Berita Terbaru
Jumat, 19 Agustus 2011
Universitas Bung Hatta
Serba-serbi KKN-PPM UBH: IBU SOFIATI INGIN MERUBAH NASIB DENGAN SAMPAH
Sampah sangat mengganggu bagi kenyamanan dan lingkungan hidup, namun hal itu tidak berlaku bagi Ibu Sofiati, warga Kenagarian Tepi Selo Lintau Buo Utara Tanah Datar. Sampah plastik yang tadinya tidak dihiraukan, bisa diubah hingga mempunyai nilai ekonomis.
Ibu Sofiati (38), dikunjungi mahasiswa UBH yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pada Masyarakat (KKN-PPM) yang berposko di samping surau Tuanku Lintau Kenagrian Tepi Selo, karena Rega (9th) putri ibu Sopi panggilan seharinya-harinya adalah salah satu siswa yang mengikuti pelajaran tambahan yang di adakan oleh mahasiswa KKN-PPM Universitas Bung Hatta.
Dalam kunjungan kerumah ibu Sopi tersebut, mahasiswa dikejutkan dengan pemandangan yang indah, bagus dan unik, setiap sudut ruangan rumah itu dipenuhi oleh bunga-bunga. Dan yang lebih mengagetkan lagi, ternyata bunga-bunga plastik tersebut dibuat sendiri oleh empunya rumah dari beraneka macam sampah.
Seperti yang diceritakan Roza Fitria Wati, Mahasiswa Manajemen Fak.Ekonomi UBH dalam akun facebook aPosko KKN-PM Universitas Bung Hattaa. Rangkain bunga-bunga yang disusun ibu Sopi itu sangat rapi dan seperti dibuat oleh orang-orang yang memiliki keahlian khusus.
aKami kaget, ternyata bunga-bunga itu adalah buatan ibu Sopi sendiri, dan baru 2 bulan belakangan ini dimulainyaa ujar Ojha panggilan sehari-hari Roza.
Menurut Ojha, dalam kunjungan itu, ibu Sopi menceritakan bahwa, ketika ia baru pulang dari balai (pasar-red) banyak kertas dan sampah-sampah plastik yang dibuang dan merusak lingkungan, ia berpikir kenapa sampah-sampha itu tidak dimanfaatkan saja menjadi sesuatu yang berguna.
Karena dirumah, ibu Sopi tidak mempunyai pekerjaan, waktu luangnya dimanfaatkan dengan membuat aneka bunga-bunga dari sampah-sampah tersebut. Bunga-bunga buatan ibu Sopi itu ternyata mendapat pujian dari tetangga-tetangganya, sejak itu pula ia mencoba memanfaatkan sampah-sampah lainnya seperti timah rokok, kapas kosmetik, kertas krep, botol aqua, botol aqua gelas, kertas sarbet, sabun, daun kelapa, dan semua sampah yang bisa diolah dan disulap menjadi bunga yang sangat indah oleh ibu Sopi. aWow.. sangat mengangumkana, ujar Ojha.
Ojha menambahkan, bunga-bunga dari sampah buatan ibu Sopi tersebut, laku dijualnya antara Rp.30 ribu sampai Rp.100 ribu, yang dibeli oleh teman-temannya dan warga sekitar.
Ibu Sopi biasanya akan merangkai bunga jika ada pesanan, satu bunga biasanya siap dalam satu hari paling sampai satu minggu, tergantung jenis bunga yang dipesan dan bahan-bahannya, pelayanan yang diberikan ibu Sopi pun sangat memuaskan orang yang memesan, kalau ada satu warga mengatakan bunganya kurang rapi, maka ia akan merangkai ulangnya kembali.
Ibu Sopi berasal dari keluarga yang sangat sederhana, selain sebagai ibu rumah tangga dari ke empat anak-anaknya, pekerjaan sehari-harinya membersihkan kebun sekeliling rumah dan kadang-kadang kepasar membantu suaminya berjualan ikan hasil tangkapan dari kolam ikan sendiri atau dibelinya dari kolam ikan warga.
Selain sebagai penjual ikan, suaminya juga bekerja sebagai petani penggarap ladang dan perkebunan milik warga serta menggarap perkebunan pualam (pupuk alam).
Ke empat anak-anak ibu Sopi semuanya laki-laki, yang sulung Candra (22th) saat ini sedang menuntut ilmu di Pesantren Thawalib Padang Panjang, kemudian Rafli (15th) tidak bersekolah dan membantu perekonomian keluarga sebagai tukang ojek, adik Rafli yaitu Rega (9th) siswa kelas 3 SD dan si bungsu Rindu (6 th), kelas 1 Sekolah Dasar. Semua anak-anak ibu Sopi yang sedang sekolah mendapatkan bantuan dan beasiswa dari sekolahnya.
Ojha menambahkan,rumah tempat tinggal ibu Sopi sangat sederhana dan belum dialiri listrik, mereka masih menggunakan penerangan dari lampo togok.
Ibu Sopi berharap, ada pihak-pihak yang bisa membantu atau memberikan modal untuk mengembangkan usahanya merubah sampah menjadi rupiah, dan dengan itu ia ingin merubah nasibnya dengan sampah. Ia tidak mau meminjam modal dan berhutang, karena takut tidak akan mampu mengembalikannya.
Sampah-sampah yang dijadikannya sebagai bahan baku sekarang, adalah sampah-sampah yang dikumpulkannya sendiri, dan ia juga tidak mau meminta kepada orang lain, karena ibu yang tidak tamat SMP ini juga tidak mau menyusahkan orang lain.
Untuk mengembangkan usaha kerajinan dari sampah tersebut, mahasiswa KKN-PPM Universitas Bung Hatta menyarankan untuk dibuat Bank Sampah dirumahnya, warga bisa menjual sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan, dan sampah-sampah itu akan bisa menjadi rupiah bagi ibu Sopi untuk memperbaiki perekonomian keluarganya.
Mahasiswa juga mengharapkan agar pemerintah atau pihak-pihak lain dapat mendukung usaha tersebut, berupa bantuan dana, karena mereka sangat membutuhkan bantuan dana untuk mengembangkan usaha kerajinan tangan tersebut. "Kami mahasiswa juga akan mempromosikan kerajinan sampah menjadi rupiah ini dimanapun berada," tambahnya Ojha.
Sebagai salah seorang yang bisa dikatakan sebagai motivator lingkungan, dengan usahanya merubah sampah menjadu bunga plastik. Para Mahasiswa KKN-PPM UBH berharap agar pemasaran kerajinan tersebut bisa lebih luas lagi. "Kami ingin pemasarannya lebih luas lagi dan harapan saya kepada pemerintah agar dapat memperhatikan usaha kerajinan tangan ini, kami ingin lebih besar lagi tapi mereka membutuhan danaa, tutup Ojha. (Roza Fitria Wati-Indrawadi)