Universitas
Universitas Bung Hatta Tuan Rumah Padang Old Town Ecosystem International Symposium 2026
Universitas Bung Hatta menjadi tuan rumah kegiatan Padang Old Town Ecosystem International Symposium 2026 yang menjadi bagian perayaan Hari Jadi Kota Padang ke-357. Kegiatan ini bertempat di Bung Hatta Convention Hall, Kampus Proklamator I Universitas Bung Hatta, Kamis (6/8/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Road to Gastronomy City: Warisan, Sungai, Pasar, dan Lingkungan untuk Pariwisata Berkelanjutan” tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, mitra internasional, dan pemangku kepentingan untuk membahas strategi pengembangan Kota Tua Padang sebagai kawasan warisan budaya yang berkelanjutan sekaligus mendukung cita-cita Padang menuju UNESCO Creative City of Gastronomy.
Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Diana Kartika, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Padang, Pemerintah Kota Hildesheim, HAWK Hildesheim, UNDP Indonesia, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, serta seluruh mitra yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurutnya, simposium internasional ini menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dan mitra internasional dalam merumuskan masa depan Kota Tua Padang.
“Penyelenggaraan simposium ini memiliki makna yang sangat penting karena menjadi salah satu implementasi dari hubungan persahabatan dan kerja sama yang telah terjalin antara Kota Padang dan Kota Hildesheim. Selama hampir empat dekade, hubungan kedua kota terus berkembang melalui berbagai program di bidang pendidikan, kebudayaan, lingkungan, dan pembangunan perkotaan,” ujar Diana.
Diana menegaskan, Kota Tua Padang merupakan salah satu aset paling berharga yang dimiliki Kota Padang. Kawasan tersebut tidak hanya menyimpan bangunan-bangunan bersejarah dengan nilai arsitektur, tetapi juga merekam perjalanan sejarah perdagangan internasional dan kehidupan masyarakat multietnis yang turut membentuk identitas Kota Padang.
“Menjaga kelestarian Kota Tua Padang bukan sekadar menjaga bangunan fisik, melainkan menjaga memori kolektif dan identitas kota. Tema yang kita angkat hari ini sangat relevan karena menjadi fondasi utama dalam memperkuat identitas gastronomi Kota Padang,” katanya.
Ia menambahkan, Kota Tua Padang memiliki posisi strategis sebagai kawasan penguat dalam mewujudkan Padang sebagai UNESCO Creative City of Gastronomy. Keterkaitan antara warisan sejarah, sungai, pasar, budaya, dan kuliner menjadi modal penting dalam membangun ekosistem gastronomi yang tidak hanya berorientasi pada pariwisata, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Wali Kota Padang Fadly Amran, BBA, menyampaikan pengelolaan sampah perkotaan dan pemulihan ekologis Sungai Batang Arau merupakan dua tantangan besar yang perlu ditangani secara terpadu. Menurutnya, persoalan di kawasan hilir Sungai Batang Arau tidak terlepas dari limpasan drainase serta limbah rumah tangga dan kawasan komersial.
Fadly meyakini penyelesaian persoalan lingkungan di kawasan Sungai Batang Arau akan memberikan dampak langsung terhadap upaya menghidupkan kembali kawasan bersejarah Kota Tua Padang.
“Kami meyakini keberhasilan revitalisasi Sungai Batang Arau akan menjadi titik awal kebangkitan kawasan Kota Tua Padang sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Kami berterima kasih kepada Bapak dan Ibu semua yang hadir dan memberikan dukungan untuk Kota Padang,” ungkap Fadly.
Komitmen tersebut mendapat dukungan dari UNDP Indonesia. UNDP Resident Representative in Indonesia, Sara Ferrer Olivella, M.A., menyampaikan kesiapan UNDP untuk mendukung upaya Kota Padang dalam mempercepat penerapan ekonomi sirkular serta penguatan sistem pelacakan sampah plastik dari darat hingga ke laut.
“Padang memiliki modal kuat menjadi destinasi wisata yang bersih, tangguh, dan berbasis ekonomi sirkular melalui digitalisasi, inovasi, serta kolaborasi antarkota. Revitalisasi Sungai Batang Arau juga berpotensi menjadi contoh nature-based solutions yang memperkuat kesehatan ekosistem, mengurangi risiko perubahan iklim, dan menghadirkan ruang publik yang berkualitas,” papar Sara.
Dukungan terhadap penguatan kerja sama juga disampaikan Wali Kota Hildesheim, Dr. Ingo Meyer. Hubungan antara Padang dan Hildesheim yang telah terjalin sejak 1988 dinilai menjadi fondasi penting untuk memperluas kolaborasi pada bidang lingkungan, pendidikan, kebudayaan, dan pembangunan perkotaan.
“Kami berkomitmen mempererat kerja sama melalui langkah-langkah strategis baru. Kami juga menantikan kunjungan balasan delegasi Kota Padang ke Hildesheim pada tahun 2027 sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua kota,” ujar Ingo Meyer.
Simposium ini menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional. Sara Ferrer Olivella, M.A., tampil sebagai keynote speaker dengan materi Global Partnerships for Sustainable Waste Management. Sementara itu, Dr. Joni Wongso, M.T., membahas Old Town Conservation; Michell Rohmann, Expert ZAH Hildesheim, Jerman, membahas Batang Arau River Revitalization; Dr. Didi Aryadi, M.Si., membahas Waste Management; Ms. Supinya Srithongkul, Deputy Mayor of Koh Samui, Thailand, membahas Sustainable Tourism; serta Payap Somjainuk, Deputy Mayor of Chanthaburi, Thailand, membahas Cultural, Food and Jewelry. Diskusi dimoderatori oleh Dr. Willy Satria, M.Pd., akademisi Universitas Bung Hatta.
Pelaksanaan Padang Old Town Ecosystem International Symposium 2026 ini turut berkontribusi terhadap beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), SDG 12 (Responsible Consumption and Production), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi internasional, dan mitra antarkota dari Indonesia, Jerman, dan Thailand.