Universitas Bung Hatta Masuk Papan Atas Berita Terbaru
Rabu, 27 Mei 2009
Universitas Bung Hatta

Universitas Bung Hatta Masuk Papan Atas

[left]Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah X (Sumbar, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau) Prof. DR. Ir. Bujang Rusman mengatakan, selaku perpanjangan tangan DIKTI di daerah, tugas Kopertis adalah membina Perguruan Tinggi Swasta (PTS) hingga suatu saat kondisinya sama atau melebihi Perguruan Tinggi Negeri (PTN). [left][/left] "Apabila tidak bisa dibina, ya dibinasakan saja," kata Bujang Rusman kepada sejumlah wartawan usai acara ucap janji dan pemasangan uniform mahasiswa Akper Nabila Padang Panjang Angkatan ke-5, pertengahan pekan lalu di Padang Panjang. [left][/left] Bujang menyebutkan, saat ini jumlah PTS dibawah binaan Kopertis Wilayah X sebanyak 230 buah, dengan 700 program studi dan 90 ribu mahasiswa. Dari jumlah sebanyak itu, ternyata yang masuk kategori papan atas (bagus) hanya 10 % saja. Sedangkan 90 % lagi masuk kategori papan tengah (sedang) dan papan bawah (jelek).[/left] Diantara PTS yang berhasil masuk kategori papan atas itu adalah Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Universitas Sahid Internasional Batam, Universitas Putra Batam, STKIP PGRI Padang, Politeknik Caltex, Unbari dan Universitas Dinamika Bangsa Jambi. "Diantara indikator sebuah PTS itu dikatakan baik adalah statusnya sudah terakreditasi, mampu mendapatkan berbagai dana hibah dan memiliki evaluasi program yang kontiniu. Dan yang terpenting lagi, masyarakat percaya kepada PTS tersebut," jelasnya. Lalu sudah berapa banyak PTS yang dibinasakan oleh Kopertis Wilayah X? Menurut Bujang, sebenarnya yang membinasakan itu bukan pihaknya, melainkan masyarakat. Ketika masyarakat tak lagi percaya, itu artinya PTS itu harus dibinasakan dan Kopertis hanya menyarankan agar pengelola menutupnya. "Sejauh ini yang ditutup (dibinasakan-red) belum ada PTS secara keseluruhan, melainkan program studi. Setidaknya ada 30-an program studi yang ditutup di Kopertis Wilayah X," terangnya. Menurutnya, salah satu penyebab sebuah program studi tidak bisa berkembang lantaran pembukaannya tidak mempertimbangkan selera pasar. Banyak PTS yang membuka prodi yang ikut-ikutan, sehingga akhirnya satu persatu tumbang. "Jangan latah buka program studi, lihat apa selera pasar dan cari yang spesifik. Akper Nabila ini misalnya, sebagai sebuah akademi yang sudah terakreditasi, ia bisa menjadi salah satu PTS yang maju dan mendapat kepercayaan dari masyarakat," pungkasnya. ( Sumber, Singgalang,25/05-09)