Berita Terbaru
Rabu, 23 Mei 2007
Universitas Bung Hatta
"Website" Kampus tidak Populer?
Seberapa sering mahasiswa membuka website kampus? Boleh jadi, situs-situs yang lain lebih menarik dan lebih sering ditengok, dibandingkan website kampus sendiri. Memang, website kampus kerap diterpa kritik karena tampilan dan isinya yang "gitu-gitu aja". Walhasil, kehadirannya pun menjadi kurang populer di kalangan mahasiswa ataupun warga kampus lainnya.
Website Universitas Bung Hatta (www.bung-hatta.ac.id) misalnya tak ubahnya sebuah wajah kampus di dunia maya. Untuk kepentingan bisnis, keberadaan website merupakan salah satu langkah strategis mengembangkan usaha. Bayangkan, kalau setiap pihak mempunyai website. Butuh apa pun mungkin tinggal browsing di internet. Di dunia pendidikan, unsur teknologi informasi (TI), yang di dalamnya juga termasuk website kampus, sudah menjadi salah satu syarat akreditasi perguruan tinggi.
Fungsi website kampus, setidaknya terbagi menjadi 2 bagian. Untuk ke arah luar, website amat baik sebagai sarana publikasi. Misalnya, untuk mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar kota atau luar negeri. Informasi awal dari mulai alamat, kondisi kampus, jurusan yang ada, biaya, sampai formulir online, bisa didapatkan tanpa harus mendatangi tempatnya. Apalagi di musim penerimaan mahasiswa baru seperti saat ini, website dipakai sebagai media pengumuman nama-nama mahasiswa yang lulus seleksi.
Untuk ke dalam, website dapat digunakan sebagai pendukung sarana belajar-mengajar. Selain memuat informasi tentang mata kuliah tertentu, website juga dapat digunakan sebagai media komunikasi antara dosen dan mahasiswa. Koleksi berbagai hasil penelitian dan artikelpun merupakan salah satu layanan memberi manfaat, baik bagi civitas academica kampus tersebut maupun masyarakat pada umumnya.
Website kampus tergolong memadai, jika memberikan informasi yang lengkap dan updating yang rutin. Kampus melihat, sebenarnya berbagai website kampus yang ada sudah cukup informatif. Dari mulai berita singkat, agenda kegiatan, profil kampus, fakultas yang tersedia, dsb., sudah tersedia di sana. Faktor updating inilah yang sering jadi penentu sebuah website akan dikunjungi kembali atau tidak. Kalau isinya cenderung basi, untuk apa?
Lalu, seperti apa website kampus-kampus di luar negeri? Kalau melihat website University of California Berkeley (www.berkeley.edu), Massachusetts Institute of Technology (www.mit.edu), dan Harvard University (www.harvard.edu), ketiganya berturut-turut meraih peringkat atas untuk kategori world rank versi [i]Webometrics Ranking of World Universities[/i] (http://www.webometrics.info/), kurang-lebih bercirikan simpel. Seperti situs Google yang tidak terlalu mementingkan desain, namun lebih mengutamakan kecepatan dan kumpulan data, begitu juga dengan 3 website tersebut yang sepertinya lebih mengutamakan informasi.
Berbicara [i]up date[/i] website UBH (www.bung-hatta.ac.id), sejauh ini di update oleh bagian humas, merangkap sebagai admin utama. Praktis, masalah kekurangan SDM ini berdampak pada website yang dikelolanya. Cerita semacam itu, saat ini bisa diselesaikan dengan memberdayakan mahasiswa, insan pers yang kebetulan sedang meliput di UBH maupun meminta izin pada harian lokal yang on-line dan media on-line lainnya menampilkan berita di website UBH dengan menuliskan sumber berita.
Sebagai sebuah website dengan hit ( jumlah halaman yang diakses pengunjung) lebih dari 250 ribu tiap bulannya tentu risiko selalu ada. "Website itu seperti rumah, makanya kita harus memelihara rumah dengan baik. Sama halnya dengan security di websitea, kata Gufron, yang merancang website UBH.
[b]Sentuhan emosional[/b]
Membangun sistem keredaksian merupakan salah satu upaya pendekatan pada mahasiswa dan memudahkan pengamatan perkembangan kampus. Pendokumentasian kegiatan pun kemungkinan besar bisa lebih lancar. Bukan tidak mungkin, hasil akhirnya website kampus jadi populer dan sering dikunjungi banyak orang.
"Yang pasti, sekarang masih lebih tenar [i]friendster[/i] dibanding website kampus," kata Gufron sambil tertawa. Gufron mengaku salut dengan friendster yang bisa membuat banyak orang tertarik. "Kuncinya, harus ada sentuhan emosional. Seperti kolom testimonial di friendster itu," kata Gufron lagi.
Formula yang mirip sebenarnya sudah diterapkan di website UBH. Misalnya, adanya fasilitas mendaftar online, forum diskusi, fasilitas e-mail dengan kapasitas 2GB, chatting, komentar, mengirim tulisan dan artikel dengan mudah, bahkan akan dikembangkan dengan menyediakan blog untuk setiap mahasiswa.
Lebih dari itu, partisipasi aktif sangat dibutuhkan untuk melengkapi content website kampus.Tapi untuk mahasiswanya juga juga harus aktif, kadang civitas akademika tidak memberi tahu kalau punya kegiatan yang layak di publikasikan di website kampus.