Berita Terbaru
Kamis, 27 Maret 2008
Universitas Bung Hatta
Mahasiswa FTI-UBH, Olah Kotoran Ternak Jadi Energi Listrik
Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Muhammad Nizam Ibka menciptakan alat pengolahan kotoran ternak menjadi sumber energi listrik dan dapat dimanfaatkan masyarakat daerah terpencil yang belum terlayani PLN.
Alat itu diciptakan sebagai hasil penelitian laporan akhir mahasiswa tersebut untuk menyusunan skipsi, kata dosen pembimbing penelitian mahasiswa Fakultas Teknologi Industri UBH, Ir Edi Susilo, M.Eng di Padang, Senin.
Ia menjelaskan, alat itu mampu mengolah 13 kilogram kotoran ternak menjadi 122 hingga 143 kilokalori yang mampu menghasilkan sumber energi listrik sebesar 0,0325 Kwh. Alat tersebut terdiri dari satu tempat penampungan kotoran ternak (ukuran terkecil dari drum bekas, red), empat unit mesin motor untuk tenaga memutar dan mengaduk kotoran, beberapa meter pipa besi dan alat kontrol elektronik. Kemudian alat boiler dan turbin generator, tambahnya.
Cara kerja alat dimulai dengan memasukan kotoran ternak ditambah air ke bak penampung yang langsung diaduk secara merata dan terus menerus dengan pengaduk yang diputar dengan tenaga empat motor.
Adukan kotoran dan air akan menghasilkan gas metan yang selanjutnya disalurkan dengan pipa besi untuk memanaskan alat boiler dan menghasilkan tenaga uap.
Tenaga uap selanjutnya digunakan untuk memutar turbin generator yang kemudian menghasilkan sumber energi listrik, katanya. Sumber energi ini bisa dihubungkan ke lampu listrik melalui kabel dan mampu menghasilkan 0,0325 Kwh arus listrik dari pengolahan 13 kilogram kotoran ternak.
Jika kotoran ternak yang dimasukan dan diolah pada tempat mengadukan semakin banyak maka energi listrik yang dihasilkan juga semakin besar, tambahnya. Selain energi listrik, gas metan yang keluar saat pengadukan kotoran ternak dalam bak penampung juga bisa disalurkan untuk memasak dengan dihubungkan pada kompor gas, kata Edi.
Menurut dia, untuk membuat rangkaian peralatan itu dibutuhkan dana mencapai Rp 2 juta. Jika dibuat dan dipakai oleh masyarakat di daerah terisolir, maka mereka akan dapat menikmati energi listrik dengan bahan kotoran dari ternak yang dipelihara masyarakat, tambahnya.
Peralatan ini butuh pengembangan lebih lanjut, khususnya menambah daya tampung bak kotoran yang akan diolah untuk menghasilkan energi listrik lebih besar. Biaya dan tenaga dibutuhkan untuk pengolahan ini tetap meski kotoran ternak yang diolah semakin banyak, kata Edi Susilo. (sumber:antara/mim)