Fakultas
Dosen PGSD Universitas Bung Hatta Kembangkan SmartMath Berbasis PBL dan Kearifan Lokal
Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Bung Hatta mengembangkan inovasi pembelajaran matematika melalui SmartMath berbasis Problem Based Learning (PBL) yang terintegrasi dengan kearifan lokal dalam pembelajaran digital. Inovasi ini dikembangkan untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual, bermakna, dan inovatif bagi siswa sekolah dasar.
Penelitian ini dilaksanakan oleh tim dosen PGSD FKIP Universitas Bung Hatta yang diketuai oleh Arlina Yuza, S.Pd., M.Pd. bersama Ade Sri Madona, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Daswarman, S.T., M.Pd. sebagai anggota. Tim penelitian juga melibatkan mahasiswa, Elvita Wahyuni, dalam pelaksanaan kegiatan penelitian.
Uji coba pengembangan SmartMath dilaksanakan di SDN 33 Ikur Koto. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya untuk mengembangkan model dan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan siswa sekolah dasar di tengah perkembangan teknologi digital.
Penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan untuk menghubungkan konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak dengan persoalan dan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Melalui pendekatan Problem Based Learning, siswa didorong untuk aktif memecahkan masalah, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta membangun kolaborasi dalam proses pembelajaran.
SmartMath dirancang dengan memadukan pendekatan PBL, nilai-nilai kearifan lokal, dan teknologi digital dalam satu pengalaman pembelajaran. Integrasi tersebut diharapkan dapat membantu siswa memahami konsep matematika dengan lebih mudah sekaligus mengenal dan mengapresiasi nilai-nilai budaya lokal yang relevan dengan kehidupan mereka.
Ketua Tim Peneliti, Arlina Yuza, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pengembangan SmartMath diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar matematika yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep, tetapi juga pada kemampuan siswa dalam memahami dan menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan nyata.
“Pembelajaran matematika perlu dihadirkan melalui konteks yang dekat dengan kehidupan siswa. Melalui SmartMath, Problem Based Learning dan kearifan lokal diintegrasikan ke dalam pembelajaran digital sehingga siswa dapat belajar matematika melalui permasalahan yang lebih kontekstual dan bermakna,” ujar Arlina Yuza.
Menurutnya, penerapan kearifan lokal dalam pembelajaran juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan nilai dan budaya daerah kepada generasi muda melalui proses pendidikan. Dengan demikian, teknologi digital tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana penyampaian materi, tetapi juga sebagai media untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan lingkungan sosial dan budaya siswa.
Pengembangan SmartMath diharapkan dapat memberikan alternatif inovasi pembelajaran matematika di sekolah dasar, khususnya dalam meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi. Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas sebagai bagian dari penguatan transformasi pembelajaran berbasis teknologi.
Kegiatan penelitian ini memiliki keterkaitan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), dan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui upaya pelestarian dan pengintegrasian kearifan lokal dalam proses pembelajaran bagi generasi muda.