Trauma Healing :Mengobati Trauma Anak-Anak Korban Bencana dengan Seni Berita Terbaru
Kamis, 15 Maret 2007
Universitas Bung Hatta

Trauma Healing :Mengobati Trauma Anak-Anak Korban Bencana dengan Seni

Bencana Gempa 5,8 SR yang menguncang Sumatera Barat, 6 Maret lalu, tidak saja menyebabkan banyak korban jiwa ataupun menimbulkan kerusakan atas ratusan rumah dan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan trauma yang luar biasa. Jika diamati dengan jeli, beberapa hari paska gempa-hingga saat ini, sensitivitas masyarakat Sumatera Barat, khususnya daerah rawan atas gempa sangat tinggi. Asal terjadi gempa susulan, masyarakat kontak menjadi panik. Temuan tim relawan LIPI Community Preparedness, BEM-UBH dan Komunitas Siaga Tsunami(KOGAMI), hingga satu bulan paska gempa, kasus hypertensi banyak ditemukan diderita masyarakat, rata-rata mengeluh tegang dan takut jika terjadi gempa susulan. Kedua indikasi ini menunjukan tingginya tingkat trauma yang dialami masyarakat. Parahnya lagi, diantara para korban bencana gempa ada anak-anak. Menurut Tim LIPI Community Preparedness, Kurnia Hakim, anak-anak yang trauma seringkali sulit dilepaskan dari trauma yang dialami. Karena itu, dibutuhkan terapi terpadu, agar lebih efektif dalam memecahkan trauma anak tersebut. Penanganan trauma anak biasanya memerlukan metode-metode khusus sesuai perkembangan kepribadian anak dan tingkat traumatisnya. Anak yang sudah sekolah, biasanya mudah melupakan traumanya melalui berbagai permainan olah fisik ataupun memancing pemikiran-pemikiran sederhana, metode a~bermainaTM seperti metode tebak-tebakan, sulap ataupun olah kreasi dari bahan sekitar. Sedangkan anak-anak balita akan lebih menyukai bermain mobil-mobilan yang tinggal pakai-agak rusak pun tak mengapa, bermain pembayangan, asal gambar dan pantomim yang lucu-lucu serta sekedar mendengar dongeng lucu tentang binatang ataupun tumbuhan serta kehidupan yang belum pernah mereka lihat. Menyadari kekayaan metode dalam menghilangkan trauma, relawan LIPI Community Preparedness, BEM-UBH dan Komunitas Siaga Tsunami(KOGAMI), memulai upaya trauma healing mereka dengan menggunakan seni dan bermain, sekaligus memberikan pendidikan mitigasi bencana. Menurut penuturan Kurnia, 3 tim trauma healing telah melaksanakan aktivitasnya di SDN 37 Ladang Laweh dan 38 Gantiang, SDN 08 Gunung Rajo Batipuh, SD 01 Koto Singkarak dan di Solok. Kegiatan trauma healing dilaksanakan dengan pendekatan seni rupa seperti mengambar, mewarnai, modeling dan bernyanyi. Sementara itu pada malam harinya di tempat pengunsian lapangan SD 08 Gunug Rajo, tim juga memberikan trauma healing juga untuk ibu-ibu dan para orang tua. Berbagai metode ini diharapkan akan dapat mengarah penguatan daya kreasi anak baik dalam kreasi bentuk, warna, suara dll untuk lepas dari trauma bencana. Sehingga secara perlahan masa depan anak sudah mulai diperkenalkan akan nilai-nilai kebersamaan untuk pulih dari trauma paska bencana. Pada interaksi lebih lanjut, anak-anak tersebut secara tidak langsung akan dapat mendorong pemulihan dari trauma pada saudara ataupun orangtua mereka. Melalui anak-anak tersebut dapat dibangun partisipasi kaum muda ataupun orangtua.(Indrawadi,S.Pi)