karang,”ungkapnya. Menurutnya lagi, Indonesia memiliki terumbu karang terluas didunia (60.000 km2), tetapi hanya tinggal sedikit saja (6,20%) dalam kondisi yang masih sangat bagus. Selain itu, akibat gempa bumi dan tsunami yang terjadi beberapa waktu lalu, terumbu karang diperkirakan turut rusak berat dan perlu rehabilitasi. “Meskipun belum ada survei dan laporan ilmiah tentang berapa luas kerusakan pantai dan terumbu karang yang perlu rehabilitasi, mengembalikan alam merupakan salah satu agenda penting yang harus dilakukan mengingat potensinya yang besar untuk kepentingan kesejahteraan manusia,” katanya. Menurutnya lagi pada awal tahun 1998, kerusakan terumbu karang di Indonesia mencapai 100%. Akibat melonjaknya populasi fitoplankton beracun yang menyebabkan kematian terumbu karang. Namun sejak tahun 2000 lalu kondisinya sudah mulai membaik. “Terumbu karang adalah rumah bagi ribuan hewan dan tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Berbagai jenis hewan mencari makan dan berlindung di ekosistem ini. Berjuta penduduk Indonesia bergantung sepenuhnya pada terumbu karang sebagai sumber pencaharian,” ungkapnya lagi. Jumlah panenan ikan, kerang dan kepiting dari terumbu karang secara lestari di seluruh dunia dapat mencapai 9 juta ton atau sedikitnya 12% dari jumlah tangkapan perikanan dunia. Selain nilai ekonominya, terumbu karang juga merupakan laboratorium alam yang sangat unik untuk berbagai penelitian yang dapat mengungkapkan penemuan yang berguna bagi kehidupan manusia. Banyak manfaat terumbu karang yang berguna untuk kepentingan manusia . Antara lain sumber makanan dengan protein tinggi., sumber obat-obatan, sumber penghasilan berupa penjualan hasil tangkapan seperti ikan, udang dan agar-agar. Dalam usaha pariwisata seperti menyelam dan memancing. Serta melindungi pantai dari pukulan ombak dan hantaman arus dan juga sumber bahan bangunan. Lebih jauh dia mengatakan bahwa bencana alam tak bisa dihindari, tetapi banyak cara untuk mengurangi kerusakan yang diakibatkannya seperti memelihara bakau dan terumbu karang. Namun menurutnya, bakau hanya bisa tumbuh pada daerah tertentu sehingga seringkali tidak berhasil bila dikembangkan didaerah misalnya seperti Pantai Padang. “Bakau hanya bisa hidup pada daerah tertentu saja, sehingga penanaman Bakau selama ini relative tidak ada hasilnya. Sudah banyak proyek penanaman Bakau yang dilakukan, namun tokh hasilnya sia-sia . Lebih baik dilakukan penanaman pinus, lebih cocok untuk struktur iklim di Sumbar,” sarannya. (ita-wartawan Haluan)