Gugusan Pulau-Pulau Kecil, Mampu Menghadang Laju Gelombang Tsunami. Berita Terbaru
Rabu, 15 Desember 2010
Universitas Bung Hatta

Gugusan Pulau-Pulau Kecil, Mampu Menghadang Laju Gelombang Tsunami.

Gugusan Pulau-Pulau kecil sepanjang pantai Pesisir Selatan sampai pantai Pariaman, merupakan bentengnya daratan dan mampu mengurangi dampak becana Tsunami jika terjadi. Hal itu di ungkapkan Ir.Yempita Efendi,MS Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, saat acara review Potensi Kawan Konservasi Perairan Pulau Pieh dan sekitarnya, di Pangeran Beach Hotel (15/12), se iring dengan kekuatiran masyarakat akan datangnya bencana tsunami yang hingga kini tetap menyelimuti warga Kota Padang. Menurut dia, gugusan pulau-pulau kecil itu akan mampu memecah gelombang tsunami, dan mengurangi kecepatannya menuju daratan jika hal itu terjadi. Terdapat lima pulau kecil yang letaknya sejajar dalam Kawasan Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan sekitarnya yang akan berfungsi menjadi benteng secara alami jika bencana tsunami terjadi. Kelima pulau tersebut adalah Pulau Bando seluas 7.2 Ha dengan jarak ke daratan Sumatera 27.9 KM, Pulau Pieh seluas 10.7 Ha jarak ke daratan 26.3 Km, Pulau Pandan 4.7 Ha sejauh 14.7 KM, Pulau Air 16.6 Ha jaraknya ke daratan 23.6 Km dan Toran seluas 28.3 Ha, jaraknya kedaratan Sumatera 22.7 KM. Jika bencana stunami terjadi, kelima pulau tersebut bisa berfungsi menghadang kekuatan kekuatan laju gelombang tsunami dan ketinggiannya. Ia berharap adanya perhatian khusus dari pemerintah untuk meningkatkan pengawasan terhadap eksosistim pulau-pulau tersebut, mengingat pentingnya fungsi pulau-pulau tersebut sebagai bentengnya daratan, disamping menjaga terumbu karang di dasar laut, di daratan pun perlu menjaga ekosistim pantai seperti hutan mangrove. Hutan Mangrove terbukti mampu mengurangi dampak gelombang tsunami seperti yang pernah terjadi di Aceh. Pada bagian lain ia mengungkapkan, berdasarkan hasil survey terbaru, kondisi terumbu karang di kawaan taman wisata perairan Pulau Pieh tersebut jauh menurun bila dibandingkan dengan data survey yang pernah dilakukan pada tahun 1994, 1997,2002, 2007 dan data terkini tahun 2010. Menurutnya, saat ini kondisi terumbu karang Pulau Pieh kondisinya 22.84 %, sementara tahun 1994 Pulau Pieh merupakan tutupan terumbu yang paling baik yakni 76%. Pulau Bando 43,45 %, Pulau Pandan 19,32%, Pulau Air 16,66%, Pulau 18,59%. Ia menduga turunnya kondisi terumbu karang di kawasan itu selain bencana alam dan bleaching akibat blooming alga merah yang terjadi tahun 2000, di sinyalir saat ini masih terjadi penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak maupun racun. Untuk itu diperlukan juga perhatian semua pihak untuk meningkatkan pengawasan guna mengatasi penurunan kerusakan tersebut dan merehabilitasi kembali dengan metode-motode yang telah dilakukan di banyak negara.