Berita Terbaru
Kamis, 09 Desember 2010
Universitas Bung Hatta
Gedung Universitas Bung Hatta Kategori Level HIJAU, Siap jadi Selter Evakuasi Tsunami
Pasca gempa 7.6 SR yang melanda Sumatera Barat 30 September 2009 lalu, disusul puluhan gempa-gempa lainnya, keberadaannya di pinggir laut pun tidak luput dari berbagai kerusakan. Disusul gempa Mentawai 7.2 SR yang terjadi 26 Oktober 2010 lalu, kembali tim investigasi (rapid assesment) bangunan gedung kampus Universitas Bung Hatta yang dibentuk pasca 30 September itu bekerja keras memeriksa semua gedung-gedung di kampus UBH.
Tim yang berasal dari ahli-ahli Fakultas Teknik Sipil Universitas Bung Hatta dan ahli-ahli konstruksi dari ITB segera memeriksa kelayakan gedung perkantoran dan perkuliahan yang rata-rata berlantai 3. Tim tersebut di ketuai oleh Indra Farni yang ber-anggotakan Khadavi ,NH Kresna dan Hendri Warman cukup cepat dengan melibatkan relawan-relawan mahasiswa Teknik Sipil dan Perancanaan Universitas Bung Hatta maupun dari Teknik Industri untuk dibidang arus listrik.
Dari laporan hasil investigasi Tim membagi kriteri level kerusakan bangunan yakni level hijau dengan ciri-ciri bangunan tidak tampak kerusakan atau kapasitas sesmik tidak tanpak penurunan, indikasi kerusakan hanya terjadi retak-retak kecil baik pada dinding maupun tembok,kategori ini aman digunakan.
Kemudian level kuning, level ini buat sementara tidak dapat digunakan, indikasi kerusakan antara lain plester dinding banyak yang mengelupas, eternit berjatuhan, kerusakan ringan pada struktur atap, retak-retak besar pada diagonal tembok/dinding, retak-retak besar antara 2 lubang, retak-retak pada struktur balok, beton,kolom dan struktur dinding, tatpi tidak membahayakan, kerusakan parah pada bagian atap saja.
Ketiga level merah, level ini tidak dapat dipergunakan sama sekali dengan indikasi kerusakan kerusakan parah pada struktur dan elemen gedung, remuk dan tekuknya baja di banyak tempat, struktur dinding rusak berat dan material remuk, sebagian atau seluruh bangunan telah runtuh.
Berdasarkan laporan tim tersebut, semua gedung kuliah UBH termasuk kedalam level hijau dan aman untuk digunakan. Berdasarkan itu juga Wakil Rektor I UBH Dr Ir Eko Alvares Z, MSA menyebutkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait keterlibatan UBH dalam mitigasi bencana.
"Dua gedung yang akan diperkuat dan dijadikan selter tsunami adalah gedung G (Laboratorium Teknik Sipil) dan gedung Perpustakaan, dan di bekas bangunan Gedung D yang telah dirobohkn akan di bangunan gedung baru, sekaligus sebagai selter, " katanya.
Gedung G terdiri dari empat lantai dengan atap dak beton dan struktur bangunan beton bertulang ekspos. Luas setiap lantainya 600 meter persegi dan lantai bagian atas berada 15 meter dari permukaan laut.
Sehari-hari, gedung ini tetap digunakan sebagai laboratorium Teknik Sipil, laboratorium dan jurusan Arsitektur, dan labor komputer serta studio arsitektur.
Sedangkan gedung perpustakaan terdiri dari empat lantai juga, dengan struktur beton bertulang dengan luas setiap lantai 1.200 meter persegi. Lantai paling atas berada di ketinggian 18 meter dari permukaan laut. Sehari-hari digunakan sebagai bank, perpustakaan dan ruang kuliah.
"Kedua gedung itu sangat memungkinkan untuk diperkuat sehingga bangunan bisa berfungsi ganda sebagai sarana dan prasarana pendidikan, sekaligus lokasi evakuasi jika terjadi bencana (tsunami)," jelas Eko Alvares.
Lokasinya mudah diakses, baik oleh mahasiswa, dosen dan karyawan di kampus UBH maupun warga di sekitarnya. "Kedua gedung itu, diperkirakan bisa menampung sekitar 6 ribu orang," katanya.(*)