Berita Terbaru
Selasa, 08 Juli 2008
Universitas Bung Hatta
UBH akan Kukuhkan Profesor Ikan Bilih
Sumatera Barat (Sumbar) segera memiliki profesor ahli ikan bilih (ikan spesifik di habitat Danau Singkarak) pertama di dunia dengan akan dikukuhkannya Profesor Dr Ir Hafrijal Syandri MS sebagai guru besar di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Bung Hatta (UBH). Pengukuhan tersebut akan dilaksanakan dalam rapat senat luar biasa UBH di Padang, Sabtu (12/7) nanti kata Rektor UBH Prof Dr Yunazar Manjabg di ruang kerjanya, Senin(7/7/08).
Pada acara itu juga dikukuhkan Profesor Dr Ir H Nasfryzal Carlo M.Sc sebagai guru besar pada Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UBH, tambahnya. Dengan kegiatan itu, maka UBH untuk pertama kali mengukuhkan dua guru besar bergelar profesor, sejak kampus swasta terbesar di wilayah Korpertis XI (Sumbar, Riau, Jambi) itu berdiri tahun 1981.
Profesor Dr Ir Hafrijal Syandri MS dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu pengelolaan perikanan perairan umum dan teknologi reproduksi ikan pada Fakultas Perikanan dan kelautan Universitas UBH.
Sedangkan Profesor Dr Ir H Nasfryzal Carlo M.Sc dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu rekayasa linkungan dan pengolahan limbah pada Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UBH.
Pada acara pengukuhan tersebut, Profesor Dr Ir Hafrijal Syandri MS menyampaikan pidato pengukuhan berjudul "Ancaman terhadap plasma nutfah ikan bilih (Mystacoleusus padangensis Blkr) dan upaya pelestariannya di habitat Danau Singkarak".
Kemudian, Profesor Dr Ir H Nasfryzal Carlo M.Sc menyampaikan pidato pengukuhan berjudul "Pembangunan berkelanjutan dan etika lingkungan serta dampak pemanasan global".
Ikan Bilih
Profesor Dr Ir Hafrijal Syandri MS merupakan peneliti perikanan yang meneliti perkembangan ikan spesifik Bilih Danau Singkarak yang terancam punah sejak beberapa tahun lalu.
Ikan khas ini merupakan sumber mata pencaharian nelayan Danau Singkarak yang terletak di Kabupaten Solok dan Tanah Datar, namun populasi terus menyusut dan ukurannya semakin kecil.
Tahun 1988 panjang rata-rata ikan bilih yang ditangkap adalah sekitar 19 sentimeter, namun dari kajian tahun 2002 memperlihatkan bahwa panjang rata-rata ikan bilih tinggal enam sentimeter, begitu pula populasinya yang kian sulit ditemui.
Merosotnya populasi ikan bilih antara lain diduga disebabkan dampak penggundulan hutan di sekitar Danau Singkarak dan dampak dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Selain itu, juga disebabkan ruaya (migrasi) ikan bilih berikut lokasi pemijahan dan tempat pembesarannya, serta jumlah dan jenis alat tangkap yang dipakai para nelayan danau.
Jumlah alat tangkap ikan bilih jenis jaring langli di Danau Singkarak meningkat drastis dari tahun ke tahun. Pada 1908 diketahui hanya ada 50 jaring ini di Danau Singkarak kini meningkat tajam hingga 900-an unit.
Akibanyka, ikan bilih yang tertangkap beragam mulai dari yang kecil hingga induknya dan menyebabkan terganggunganya perkembang biakan ikan tersebut dan mengancam kepunahan spesies khas itu.
Terkait ancaman tersebut, Profesor Dr Ir Hafrijal Syandri MS melakukan penelitian bertahun-tahun di Danau Singkarak dan sekitarnya untuk melihat ancaman terhadap plasma nutfah ikan bilih dan upaya pelestariannya di habitat aslinya. (sumber : antara-sumbar.com)