Berita Terbaru
Minggu, 27 Maret 2011
Universitas Bung Hatta
LUSTRUM VI, RUMAH TIMAH DIBEDAH UNIVERSITAS BUNG HATTA
Ini bukan cerita dongeng, namun sebuah kenyataan. Selama berpuluh-puluh tahun Timah (101 th) bersama seorang anaknya, Ugadang (78) dan cucunya, Kumbang (50) tinggal di pondok yang tidak layak huni, di kelurahan Aia Pacah, Kecamatan Koto Tangah.
Rumah reot ini berada sekitar 200 meter dari simpang By Pass-Aia Pacah atau sekitar 500 meter dari kampus II Universitas Bung Hatta (UBH) Padang. Jika dari Kurao Pagang, maka rumah Timah persis empat rumah dari Mushalla Mukhlisin yang berada di jalan utama Aia Pacah.
Rumah yang semua dinding dan lantai terbuat dari papan itu berukuran 6 x 6 meter. Di bagian depan sebelah kanan terdapat sebuah bilik ukuran 3 x 3 meter. Di bilik inilah, Timah tidur tanpa beralasan apapun alias langsung tidur di papan.
Di pojok bilik itu, tertumpuk beberapa helai pakaian lusuh. Itu bukan pakaian kotor, tapi pakaian bersih yang terpaksa di tumpuk di lantai akibat tidak adanya lemari pakaian.
Samping kiri merupakan ruangan lepas yang disana ada dua kursi lapuk sebagai tempat duduk dan istirahat bagi Timah, Ugadang dan Kumbang. Di dindingnya tertulis Rumah Tangga Miskin dari seng ukuran 20 x 30 cm. Tanpa ditulis rumah tangga miskin pun, orang pasti sudah tahu yang menghuni rumah itu merupakan keluarga miskin.
Setelah ruangan lepas, di belakangnya terdapat ruangan polos yang sebelah kiri dan kanannya saja berdinding. Dinding itupun sudah banyak yang rusak sehingga memiliki rongga yang cukup besar disana-sini. Di pojok sebelah kiri inilah, Ugadang dan Kumbang biasa tidur berjejer, juga tanpa alas.
Ironisnya, sebelah kanan atau tepat di belakang bilik Timah dijadikan ruangan dapur tempat memasak dengan tungku yang abunya berserakan. Karena sudah banyak yang berongga dan bagian belakang tanpa dinding maka dipastikan udara dingin malam akan langsung masuk ke tempat Ugadang dan Kumbang tidur.
Beberapa meter dari belakang rumah terdapat satu sumur tua yang dijadikan keluarga ini sebagai tempat mandi dan mencuci. Tidak beberapa jauh disana ada sebuah bandar kecil yang dijadikan sebagai tempat buang air.
aKondisi model iko alah lamo kami rasoan. Indak tahu sajak bilo tu. Kalo rumah ko tagak, ambo indak tau lo doh. Sajak zaman komunis, rumah amak ambo ko alah ado juo (Kondisi seperti ini sudah lama kami rasakan. Tidak tahu sejak kapan. Kalau rumah ini berdiri, saya tidak tahu pula. Sejak zaman komunis, rumah orang tua saya sudah ada,a ujar Ugadang.
Malahan, ketika ditanyakan kepada tetangga Timah, sang tetangga pun tidak mengetahui secara pasti rumah itu berdiri. aSaya mendirikan rumah disini, rumah itu juga sudah ada. Saya tidak tahu kapan pastinya,a katanya.
Kondisi parah Timah dan keluarga belum cukup hanya sampai kepada rumah tidak layak huni. Untuk makan sehari-hari, keluarga ini berharap dari bantuan orang lain. Malahan, kadang-kadang mereka hanya satu kali makan. Untung saja, saat ini Kumbang yang kakinya cacat mendapat kepercayaan dari seorang warga untuk memelihara seekor sapi yang nanti mendapat imbalan dari pekerjaannya itu.
Penderitaan dari rumah yang tak layak huni ini akan segera berakhir setelah Universitas Bung Hatta membedah rumahnya itu. Rumah itu akan direhab sehingga menjadi layak huni. aMemang ado urang yang datang ka mamelok an rumah ko. Ambo sanang bana, ambo batarimo kasih bana (Menang ada orang yang datang ingin memperbaiki rumah ini. Saya sangat senang, saya mengucapkan banyak terima kasih,a ujar Timah.
Ketika diberitahu bahwa yang akan memperbaiki rumah tersebut adalah Universitas Bung Hatta, Timah mendoakan agar UBH bisa terus berjaya dan memiliki rezki yang berlimpah nantinya. aAmbo doakan supaya UBH tu bisa kayo dan mambatu kami-kami ko yang miskin (Saya doakan agar UBH bisa kaya dan bisa membantu orang-orang miskin,a katanya.(**Perdana Putra, www. harianhaluan.com