Berita Terbaru
Minggu, 01 Mei 2005
Universitas Bung Hatta
Dosen UBH raih Anugerah Inovasi Teknologi Tepat Guna Sumbar Tahun 2004
Ir. Eddy Susilo, M. Eng dan Ir. Elmy Sundari, MT , dosen Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, berhasil mejadi pemenang Anugerah Inovasi Teknologi Tepat Guna Sumatera Barat Tahun 2004 untuk kategori Perguruan Tinggi dan Lembaga Riset. Penghargaan diserahkan langsung oleh tim pelaksana Anugerah Iptekda Sumbar yang diketuai oleh Dr. Ir. Agusli taher, MS di Gedung Balitbang Sumbar pada Selasa (25/1).
Keduanya berhasil masuk dalam daftar lima pemenang anugerah inovasi teknologi tepat guna dari 50 inovator iptekda 2004. Eddy berhasil membuat mesin perancangan Prototype Pemantau kWh meter jarak jauh. Sedangkan Elmi dengan modifikasi alat penyulingan nilam rakyat. Pemenang lainnya untuk kategori yang sama yakni Ir. Drs. R. Muhammad Enoh serta Ilham dkk dari UNP. Serta Darman Darpesal Dinar dan Teddy Aries Prasetyo dari Politeknik Unand.
Eddy yang merupakan dosen tetap Fakultas Teknik UBH ini, dilahirkan pada 28 Agustus 1962. Ia adalah lulusan University Teknologi Malaysia. Ide pembuatan mesin perancangan prototype pemantau kWh meter jarak jauh tersebut menurutnya timbul dari adanya keluhan masyarakat tentang ketidaksesuaian jumlah energi yang dipakai dengan rupiah yang harus dibayar. Hal tersebut disebabkan karena pencatatan energi selama ini dilakukan secara manual, setelah itu baru dientry ke komputer. Dalam pencatatan seringkali salah. Dilain pihak PLN tidak bisa mengetahui secara langsung berapa energi yang dipakai oleh konsumen.
Untuk itulah, ia merancang prototype kWh meter digital yang dapat menginformasikan jumlah energi yang telah dipakai. Serta tagihan yang telah dipakai serta tagihan yang harus dibayar yang dapat dipantau dari jarak jauh. Alat ini sangat besar manfaatnya sebab dengan menggunakan alat ini , petugas tidak perlu datang ke rumah-rumah untuk mencatat pemakaian listrik pelanggan.
Sistem kerja alat ini yaitu pada kWh meter ditempatkan sensor infra red dan permanen. Energi yang dipakai konsumen akan membuat kWh meter berputar. Putaran kWh meter ini dikonversi menjadi signal-signal digital dan selanjutnya ditransmisikan melalui gelombang radio berfrekuensi 27 Mhz (Transmitter). Pada central ditempatkan sebuah receiver data-data yang terbaca pada kWh meter. Komputer dapat memantau secara langsung energi yang terpakai juga dapat mematikan atau memutus hubungan listrik ke kWh meter. Harga alat ini Rp.3 Juta /unit terpasang.
Sementara itu, Elmi yang menemukan teknologi modifikasi alat penyulingan minyak nilam yang mampu memperbaiki mutu dan meningkatkan rendemen minyak nilam ini, merupakan dosen Fakultas Teknik Industri UBH. Ia lahir pada 6 Juni 1965 dan dibesarkan di Banda Aceh. Pendidikan S1 nya diselesaikan di Teknik Kimia Universitas Syah Kuala dan dilanjutkan dengan S2 di Teknik Kimia ITB Bandung.
Menurutnya, Ide modifikasi ini muncul ketika melihat hasil penyulingan nilam rakyat Sumbar yang bermutu rendah (minyak berwarna coklat tua sampai coklat kehitaman) dan menghasilkan rendemen yang rendah (2,75%). Rendahnya mutu dan rendemen minyak nilam ini disebabkan oleh model, kondisi operasi dan bahan alat penyulingan (drum dengan besi) yang tidak tepat.
Modifikasi yang dilakukan terhadap alat penyulingan rakyat ini adalah memembuat ketel uap terpisah dari ketel suling yang dihubungi oleh sebuah pipa yang dilengkapi dengan katup pengatur. Di dalam ketel suling ditambah sebuah distributor uap, dan alat pendingin yang dirancang dengan pipa melingkar. Bahan yang digunakan untuk ketel suling juga diganti dengan stainless steel. Alat ini mempunyai keunggulan yakni laju uap dan temperatur uap yang akan dialirkan ke dalam unggun dapat diatur, uap dapat terdistribusi sempurna dalam unggun. Pendinginan uap minyak juga lebih sempurna.
Alat ini menurutnya lagi, mampu menghasilkan minyak nilam berwarna kuning cerah dengan rendemen minyak nilam sampai 3,75%. Meskipun harga alat ini lebih mahal dibandingkan alat penyulingan nilam rakyat, namun waktu pemakaian lebih lama, dan mutu serta rendemen lebih tinggi. Harga alat tergantung kapasitas penyulingan. Untuk kapasitas 35 kg daun nilam, harga satu unit alat Rp. 35 Juta. Alat ini juga sangat hemat energi dan dapat digunakan untuk menyuling bahan yang lain tanpa mengalami kontaminasi. (sumber : Ita-Wartawan Haluan)