Indeks Artikel

Oleh Bernard T.F Pangaribuan, S.Hut | berndtfp@yahoo.com
Tanggal Publikasi: 19 Januari 2010

HARI BUMI DAN ETIKA EKOLOGIS
oleh: Bernard T.F Pangaribuan*)




Apakah Anda secara sadar merasakan perubahan/perbedaan iklim kini dibanding 10 tahun lalu? Apakah Anda merasakan ketidakteraturan musim/cuaca akhir-akhir ini? Jika ya, berarti Anda sependapat dengan wakil dari sebanyak 189 negara anggota PBB yang concern dan aware terhadap adanya perubahan lingkungan hidup dan berkepentingan untuk mengadakan konferensi internasional mengenai perubahan iklim di Bali 3 - 14 Desember 2007 lalu guna membahas dampak pemanasan global. Pertemuan ini merupakan pertemuan lanjutan untuk mendiskusikan persiapan negara-negara di dunia untuk mengurangi efek gas rumah kaca setelah Protokol Kyoto kadaluarsa pada tahun 2012.

Apa itu efek gas rumah kaca (green house effect)?

Pada dasarnya kehidupan di bumi ini eksis karena adanya efek gas rumah kaca atau dengan kata lain kehidupan di bumi tidak akan pernah ada tanpa jasa efek gas rumah kaca. Sejatinya, efek rumah kaca merupakan proses alami yang terjadi sehingga memungkinkan kelangsungan hidup bagi semua makhluk di bumi. Tanpa adanya gas rumah kaca, seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), atau dinitro oksida (N2O), suhu permukaan bumi akan berkisar -33 derajat Celcius.
Energi dari matahari memacu cuaca dan iklim bumi serta memanasi permukaan bumi; sebaliknya bumi mengembalikan energi tersebut ke angkasa. Gas rumah kaca pada atmosfer (uap air, karbondioksida dan gas lainnya) menyaring sejumlah energi yang dipancarkan sekaligus menahan panas seperti rumah kaca. Tanpa efek rumah kaca alami ini maka suhu akan lebih rendah dari yang ada sekarang dan kehidupan seperti yang ada sekarang tidak mungkin ada. Jadi gas rumah kaca menyebabkan suhu udara di permukaan bumi menjadi lebih nyaman sekitar 60°F/15°C. Rumah kaca adalah analogi atas bumi yang dikelilingi gelas kaca. Panas matahari masuk ke bumi dengan menembus gelas kaca tersebut berupa radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang. Namun, panas yang seharusnya dapat dipantulkan kembali ke angkasa menyentuh permukaan gelas kaca dan terperangkap di dalam bumi. Layaknya proses dalam rumah kaca (green house) di pertanian, ruangan kaca memang berfungsi menahan panas untuk menghangatkan/menstabilkan suhu dalam rumah kaca.

Secara ringkas efek rumah kaca dapat kita analogikan dengan sederhana. Sudah pasti diantara kita sudah pernah merasakan bagaimana ketika pertama kali memasuki sebuah mobil yang diparkir di tempat yang panas. Suhu di dalam mobil akan terasa lebih panas daripada suhu di luar, karena energi panas yang masuk ke dalam mobil terperangkap di dalam dan tidak bisa keluar. Pada kondisi yang normal, efek gas rumah kaca adalah baik karena dengan demikian bumi akan menjadi lebih hangat dan dapat menjadi tempat hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Tanpa efek gas rumah kaca, bagian bumi yang tidak terkena sinar matahari akan menjadi sangat dingin seperti di dalam freezer kulkas kita (-200C). Sejarah terbentuknya bumi hingga bisa ditempati oleh manusia seperti saat ini sebenarnya tak lepas dari jasa efek gas rumah kaca.

Kalau begitu, mengapa efek gas rumah kaca begitu sangat ditakuti? Mengapa efek gas rumah kaca menjadi masalah global? Mengapa efek gas rumah kaca sampai menyentuh ranah politik dunia?
Masalah kemudian yang timbul adalah ketika terjadi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca pada atmosfer bumi. Mengapa konsentrasi gas rumah kaca bertambah? Peningkatan konsentrasi gas ini diduga kuat karena sejak awal revolusi industri, konsentrasi CO2 pada atmosfer bertambah mendekati 30%, konsentrasi metan melebihi dua kali lipat, konsentrasi asam nitrat bertambah 15%. Penambahan tersebut telah meningkatkan kemampuan menjaring panas pada atmosfer bumi. Para ilmuwan umumnya percaya bahwa pembakaran bahan bakar fosil dan kegiatan manusia lainnya merupakan penyebab utama dari bertambahnya konsentrasi karbondioksida dan gas rumah kaca. Sumber-sumber emisi karbondioksida secara global dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara): 36% dari industri energi (pembangkit listrik/kilang minyak, dll), 27% dari sektor transportasi, 21% dari sektor industri, 15% dari sektor rumah tangga & jasa, 1% dari sektor lain -lain. Sumber utama penghasil emisi karbondioksida secara global ada 2 macam. Pertama, pembangkit listrik bertenaga batubara. Pembangkit listrik ini membuang energi 2 kali lipat dari energi yang dihasilkan. Misalnya, energi yang digunakan 100 unit, sementara energi yang dihasilkan hanya 35 unit. Maka, sisa energi yang terbuang sebesar 65 unit! Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan mengemisikan 5,6 juta ton karbondioksida per tahun! Kedua, pembakaran kendaraan bermotor dan bermobil. Kendaraan yang mengkonsumsi bahan bakar sebanyak 10 liter per 100 km dan menempuh jarak 20 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 4 ton karbondioksida ke udara! Bayangkan berapa ton CO2 yang disumbangkan kendaraan yang masuk ke atmosfer setiap tahun?


Konsekuensi yang kita terima!

Pemanasan global akibat efek gas rumah kaca berdampak langsung bagi kenaikan permukaan laut yang membawa dampak luas bagi manusia; terutama bagi penduduk yang tinggal di dataran rendah, di daerah pantai yang padat penduduk di banyak negara dan di delta-delta sungai. Negara-negara miskin akan dilanda kekeringan dan banjir. Salah satu perkiraan adalah bahwa sekitar tahun 2020 sebagian penduduk dunia terancam bahaya kekeringan dan banjir. Negara-negara miskin akan menderita luar biasa akibat perubahan iklim, sebagian karena letak geografisnya dan juga karena berkurangnya sumber daya alam karena terpakai untuk penyesuaian dengan perubahan dan melawan dampaknya.
Manusia dan spesies lainnya di planet ini sudah menderita akibat perubahan iklim. Proyeksi ilmiah menunjukkan adanya perluasan dan peningkatan penderitaan, misalnya, tekanan panas, bertambah dan berkembangnya populasi serangga yang menyebabkan penyakit tropis baik di utara maupun selatan katulistiwa. Juga adanya bencana kerawanan pangan yang makin meningkat.

Para ahli mengemukakan bahwa panen makanan pokok seperti gandum, beras dan jagung dapat merosot sampai 30% dalam 100 tahun mendatang akibat pemanasan global. Kecemasan bahwa para petani akan beralih tempat olahan ke wilayah pegunungan yang lebih sejuk, akan menyebabkan konversi hutan dan terancamnya kehidupan hayati di hutan dan deteriorasi mutu serta kuantitas suplai air. Penemuan baru ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari rakyat pedesaan di negara berkembang sudah mengalami dan menderita kelaparan dan gizi buruk akut (malnutrisi).

Biaya tahunan untuk menangkal pemanasan global dapat mencapai hingga 300 miliar dollar. Jika pemimpin politik kita dan pembuat kebijakan politik tidak bertindak cepat, ekonomi dunia akan menderita kemunduran serius. Selama dekade lalu bencana alam telah mengeruk dana sebesar 608 milliar dollar.

Apa yang bisa kita lakukan?

Dalam rangka memperingati Hari Bumi ke-38 yang jatuh pada tanggal 22 April tahun ini, kiranya instropeksi dan evaluasi diri sendiri merupakan hal yang relatif lebih bermanfaat dibandingkan dengan keikutsertaan dalam bentuk kegiatan yang seremonial belaka. Apakah kita sudah pernah berperan aktif dalam kegiatan nyata di lapangan? Apakah kita sudah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita? Apakah kita sudah memiliki rencana di masa yang akan datang? Apakah kita akan merubah perilaku dan kebiasaan jelek dan berbalik mengapresiasi lingkungan sekitar kita?
Untuk dapat berperan dalam aksi penyelamatan lingkungan kita sebagai awam tidak perlu harus terlebih dulu mengerti tentang apa itu pemanasan global atau efek rumah kaca atau bagaimana bentuk skim perdagangan karbon (carbon trade) yang sungguh terasa sangat njlimet dan membingungkan! Secara sederhana dan tanpa didukung analisis lingkungan sekalipun terpapar jelas fakta di depan mata dan dapat dirasakan langsung bagaimana bencana ekologis yang semakin rajin menggerogoti dengan intensitas yang lebih besar dan menimbulkan tragedi bagi penghuni bumi.
Bagaimana sebaiknya kita berperan serta sebagai parapihak yang selama ini –sadar atau tidak- menikmati kestabilan lingkungan tempat kita berada? Bagaimana sebaiknya kita mengambil peran tanggungjawab terhadap anomali alam yang semakin kerap bertandang? Tentunya kita tidak akan cepat-cepat mengambil keputusan untuk berpindah rumah hanya karena atap rumah kita banyak yang bocor tapi adalah lebih bijaksana apabila kita segera memperbaikinya.

Gaya Hidup Sebagai Landasan

Fakta menunjukkan bahwa kondisi genting dari bumi kita sekarang ini lebih disebabkan oleh konsumsi berlebihan, bukan oleh 80% penduduk miskin di 2/3 belahan bumi, tetapi oleh 20% penduduk kaya yang mengkonsumsi 86% dari seluruh sumber alam dunia. Keutuhan lingkungan yang nyata hanya akan dicapai dengan upaya terpadu dari semua pihak. Krisis lingkungan pada dasarnya adalah krisis nilai. Kita membutuhkan suatu model sikap untuk melihat dunia secara berbeda. Lepas dari perubahan-perubahan yang ada kita dapat mulai dari gaya hidup kita sebagai landasan, hal ini penting karena kita bekerja demi mengubah kebijaksanaan pada level nasional bahkan internasional.

Pada kesempatan ini, sah-sah saja kalau kita berpikir secara global tapi kemudian bertindak secara lokal! Bukan sebaliknya bertindak secara global namun berpikiran lokal!
Untuk menyambut dan merayakan (tentunya dengan keprihatinan) hari bumi ke-38 yang jatuh pada 22 April 2008, tentunya akan lebih bermakna bila diikuti dengan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Secara pribadi dan dalam komunitas masyarakat kita dapat mempraktekkan hal-hal berikut: mendaur ulang segala yang dapat didaur ulang: plastik, kupasan buah segar dan sayur mayur, kertas dan kardus, gelas dan kaleng. Belajar dan mulailah dengan membuat kompos menjadi pupuk alam untuk tanah. Mendorong industri kerajinan untuk menjalankan tanggungjawab bagi daur ulang bahan-bahan sisa dan alat-alat elektronik.
Hemat dalam menggunakan air, mengurangi pembakaran barang-barang yang tidak dapat didaur ulang, mengurangi emisi CFC dan emisi pengganti CFC dengan tidak menggunakan aerosol dan menggunakan energi efisien, mengurangi penggunakan listrik dengan menggunakan lampu hemat energi.
Mengingatkan pemerintah setempat akan komitmen mereka untuk mendaur ulang dan mengurangi pemborosan serta mempertahankan hukum daur ulang dan pemborosan agar tetap relevan. Mengingatkan otoritas setempat untuk memelihara listrik dan menggunakannya dalam sistem yang efisien. Mengingatkan serta mendukung pemerintah akan komitmen mereka pada deklarasi dan protokol-protokol demi lingkungan hidup.

Selamatkan Hutan

Salah satu sektor yang mendapat perhatian sangat intens dan sekaligus menjadi scapegoat adalah masalah perlindungan dan pengamanan bagi pelestrian hutan yang ternyata tidak hanya sekedar melakukan kegiatan rehabilitasi dan restorasi lahan kritis, pencegahan kebakaran, penanggulangan pencurian kayu dan penyerobotan lahan, dll tapi substansi penyelamatan hutan lebih jauh lagi adalah menyangkut penyelamatan akal sehat dari manusia-manusia egosentrik, hipokrit dan primordialisme sektoral yang cetek. Sekalipun Anda tidak dapat berbuat banyak dalam kampanye ini, tapi tentu saja Anda bisa saja berbuat/bertindak melalui tindakan mencegah timbulnya niat (buruk)/preemptif dengan menjaga akal sehat dan nurani Anda.
Kita bisa berperan serta dan aktif menyelamatkan bumi dengan cara menjaga akal sehat dan nurani!



*) Widyaiswara Balai Diklat Kehutanan P. Siantar
?>

Navigasi

Pilih Bahasa

Sosial Media