Berita Terbaru
Selasa, 06 November 2007
Universitas Bung Hatta
Sarjana Kelautan, Lebih Berharap Jadi PNS
Tidak banyak perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Perikanan dan Kelautan yang diharapkan sebagai salah satu yang mengajarkan keseimbangan antara kelautan dan daratan, sehingga sejak zaman Belanda mulai dari SD sampai ke jajaran yang lebih tinggi lebih banyak mengajarkan tentang pertanian, perkebunan, kehutanan dan perekonomian. Sehingga perekonomian berbasiskan kelautan terkesampingkan, sehingga tidak ada keseimbangan antara pembangunan kelautan dan daratan. Universitas Bung Hatta (UBH) yang memiliki Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan diharapakan sebagai salah satu ujung tombak untuk dapat mengubah sistem tersebut.
Demikian disampaikan Mayjen Marinir Nono Sampono pada kuliah umum tentang Kelautan di Aula Gedung B, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,UBH (Senin, 4/11-07). Hadir segenap pimpinan UBH dan Dekan Fakultas dilingkungan UBH, Walikota padang Drs. H.Fauzi Bahar,M.Si, Danlantamal Teluk Bayur serta sivitas akademika UBH.
Dikatakannya, Sumberdaya Manusia Indonesia bidang kelautan dan perikanan masih sangat lemah dan sangat kurang sekali. Hal ini mengingat eksistensi Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan yang terbesar di dunia dengan luas laut 5,8 juta kilometer persegi dan dengan jumlah pulau sekitar 17.504 buah yang dikelilingi oleh garis pantai sepanjang 81.000 km. Dan lagi pula, sejak dari dulu kita mengklaim bahwa nenek moyang kita adalah orang pelaut.
Nono Sampono juga mengatakan, disitulah salah satu kelemahan kita,potensi laut begitu besar, tetapi tidak terkelola dengan baik dan benar. Jika hal itu terkelola dengan benar dapat membayar utang luar negeri Indonesia, itupun baru hasil penangkapan ikan, padahal banyak potensi kelautan lain yang nilainya puluhan triliun.
Diungkapkan Nono, persoalannya kemudian adalah bagaimana mendorong pembangunan kelautan nasional dalam rangka memanfaatkan peluang dan mengeliminasi ancaman dari perubahan-perubahan yang tengah berlangsung. Ini tentu menuntut perubahan dalam arah dan strategi pembangunan kelautan dan perikanan yang berbeda dengan apa yang telah dilakukan selama ini.aJika kita tidak memanfaatkan potensi kelautan tersebut dan mengubah paradigma, berarti kita masih meneruskan kelemahan-kelemahan dan kesalahan itua ujar Mayor Jendral Marinir itua.
Ir.Yempita Efendi,MS yang memandu kuliah umum tersebut mengatakan, aRendahnya sumberdaya manusia sektor kelautan dan perikanan dapat dilihat dari tingkat pendidikan yang bekerja disektor ini 64,40 % tidak tamat SD dan lulusan Perguruan Tinggi hanya 0,09 persena. Saat ini perguruan tinggi memiliki disiplin Fakultas Perikanan dan Kelautan baru hanya 5 perguruan tinggi negeri dan 1 swasta yakni Universitas Bung Hatta Padang ( PTS), Universitas Riau, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Universitas Samratulangi dan Universitas Hasanudin.
Setiap tahunnya di hasilkan ratusan lulusan di seluruh Indonesia, mereka ini adalah tenaga-tenaga kerja yang siap terjun ke dunia kelautan dan perikanan. Namun serapan dunia kerja kian terbatas.
Yempita juga mengatakan , lulusan tenaga ahli kelautan atau sarjana dibidang kelautan dan perikanan dari 12 universitas itu baru sekitar seribu orang lebih pertahun dan itu pun tidak semuanya menerjuni bidang yang cukup menjanjikan ini.
Kebanyakan lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan itu, tambahnya, lebih berharap menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga cukup banyak yang menggeluti profesi lain walaupun tidak sesuai dengan dasar ilmu keahliannya. Lulusan PT memang mengharapkan pekerjaan yang layak sesuai tingkat pendidikan dan bidang keahlian, tetapi cukup terbatas yang bisa bekerja dengan memanfaatkan keahlian menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. aBanyaknya lulusan PT Perikanan dan Kelautan yang lebih memilih profesi lain dari pada mengolah sumbar daya kelautan. Hal itu, berkaitan dengan pola pikir yang keliru tentang bidang kajian ilmu yang ditekuninyaa. Imbuhnya mengakhiri.(Indrawadi)