Lewati ke konten utama
Tim Peneliti FPIK Universitas Bung Hatta Kaji Indek Kesehatan Ekosistem Lamun (Seagrass)  Perairan Sumbar Fakultas
Rabu, 26 Agustus 2026
Ubay

Bagikan:

Tim Peneliti FPIK Universitas Bung Hatta Kaji Indek Kesehatan Ekosistem Lamun (Seagrass) Perairan Sumbar

Tim peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta laksanakan pengajian indek Kesehatan ekosistem lamun (Seagrass) sebagai dasar dalam mengevaluasi kualitas lingkungan perairan Sumatera Barat sebagai upaya pengelolaan konservasi pesisir dan kelautan.

Koordinator peneliti Dr. Suparno, M.Si menyebutkankegiatan tersebut merupakan bagian dari kegiatan penelitian internal Tahun 2026 dari Direktorat Riset-Inovasi, PKM dan Kemitraan Universitas Bung Hatta dengan anggota tim dari Dosen FPIK Universitas Bung Hatta Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi., M.Sc dan Bukhari, S.Pi, M.Si serta mahasiswa FPIK adalah Ihksan Diva Hutrisman, Hanafiah Hasibuan dan Rahman Amanda.

Menurut Suparno, Lamun (Seagrass) adalah salah satu ekosistem pesisir yang produktif yang merupakan tumbuhan berbunga yang mempunyai rhizoma, daun dan akar sejati yang hidup terendam di dasar laut. Fungsi lamun sebagai produsen detritus dan nutrien, sebagai tempat belindung, mencari makan, tumbuh besar dan tempat memijah bagi berbagai biota laut.

"Manfaat ekosistem lamun untuk budidaya laut, pariwisata, dan sumber pupuk hijau. Lamun (seagrass) merupakan salah satu penyimpan karbon biru (blue carbon) paling penting di laut, terutama karena kemampuannya menyerap COâ‚‚ melalui fotosintesis dan kemudian mengunci karbon dalam biomassa serta sedimen dasar laut," sebutnya.

Berdasarkan Peta Lamun yang dikeluarkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan tahun 2025, luas lamun Sumatera Barat ± 3.471,77 Ha, dengan lamun terluas di Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Penelitina ini bertujuan penelitian tersebut antara lain menganalisis indeks kesehatan ekosistem lamun di wilayah pesisir Sumatera Barat sebagai dasar dalam mengevaluasi kualitas lingkungan perairan.

"Utgensinya adalah potensi sumberdaya lamun yang cukup besar di perairan Sumatera Barat, namun hingga saat ini informasi mengenai kondisi kesehatan ekosistem lamun di kawasan ini masih terbatas dan belum terintegrasi secara komprehensif ditengah-tengah tekanan perkembangan aktivitas ekonomi dan pertumbuhan penduduk di wilayah pesisir yang terus meningkat," sebutnya.

Ia juga menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan di 14 lokasi pemantauan yang tersebar di Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang, Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Kepulauan Mentawai

Dari hasil penelitian dan pengamatan lapangan ditemukan 8 jenis lamun dengan jenis Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Syringodium isoetifolium, Halophila pinifolia, Halophila ovalis dan Halodule uninervis.

Jenis lamun yang terbanyak terdapat perairan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Lamun yang tumbuh di daratan induk Sumatera (Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang dan Kabupaten Pasaman Barat) yang tumbuh hanya 3 jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Cymodocea rotundata.

Berdasarkan analisa data lapangan, indeks Kesehatan lamun di perairan Sumatera Barat nilai berkisar 0,52 -0,69 dengan status kondisi buruk sampai sedang. Banyak faktor yang dapat mengakibatkan penurunan luasan dan kondisi kesehatan ekosistem padang lamun di perairan Sumatera Barat antara lain adalah tingginya tutupan makroalga akan membuat adanya kompetisi dalam pemanfaatan ruang dan nutrien antara lamun dan makroalga serta kecerahan perairan, aktivitas penangkapan ikan, fenomena perubahan cuaca yang ekstrim serta sedimentasi yang tinggi.

Suparno dan tim berharap, luaran kegiatan Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun (Seagrass) dapat dijadikan sebagai indikator kesehatan perairan pesisir Sumatera Barat dalam pengelolaan sumberdaya, pesisir dan kelautan bagi pemerintah berbasis data ilmiah dan artikel ilmiah internasional bereputasi.

Ia juga berharap, mengingat pentingnya peranan padang lamun bagi kelangsungan masyarakat pesisir sebagai penyedia stok ikan dan biota laut yang memiliki nilai ekonomi dan untuk mewujudkan kelestarian dan peningkatan kondisi lamun, perlu meningkatkan kolaborasi dengan semua pihak untuk dapat menghimpun seluruh kondisi padang lamun di pesisir Sumatera Barat agar kedepannya dapat dilakukan pengelolaan berkelanjutan yang lebih baik.