Pembangunan Kampus II UBH Aia Pacah Gunakan Bata Ringan Hebel Berita Terbaru
Selasa, 15 Maret 2011
Universitas Bung Hatta

Pembangunan Kampus II UBH Aia Pacah Gunakan Bata Ringan Hebel

Pembangunan kampus II Universitas Bung Hatta di Aia Pacah yang saat ini dikebut pembangunannya akan menggunakan dinding bata ringan hebel ( beton ringan). Penggunaan bata ringan ini dipilih karena mempertimbangkan kota Padang yang rawan dengan bencana gempa. Dari sisi harga memang penggunaan bata ringan hebel tersebut relatif lebih tinggi. Namun dari segi berat untuk distruktur,hebel lebih ringan dan lebih cepat pengerjaannya. Hal itu diungkapkan Ir. Indra Parni, MT, dosen Fakultas Teknik Sipil Universitas Bung Hatta sekaligus pengawas pembangunan kampus II UBH di Aia Pacah, saat memberikan laporan kemajuan pembangunan kampus II di hadapan dewan pengurus Yayasan Pendidikan Bung Hatta, di ruangan sidang rektor, Selasa (15/3). Ia juga menjelaskan hebel atau bata ringan untuk bahan adonannya antara lain terdiri dari pasir kwarsa, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan alumunium pasta sebagai bahan pengembang (pengisi udara secara kimiawi) . Untuk dinding hebel ukuran lazimnya 20 x 60 x 10 cm, bila dibanding dengan penggunaan bata sebagai dinding jauh lebih cepat dan lebih ringan, untuk bata per-meter perseginya dibutuhkan sekitar 85 buah bata, sementara dengan menggunakan hebel rata per-meter perseginya hanya sekitar 8-9 buah. Menurutnya lagi, batu bata ringan merupakan bahan bangunan yang dihasilkan dengan proses teknologi modern dengan menggunakan mesin a" mesin modern melalui proses aerasi dan autoklaf sehingga menghasilkan produk yang bermutu tingggi, ringan, kuat, tahan api, tahan air dan kedap suara. aBatu bata ringan didesign secara ergonomic dan akurat yang membuatnya menjadi lebih hemat dalam penggunaan semen dibandingkan dengan bahan konstruksi konvensional dan dapat memberi nilai lebih bagi bangunana ujarnya lagi Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta Prof.Dr.Fachri Ahmad,MSc, menyambut baik penggunaan bahan-bahan bangunan yang lebih ramah terhadap bencana tersebut. Menurutnya negara kita termasuk negara rawan gempa. Kampanye pembangunan gedung atau rumah ramah gempa pun harus dilakukan, pembangunan gedung, khususnya rumah atau tempat tinggal, harus memperhatikan kondisi geografis aDengan menggunakan bahan-bahan seperti itu, berarti pihak UBH telah berupaya mengadopsi teknologi dalam membangun gedung yang menggunakan material yang bersifat ringan dan liat (daktail) sehingga lebih ramah dan tahan gempa," ucap Fachri.