Dua Pakar Bahasa Dunia Jerman,Hadir di Universitas Bung Hatta Berita Terbaru
Sabtu, 07 Januari 2006
Universitas Bung Hatta

Dua Pakar Bahasa Dunia Jerman,Hadir di Universitas Bung Hatta

Dua orang pakar bahasa dunia Dr. David Gil dan Dr. Uri Tadmor, dari Max Planck Institute Jerman, Sabtu (7/01/2006) kemarin dihadirkan Universitas Bung Hatta (UBH) dalam rangka Seminar dan Lokakarya (Semiloka) kajian linguistik, sastra dan budaya Metodologi dan hasil penelitian mutakhir. Kedua pakar bahasa dunia itu akan membahas Metodelogi Penelitian Perkembangan Penelitian Bahasa Mutakhir, dihadapan 150 peserta Semiloka yang terdiri dari mahasiswa Unand, UNP, IAIN, Balai Bahasa, UBH serta dosen dari sejumlah Universitas dan Perguruan Tinggi (PT) di Sumatra Barat. Rektor UBH Prof. Dr. Yunasar Manjang, ketika membuka kegiatan tersebut mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran Dr. David Gil dan Uri Tadmor dari Max Planck Jerman yang telah berkenan hadir di Kota Padang, khususnya dalam rangka semiloka di UBH. Kehadiran kedua pakar bahasa dunia ini hendaknya bisa dimanfaatkan oleh peserta Semiloka, baik mahasiswa maupun para dosen untuk memperluas wawasan dan pengetahuan tentang perkembangan bahasa yang terjadi. "Berkembangnya sebuah Universitas, disamping kegiatan proses belajar mengajar harus diimbangi dengan penelitian, dan penelitian yang bagus itulah yang merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Dengan digelarnya Semiloka yang menghadirkan dua pakar bahasa Jerman ini, akan berdampak sangat positif lagi bagi universitas. Disamping juga dapat memotivasi bidang studi lain, karena pata umumnya penelitian penelitian masih merupakan hal yang aneh, padahal belajar dan meneliti merupakan hal yang sama, artinya mengajar dan penelitian harus seimbang," kata Yunasar. Sementara Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UBH H. Yusrita Yanti, SS.M.hum menyebutkan, melalui Semiloka sehari ini diharapkan para dosen akan termotivasi untuk melakukan penelitian dan tidak hanya berorientasi pada pengajaran. "Bagaimana mungkin seorang dosen bisa melakukan pengabdian kepada masyarakat sementara dia tidak melakukan penelitian terhadap aspek-aspek budaya dan bahasa yang berkembang disekitarnya," tutur Yusrita. Pengajaran tidak akan otentik kalau para dosen tidak melakukan penelitian, karena tidak akan ada teori teori baru yang bisa diajarkan kalau tidak melakukan penelitian, karena bagaimanapun dari penelitian itulah kemudian akan ditemukan teori-teori baru berdasarkan tesk book dan fakta yang ada. Hasil penelitian tersebut jangan hanya disimpan dalam perpustakaan, tetapi disosialisasikan baik melalui tulisan maupun melalui seminar, sehingga informasi yang didapat dan temuan temuan baru tersebut bisa diketahui oleh semua orang terutama bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Semiloka yang dibuka langsung oleh Rektor UBH itu, diharapkan akan dapat saling berbagi informasi untuk mengkaji aspek budaya dan bahasa lebih lanjut, dan orientasi kita benar benar kepada pengembangan ilmu pengetahuan melalui penelitian, tidak hanya berdasarkan teks book tapi diperkaya dengan temuan temuan yang ada di lapangan. Diakuinya, saat ini para dosen sepertinya enggan melakukan penelitian, sementara dana yang disediakan pemerintah untuk melakukan penelitian tersebut cukup besar tapi tidak dimanfaatkan oleh para dosen," jelas Yusrita Yanti yang juga ikut menjadi pemakalah dalam Semiloka tersebut